Berita Hari Ini
print this page
Berita Terbaru

Jihad Afghanistan

BERSAMA SYAIKH SALAFIYYIN DI AFGHANISTAN

Oleh : Syaikh Utsman ‘Abdus Salam Nuh

Majalah ”al-Mujahidun” mengobservasi lisaanu haal (kenyataan lapangan) dakwah salafiyyah dengan mengadakan wawancara bersama Syaikh Jamilurrahman rahimahullahu dan bertanya kepada beliau dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

Pertanyaan : Mereka mengatakan bahwa jama’ah ini (Jama’ah ad-Da’wah ilal Qur’an was Sunnah, pent.) hanya memperhatikan masalah dakwah saja dan melalaikan jihad serta tidak mengadakan persiapan yang memadai untuk melaksanakan kewajiban ini?

Syaikh Jamil : Tuduhan tersebut tidak benar. Jama’ah ini –bifadhlillah- merupakan jama’ah pertama yang melaksanakan kewajiban jihad. Mereka para mujahidin dan seluruh rakyat Afghanistan, apabila mereka mau bersikap adil dan fair maka seharusnya mengakui bahwa jama’ah kami inilah yang pertama kali memulai jihad. Dan bahwasanya, para syuhada’ di dalam jihad ini yang pertama kali adalah orang-orang yang berintima’ (condong) kepada jama’ah kami, dan mereka (para syuhada’) ini adalah dari kalangan para thullabatil ‘ilmi (pelajar). Diantara mereka ada al-Akh Habibullah, al-Akh Ma’shum dan al-Akh Saidurrahman. Desa pertama yang dihanguskan di jalan Alloh adalah desa kami “Nanjilam”. Telah dimaklumi, bahwa di setiap negeri terutama di negeri ini, selalu saja ada kejahilan besar di tengah-tengah kaum muslimin, dimana aqidah mereka bercampur dengan sisa-sisa watsaniyyah (paganisme) dan mazhohir (simbol-simbol) kemusyrikan. Jika kami tidak meluruskan aqidah para pejuang mujahidin, maka perjalanan jihad mereka akan dikepung dengan berbagai bahaya dan dikhawatirkan tidak akan pernah sampai kepada cita-cita mereka. Adapun jihad kami yang tidak pernah disebut-sebut orang maka kami tidak pernah berupaya supaya jihad kami disebut-sebut manusia. [selesai]

Saya mengatakan : Syaikh Jamil sedang mengisyaratkan ucapannya pada ‘penggelapan’ disengaja yang dilakukan media al-Ikhwan dan para khuthoba’ (penyeru)-nya hanya karena beliau tidak mengikatkan pemikiran beliau kepada para pemimpin al-Ikhwan dan hal ini menurut mereka lebih besar dosanya daripada dosa mensekutukan Alloh. Padahal sangat mungkin mereka memuji-muji shufiyah dan syiah serta beraliansi dengan mereka, namun mereka tidak mau menerima orang yang menyelisihi manhaj mereka walaupun orang itu adalah seorang muwaahid. Jika tidak, lantas apa rahasia dibalik penyembunyian ma’lumat (informasi) ini dari kaum muslimin?! Bahkan menurut timbangan anda, dimanakah sikap keadilan itu?!

Setahuku, timbangan yang benar untuk kita utamakan manusia dengannya adalah –yang pertama kali sekali- keselamatan aqidah dan wala’ (loyalitas) serta dakwah kepadanya. Namun saudara-saudara kami dari harokiyyin menjadikan timbangan penentu dalam hal ini adalah kepeloporan di dalam jihad. Mereka berdalil dengan perbuatan para sahabat yang mana telah shahih riwayat bahwa jika mereka ingin memuji mereka akan mengatakan“ia pernah mengikuti perang ini dan ini”.

Mereka lupa bahwa para sahabat tersebut tidak ada seorangpun yang beraqidah syirik. Bahkan mereka seluruhnya tegak di atas aqidah shahihah. Oleh karena itu, pengutamaan mereka berpindah kepada kuantitas banyaknya amalan. Adapun zaman sekarang ini, dunia dipenuhi oleh shufi, khurofi, syi’i, asy’ari dan firqoh-firqoh sesat lainnya, sehingga peremehan masalah aqidah melampaui masalah lainnya.

Seandainya keadaan memaksa, taruhlah misalnya bahwa jihad itu digerakkan oleh orang syi’ah shufi quburi, lantas apakah kita akan mengutamakan mereka lebih daripada seorang salafi yang datang setelah mereka setahun atau dua tahun?! Demi Alloh, tidak akan menghukumi seperti ini seorang yang mengetahui perbedaan antara syirik dan tauhid, bahkan seandainya salafi tersebut tidak turut berjihad, maka ia tetap lebih utama ketimbang seorang yang jatuh kepada kesyirikan dan berjihad!!!

Rakyat Afghanistan mengakui, bahwa para Mujahidin di wilayah Kunar di bawah pimpinan Jamilurrahman telah jauh mendahului semua wilayah lain di dalam jihad. Pengakuan tersebut didasarkan pada bukti-bukti dan sumber-sumber dari jama’ah-jama’ah lain. Maka sungguh komandan Jamilurrahman, beliau memiliki keutaman dari segala timbangan : aqidah beliau lurus dan beliau adalah pelopor di dalam jihad. Namun ‘pengkhianatan’ tak termaafkan yang beliau lakukan adalah : beliau tidak menganut manhaj al-Ikhwan. Maka beliau dihukum oleh media massa ikhwaniyah dengan menghilangkan namanya dan menguburkan jasa-jasa beliau di bawah bumi yang ketujuh. Sementara itu mereka menginformasikan semua pemimpin dari berbagai partai beserta komandan-komandannya di medan tempur, yaitu para para pemimpin dan komandan yang berhaluan ikhwaniyah.

Tapi mereka tidak pernah menyebutkan satupun pemimpin salafiyyah bagaimanapun juga keadaan mereka. Dengan perbuatan ini, mereka masih saja mengklaim bahwa mereka adalah golongan salaf yang memahami hak-hak aqidah berupa al-Wala’ wal Baro’, pertolongan dan dukungan. Padahal sesungguhnya mereka tidak mengerti apapun melainkan hanya sentimen kepartaian hizbiyah ikhwaniyah!!!

Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam ghofarollahu lahu mengatakan :
“Dan timbangan keutamaan sekarang ini antara Afghanistan (dengan negeri lainnya) adalah bilangan tahun yang telah dihabiskannya di dalam medan peperangan. Tiada seorangpun sebesar apapun upayanya di dalam menghalang-halangi jihad yang bisa mengingkari jasa jihad Ahmad Syah Mas’ud, Jalaludin Haqqoni, Maulvi Arselan, Farid, Ir. Basyid Ahmad dan Ir. Zhia` (Herat).” (Khidhamul Ma’rokah hal. 116 karya Syaikh ’Abdullah ’Azzam).

Saya katakan : Memang tak ada seorangpun yang dapat menolak jasa-jasa jihad mereka ini, namun (perlu diingat) hanya karena sentimen hizbiyyah, seseorang dapat mengingkari orang yang lebih dulu dari mereka (di dalam jihad), bahkan beliau adalah mujahid pertama di seluruh Afghanistan. Jika bukan karena sentimen hizbiyyah, lalu mengapa kita dapat menemukan pengakuan dalam media-media massa lainnya bahwa Syaikh Jamil rahimahullahu adalah mujahid pertama namun tidak kita dapatkan penyebutan diri beliau di dalam media-media ”Maktab al-Khidmat” [Lembaga bantuan jihad yang dipimpin Syaikh ’Abdullah ’Azzam rahimahullahu, pent.]

Bagaimana Kita Mengetahui Kebenaran?
Adapun jihad di Afghanistan dimulai dari wilayah Kunar di bawah kepemimpinan Syaikh Jamilurrahman, dan ini merupakan kebenaran yang dikenal luas di Afghanistan sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh Jamil rahimahullahu sebelumnya. Namun media informasi kami amatllah lemah sedangkan jama’ah al-Ikhwan memiliki media massa yang amat baik, metode penyiaran yang amat menarik dan memukau. Dengan media itulah mereka berhasil mencemarkan berita tentang syaikh rahimahullahu di hadapan para pemuda Arab bahkan juga di hadapan para salafiyyin. Patut disayangkan memang, padahal keadilan harus ditegakkan bahkan terhadap seorang kafir sekalipun (harus tetap berlaku adil).

Sungguh demi Alloh, saya amat heran melihat keberanian dan kelancangan para pemuda tersebut terhadap para pemimpin salafiyyin. Alangkah mudahnya mereka menuduh para pemimpin tersebut dengan tuduhan-tuduhan bohong dan dusta, sekurang-kurangnya mereka menuduh dengan tuduhan ta’ashshub (fanatik) dan tasyaddud (radikal). Tuduhan tersebut keluar dari mulut-mulut mereka semudah tumpahnya setetes air dari sebuah ember, terutama saat wajah mereka padam dan urat leher mereka menggelembung jika saya katakan kepada mereka, ”pemimpin Fulan, yang kalian berperang bersamanya dan mendukung perjuangannya, aqidah apakah yang dianutnya?!”.

Kalau sekedar pertanyaan seperti ini, tidak akan membawanya kepada para pemimpin yang termasyhur di media massa itu, maka kami harus membahas masalah ini dari sumber-sumber independen yang tidak memihak agar kesaksiannya dapat diterima para pembaca sehingga dapat menempatkan permasalahan sesuai pada proporsinya, dan agar para pembaca dapat menjadi hakim untuk menilai pengakuan-pengakuan yang diucapkan oleh setiap aliran.

Kesaksian Datang Dari Mereka Sendiri
Majalah ”Al-Mujahidun” yang diterbitkan Jam’iyyah Islamiyyah – Robbani, memuat artikel tulisan DR. Muhammad Musa Tawana pada edisi no. 17 Februari 1989 dengan judul ”Nahdhoh Afghanistan al-Islamiyyah – Mudzakkarat DR. Muhammad Musa Tawana” (Kebangkitan Islam Afghanistan – Catatan Harian DR. Muhammad Musa Tawana). DR. Tawana berkata –dan beliau adalah salah seorang pembesar Jam’iyah Islamiyyah- :

، ”Dan kami ketika itu sedang mencari metode untuk bangkit melaksanakan jihad bersenjata yang telah dimulai sebelumnya selama beberapa waktu di propinsi Kunar. Dan saya tahu persis bahwa dua orang saudara, al-Ustadz Rabbani dan Fadhilatus Syaikh Mujaddidi telah bersusah payah untuk memulai aktivitas mendirikan front ini, dan Syaikh Mujaddidi telah sampai ke Peshawar untuk misi ini.”

Saya berkata : Dari nukilan di atas telah menjadi jelas bahwa ketika partai-partai lain masih sedang berunding tentang perkara jihad bersenjata maka jihad ini telah mulai bergolak di Kunar semenjak beberapa lama di bawah pimpinan Syaikh Jamilurrahman rahimahullahu.

Seorang komandan lapangan Mujahidin bernama Zhahir Khan –pemimpin tertinggi partai Jam’iyyah Islamiyyah di propinsi Kunar- mengatakan kepada saya bahwa Syaikh Jamilurrahman dan Syaikh Ghaniyullah pernah menawarkan kepadanya ide jihad bersenjata semenjak masa pemerintahan Dawud. Mereka berbicara kepadanya tentang kebobrokan rezim Dawud dan perlunya jihad, ia mengatakan :

”Pada awalnya saya tidak menyetujui permintaan mereka, lalu akhirnya saya tahu bahwa ucapan mereka adalah benar.”

Apa yang disebutkan oleh Syaikh ’Abdullah ’Azzam bahwa gerakan ”Jawanan Muslim” telah memulai jihad pada tahun 1975 di bawah pimpinan Sayyaf, Hekmatiyar dan Robbani ternyata telah lebih dulu didahului selama 2 tahun oleh Jama’ah ad-Da’wah yang memulai jihad pada tahun 1973, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Artinya, selama 2 tahun itu, Jama’ah ad-Da’wah berupaya membangkitkan jihad di wilayah-wilayah lain. Lagipula, jihad yang dimulai oleh para mahasiswa gerakan ”Jawanan Muslim” hanyalah berupa serangan-serangan di dalam bangku kuliah melawan para mahasiswa komunis yang memang di negeri-negeri Islam belum banyak terjadi serangan-serangan dan perang urat syaraf semacam ini. Lebih khusus lagi, yang melaksanakan perang urat syaraf inipun hanyalah Hekmatiyar, sedangkan Sayyaf belum memulai jihadnya karena ia masih dipenjara bersama yang lain-lain dengan tuduhan membagi-bagikan selebaran gelap. Penahanan itu terjadi tahun 1975 dan ia baru keluar penjara tahun 1981, yang pada saat itu jihad umum telah dimulai dan tersebar luas ke setiap lapisan masyarakat semenjak 3 tahun sebelumnya. Adapun Robbani, ia belum melihat urgennya ide jihad bersenjata, sebab ia masih ingin mencapai kursi kekuasaan melalui cara-cara parlementer, tertipu oleh ide-ide ikhwaniyah.

Surat Kabar ”Asy-Syahadah” yang diterbitkan Hizb Islami (Hekmatiyar) pada edisi nomor 218 tanggal 29 Februari 1990 telah berbicara secara benar yang terang benderang ketika menulis artikel berjudul ”Wilayatu Kunar wa Hukumatu Bisyawar” (Propinsi Kunar dan Pemerintahan Peshawar) yang menyatakan :

”Pada tahun 1352 Hijriyah Syamsiyah penanggalan Afghanistan yang bertepatan dengan tahun 1973, para Mujahidin wilayah Kunar memulai jihad mereka. Yang pertama kali menegakkan jihad di wilayah ini adalah tiga figur : Maulvi Jamilurrahman, Kasymir Khan dan Ir. Wahidullah. Kaum muslimin Afghonistan meniru pengorganisasian jihad mereka dari wilayah Kunar sehingga tersebarlah jihad di wilayah-wilayah lainnya pada tahun 1357. kemudian setelah itu tangsi militer ”Asmar” bergabung dengan Mujahidin. Penggabungan ini menimbulkan pengaruh besar dalam sejarah jihad karena setelahnya banyak terjadi kemenangan-kemenangan militer, hingga sempurnalah pembebasan wilayah Kunar di bawah kekuasaan Mujahidin.”

Inilah ulasan singkat tentang peranan salafiyyin Afghanistan di dalam jihad Afghani.
0 Komentar

Klaim Batil Sang Doktor IM

DR ABDULLAH AZZAM DAN KLAIM JIHAD AFGHANISTAN

Oleh : Syaikh ‘Utsman ‘Abdussalam Nuh

Jihad Afghonistan adalah satu-satunya jihad bersenjata yang disepakati oleh seluruh ulama zaman ini. Yang senantiasa bergema di sekitar DR. Abdullah Azzam adalah klaim yang tak berujung bahwa Ikhwanul Muslimin-lah yang merupakan satu-satunya pelopor dan pemicu pertama jihad tersebut dan mendukungnya dengan harta dan jiwa. Sementara jama’ah-jama’ah lain hanya bisa bersikap pasif. Inilah rahasia mengapa syaikh hanya melambungkan popularitas sebagian mujahidin ke seantero dunia sementara sebagian lainnya ditutup-tutupi peranannya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena manhaj dan ikatan mereka bukanlah manhaj al-Ikhwan.

Kami telah menyebutkan sebelumnya penjelasan hal ini dalam ucapan beliau : ”Yang sangat ingin kujelaskan pada publik adalah bahwa gerakan ikhwanul musliminlah yang menjadi pemicu jihad ini.” Bukan hanya syaikh ’Abdullah ‘Azzam saja yang membuat pengakuan semacam ini. Tatkala jihad Afghanistan mulai meraih kemenangan, setiap jama’ah berbondong-bondong mengklaim memiliki peranan yang besar di dalam menyokong jihad ini untuk dijadikan salah satu sumber kebanggaan dalam sejarahnya dan agar para da’i dan penyerunya dapat menjadikannya sebagai alat kampanye untuk memikat para pemuda dan pendukung jama’ah-jama’ah itu, dan agar masyarakat tahu bahwa dakwah-dakwah lain hanyalah omong kosong belaka tanpa amalan nyata sementara jama’ah mereka memiliki sikap tegas yang disertai dengan berbagai pengorbanan. Bahkan orang syiah sekalipun turut mengklaim bahwa mereka lah yang pertama kali menggerakkan jihad ini!!!


Siapakah yang menggerakkan jihad Afghanistan?

Jawab : Setiap kelompok mengklaim bahwa merekalah yang menjadi penyebab jihad tersebut, tetapi kita dapat mengatakan bahwa rakyat Afghanistan memiliki sejarah yang penuh dengan peperangan dan pertempuran. Sebagiannya bercorak agama dan sebagiannya lagi bercorak nasionalisme. Yang penting, rakyat tersebut memiliki cukup persiapan untuk berperang.

Dulu mereka pernah bangkit menentang kekuasaan Indus (Dinasti Mogul di India, pent.) di bawah pimpinan Syaikh Ahmad Darroni, lalu berperang melawan Inggris pada tahun 1838 di bawah pimpinan Daust Muhammad Khan. Dalam setiap peperangan ini, Alloh memberikan kemenangan kepada mereka. Mereka juga sering melakukan kudeta melawan penguasa, diantaranya kepada Raja Syah Sujak dan membunuhnya di jalan-jalan kota Kabul pada tahun 1839. mereka juga membunuh raja Habibullah Khan pada tahun 1909. pada tahun 1914 mereka memberontak melawan Raja Amanullah, tetapi raja berhasil menguasai pesawat tempur dan tank sehingga pemberontakan tersebut dapat dipadamkan. Mereka memberontak kedua kalinya pada tahun 1928 dan dapat menduduki kota Jalalabad sehingga memaksa Raja mengundurkan diri dari kekuasaannya pada tahun 1929. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa rakyat Afghanistan sendiri memiliki bakat jihad dan revolusi sebelum munculnya kelompok Ikhwanul Muslimin.

DR. Abdullah Azzam memandang bahwa al-Ikhwan lah yang memulai jihad ini pada tahun 1975. beliau mengatakan :


”Saat itu yang menjadi pemimpin gerakan adalah Rabbani, Sayyaf dan Hekmatiyar, lalu diikuti oleh jihad umum dan mobilisasi besar-besaran setelah terjadinya kudeta terang-terangan oleh Komunis yang dipimpin oleh Taraki yang terlupakan pada bulan Desember 1978. para ulama ikut menyerukan jihad dan bergabung di belakang jejak gerakan Islam yang telah mendahului mereka ke medan perang 3 tahun lebih awal.”

Kami katakan sesuai dengan apa yang kami baca, bahwa gerakan yang disebut oleh Syaikh Abdullah Azzam tidak ada hubungannya dengan gerakan al-Ikhwan. Gerakan tersebut adalah gerakan independen. Mereka hanya terpengaruh pemikiran-pemikiran terakhir al-Ustadz Sayyid Quthb dan juga buku-buku al-Maududi. Orang yang merenungkan ucapan anggota gerakan tersebut serta cara mereka bergerak akan menyadari pengaruh tersebut.

Sebagai contoh adalah penentangan syaikh Sayyaf terhadap keikutsertaan dalam suatu pemilu yang dianggapnya sebagai kekufuran yang mengeluarkan dari Islam. Pandangan ini menyerupai aliran lain yang tidak sama dengan pandangan mayoritas al-Ikhwan. Sebab yang terakhir ini (yaitu al-Ikhwan, pent.) ikut serta dalam berbagai pemilu semenjak tahun 1942. Bahkan Al-Banna sendiri mencalonkan sebanyak dua kali dalam pemilu. Seandainya mereka terikat dengan jama’ah al-Ikhwan, tentu mereka tidak akan memiliki sikap tegas seperti ini yang memang seharusnya layak dimiliki sesuai dengan ghirah seorang muslim terhadap syariat-Nya dan semangat untuk membersihkannya dari tawar-menawar murahan.

Contoh lain adalah sikap mereka terhadap kembalinya Raja Zhahir Syah ke kursi kepemimpinan, juga sikap mereka terhadap tawar menawar pemerintahan Najibullah. Mereka menolak turut serta dalam rezim Najibullah walau cuman seorang menteri, padahal itulah jalan tersingkat menuju kekuasaan yang dapat menghemat waktu, biaya dan jiwa. Bagi mereka yang mengkaji sejarah al-Ikhwan semenjak awal berdirinya hingga kini, tentu tidak akan mencium aroma sikap tegas semacam ini.

Semua fakta di atas tentu saja, dengan menyesal harus ditambah kelalaian mereka –yakni para pemimpin gerakan di atas- dari sikap mufasholah (pemutusan hubungan) dengan kaum shufiy dan syi’ah, serta kelalaian mereka dari dakwah kepada tauhid yang berkisar pada hakimiyah, tentang pemerintahan, sekularisme dan komunisme.

Demikian inilah yang mengikat pemikiran Syaikh (Abdullah Azzam). Mereka itu merasa cukup hanya dengan membaca buku-buku Sayyid Quthb yang mempengaruhi mereka. Demikian pula, mereka banyak mencetak buku-buku tersebut dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Pashtu dan Persia, lalu membagi-bagikannya kepada para anggota organisasi mereka. Anda tidak akan menemukan satupun buku yang berbicara mengenail tauhid secara lengkap dan terperinci.

Gerakan mereka ini bernama gerakan ”Jawanan Muslim” atau ”Pemuda Muslim”. Didirikan di Universitas Kabul pada tahun 1969. Disamping mereka yang telah disebutkan oleh Syaikh ’Abdullah ’Azzam, gerakan ini juga menghimpun pemikiran-pemikiran lain serta aqidah yang bervariasi, seperti syiah dan shufi. Diantara mereka terdapat seorang ulama shufi yang bernama Maulvi Faidhani serta para pembesar syiah seperti Farid Akhtar, Muhammad Sulaiman dan Ismail Pasika.

Dr. ’Abdullah ’Azzam melakukan kesalahan ketika beliau menulis bukunya yang berjudul ”Jihad Sya’b Muslim” bahwa para pemimpin itu (Sayyaf, Hekmatiyar, Rabbani) dimusuhi dan dilawan oleh kaum shufi semenjak permulaan aktivitas mereka. Beliau mengatakan pada bukunya hal. 22 :


”Sejak awal, para pemimpin tersebut : Rabbani, Hekmatiyar, Sayyaf dan Khalish, mereka semua terdidik di atas buku-buku al-Maududi, Sayyid Quthb dan Ibnu Taimiyah. Kaum shufiyah memerangi mereka semenjak permulaan dengan perlawanan luas yang diketahui baik oleh orang awam maupun orang khusus.”

Saya katakan : Tidak demi Alloh! Tidak benar demikian. Bahkan nama yang disebut paling akhir (yaitu Khalish, pent) adalah salah seorang pembesar shufiyah. Lantas bagaimana mungkin kalangan shufi memerangi mereka padahal organisasi mereka ini didirikan dengan menghimpun golongan shufi dan syiah. Hingga kini-pun, organisasi mereka ini masih mengikutsertakan para syaikh shufi, bahkan organisasi Rabbani sendiri penuh dengan orang-orang syiah terutama di wilayah Herat, Ghur dan Bamian. Bagi yang ragu dengan keterangan saya ini silakan anda periksa dan lihat sendiri wilayah tersebut.

Kebenaran yang tidak diragukan lagi adalah mereka tidak tertarik kecuali kepada syirik hakimiyah. Adapun syirik-syirik lainnya, mereka enggan menyinggungnya, sehingga seseorang tidak bisa memastikan aqidah apakah yang mereka yakini, karena kebanyakan ceramah-ceramah dan makalah-makalah mereka tidak pernah terdengar membahas masalah ini, seakan-akan tidak pernah ada. Saya pribadi tidak dapat mencerna, bagaimana bisa seorang yang meyakini suatu aqidah dan terikat dengannya namun tidak mendakwahkannya, tidak menerapkan permusuhan dan benci karenanya atau mencintai demi membelanya.

Bagaimanapun juga, kita akan kembali kepada pokok bahasan tema kita kali ini, dan mengenai argumen-argumen kami bahwa gerakan ”Jawanan Muslim” adalah gerakan lepas. Kami memiliki buktinya, diantaranya adalah apa yang disebutkan oleh salah seorang tokoh gerakan ini, yang bernama DR. Sayyid Musa Tawana di dalam artikel-artikel yang ditulisnya untuk Majalah ”al-Mujahidun” yang diterbitkan oleh Jam’iyyah Islamiyyah pimpinan Rabbani, pada edisi no.7 September 1987. beliau berkata :

”Para pemuda tersebut menyebut diri mereka ”Jawanan Muslim” sementara selain mereka, terutama musuh-musuh mereka menyebut mereka dengan ”al-Ikhwanul Muslimun”. Kami tidak tahu persis manakah diantara keduanya yang lebih dulu digunakan. Saya ingat betul bahwa beberapa orang dari kami mengadakan rapat di bagian Fakultas Syari’ah (Universitas Kabul, pent) untuk membicarakan masalah ini. Kami memilih nama ”Jam’iyyah Islamiyyah” karena kedekatannya dengan nama ”Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun” dan ”Jam’ah Islamiyyah” di Pakistan, dan sekaligus untuk membedakan antara jama’ah kami tersebut dengan kedua jama’ah internasional itu.”

Bukti yang paling kongkrit lagi adalah, apa yang dinyatakan oleh Mursyid ’Amm al-Ikhwanul Muslimun Hamid Abun Nashr yang menyatakan bahwa beliau tidak terkait dengan mereka, dan bantuan-bantuan yang diberikannya hanyalah bantuan obat-obatan atau medis, serta bantuan keuangan seperti yang lain.


Peranan Salafiyyah dalam medan peperangan Afghanistan

Telah kami sebutkan terdahulu, bahwa ketika jihad Afghanistan mulai memperoleh kemenangan militer yang besar, berbagai jama’ah saling ’cakar-mencakar’ dalam lapangan dakwah, ingin meyakinkan masyarakat –terutama para pemuda- bahwa merekalah yang memiliki peranan penting dalam jihad Afghanistan sementara jama’ah-jama’ah lainnya hanyalah banyak bicara tanpa beramal (No action talk only).

Kami telah mengatakan bahwa dalam masalah ini, beberapa bintang pemimpin bersinar terang di langit media massa Islam, yaitu media yang bercorak ikhwani, sedangkan pemimpin selain mereka tidak (diblow-up). Cerita-cerita dan gosip yang sampai kepada kami (melalui media massa ini) adalah bahwa salafiyyun di sana (Afgnanistan) adalah kaum yang menghalang-halangi jihad. Mereka hanya sibuk dengan masalah kuburan, bid’ah-bi’dah dan mengkafirkan kalangan awam mujahidin. Bahkan beberapa gosip yang lebih parah menyatakan bahwa mereka ini adalah kaki tangan dan antek-antek pemerintahan komunis.

Akan tetapi, seorang syaikh yang bernama Jamilurrahman rahimahullahu, salah seorang pemimpin salafiyyah di Afgnanistan dan amir Jama’ah ad-Da’wah ilal Qur’an was Sunnah yang didirikan pada tahun 1965 di propinsi Kunar sebelum berdirinya gerakan yang berfaham ’gado-gado’ ”Jawanan Muslim” selang 4 tahun. Jama’ah ini memulai dakwahnya dengan manhaj dakwah para Nabi dan Rasul, menyeru kepada tauhid beserta cabang-cabangnya, memerangi syirik berikut cabang-cabangnya dan tidak ada keleluasaan sedikitpun di dalam jama’ah ini bagi kaum sekuler, shufi maupun syiah.

Jama’ah ini mulai melancarkan jihad bersenjata semenjak tahun 1973, yang artinya dua tahun lebih dulu dibandingkan ”Jawanan Muslim”, dan pada saat maklumat pengumuman mobilisasi umum pada tahun 1978, jama’ah ini bergabung dengan organisasi-organisasi lain yang semuanya bersekutu dengan nama ”Hizb Islami”. Namun syaikh (Jamilurrahman) berselisih dengan para pembesar lainnya ketika mereka menghendaki pengkotak-kotakan tauhid dan aqidah, yakni mereka memperbolehkan membahas kekafiran komunisme dan syirik tasyri’ namun mereka melarang dari berbicara masalah kesyirikan kaum shufi dan para quburiyun. Mereka melarang berbicara dalam masalah ilhad kaum shufi dalam masalah asma’ wa shifat, dalam masalah jimat-jimat dan sebagainya, dengan alasan bahwa hal ini semua dapat menimbulkan fitnah dan memecah belah barisan mujahidin. Dalam hal ini, silakan anda baca buku terbitan ”Jama’ah ad-Da’wah” buah tangan Syaikh Jamilurrahman rahimahullahu. Di dalam buku itui terdapat penjelasan yang memuaskan tentang sebab-sebab berpisahnya beliau dari aliansi (persekutuan) mujahidin, dan diikuti oleh kejadian-kejadian berikutnya berupa penindasan dari mereka yang menamakan dirinya ahlus sunnah.
0 Komentar
 
Support : Creating Website | SUNNAHCARE | SUNNAHCARE
Copyright © 2014. Media Portal Ahlussunnah wal Jama'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SUNNAHCARE
Proudly powered by SUNNAHCARE