Headlines News :

Donasi Pulsa Utk Koneksi Internet Admin

Kirim Pulsa ke No. XL: 081947833452

Selama ini kami Admin sunnahcare.com mengeluarkan biaya rata-rata 200rb / bulan untuk koneksi internet. Disini selain mengupdate Web juga kami ikut membantu Koneksi Internet dan Promosi dari Yayasan Assunnah Padang.

Sisa Pulsa 26/9/14: Rp 1.068,-
26/9/14 Donasi masuk : Rp 100.000,-
26/9/14 Bea Internet 3G+ : Rp 99.000,-

Infaq Operasional dan Pengadaan 1 Unit PC Admin

BNI Syariah: 0335085463
a/n Lathifah
SMS Konfirmasi: 081947833452

Untuk biaya operasional web dan promosi media sosial (facebook, twitter,dll) serta operasional Admin sunnahcare.com, mengeluarkan rata-rata biaya 1 jt / bulan. Berhubung kondisi Komputer Admin yang kami gunakan sudah kurang memadai untuk perkembangan Teknologi Internet sekarang ini, maka kami juga memerlukan bantuan untuk pengadaan perangkat Komputer Admin tersebut. Oleh karena itu kami bermaksud membuka donasi demi kelancaran hal-hal diatas.

Sisa Saldo 20/9/14: Rp. 0,-

Tebar Qurban Utk Fakir Miskin

Daftar Peserta Qurban Yayasan As-Sunnah Padang 1435 H / 2014:

Kelompok 1 (Sapi):
1. Bpk. Beni Raharjo: Cikarang, Bekasi. 27/8/14
2. Bpk. Alek Kurniawan Apiyanto: Jakarta. 28/8/14
3. Bpk. Achmad Bismet : Jakarta. 29/9/14
4. Bpk. Yani Kurniawan: Bekasi. 27/9/14
5. Hamba Allah: Bekasi. 29/8/14
6. Bpk. Revan Abdi: Jakarta. 29/8/14
7. Ibu Nurma (Muhsinin yg Mewakafkan Tanah Pembangunan Masjid As-Sunnah Padang). 3/9/12

Kelompok 2 (Sapi):
1. Hamba Allah: Medan. 11/9/14
2. Bpk. Dany Ramdani dan Keluarga: Jakarta. 11/9/14
3. Abu Shofiyyah dan Keluarga: Padang. 14/9/14
4. Bpk. Aan Saputro dan Keluarga: Jepang. 14/9/14
5. Ibu Evvy dan Keluarga: Bandung. 13/9/14
6. Bpk. Fakri Indra, S.Kom(Pengawas Yayasan Assunnah Padang): Padang. 14/9/14
7. Bpk. Soewarso Rahimahullah: Nganjuk, Jatim. 14/9/14

Kelompok 3 (Sapi):
1. Bpk. Nirzal dan Keluarga: Bandung. 14/9/14
2. Ibu Nasmawati Mawi: Padang. 18/9/14
3. Bpk. Hari F Day: Padang. 18/9/14
4. Ibu Hera L Day: Padang. 18/9/14
5. Ibu Syamsidar Kamsya: Padang. 18/9/14
6. Abu Yazid dan Keluarga: Jakarta. 20/9/14
7. Hamba Allah: Bogor. 23/9/14

Qurban Berupa Kambing:
1. Bpk. Firdaus: Padang. 28/8/14
2. Bpk. Rahmat Ika Syahrial, SHi: Padang. 28/8/14

Info

Tips Hemat Isi BBM


Tips ini adalah kiriman salah seorang ikhwan salafi di Batam.

Silahkan antum download aja artikelnya berikut ini: Tips Hemat Isi BBM
Download Artikel ini: Syubhat

Sumber milist : As Sunnah
Sumber : almanhaj
Syubhat-Syubhat Sekitar Masalah Demokrasi Dan Pemungutan Suara
Kamis, 18 Maret 2004 21:00:53 WIB

SYUBHAT-SYUBHAT SEKITAR MASALAH DEMOKRASI DAN PEMUNGUTAN SUARA


Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Maidani al-Atsari



Pemungutan suara atau voting sering digunakan oleh lembaga-lembaga atau organisasi-organisa si baik skala besar seperti sebuah negara maupun kecil seperti sebuah perkumpulan, di dalam mengambil sebuah sikap atau di dalam memilih pimpinan dan lain-lain. Sepertinya hal ini sudah lumrah dilangsungkan. Hingga dalam menentukan pimpinan umat harus dilakukan melalui pemungutan suara, dan tentu saja masyarakat umumpun dilibatkan di dalamnya. Padahal banyak di antara mereka yang tidak tahu menahu apa dan bagaimana kriteria seorang pemimpin menurut Islam.

Dengan cara dan praktek seperti ini bisa jadi seorang yang tidak layak menjadi pemimpin keluar sebagai pemenangnya. Adapun yang layak dan berhak tersingkir atau tidak dipandang sama sekali ! Tentu saja metoda pemungutan suara seperti ini tidak sesuai menurut konsep Islam, 'yang menekankan konsep syura (musyawarah) antara para ulama dan orang-orang shalih. Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.[An-Nisaa : 58]

Kepemimpinan adalah sebuah amanat yang amat agung, yang menyangkut aspek-aspek kehidupan manusia yang amat sensitif. Oleh sebab itu amanat ini harus diserahkan kepada yang berhak menurut kaca mata syariat. Proses pemungutan suara bukanlah cara/wasilah yang syar'i untuk penyerahan amanat tersebut. Sebab tidak menjamin penyerahan amanat kepada yang berhak. Bahkan di atas kertas dan di lapangan terbukti bahwa orang-orang yang tidak berhaklah yang memegang (diserahi) amanat itu. Di samping bahwa metoda pemungutan suara ini adalah metoda bid'ah yang tidak dikenal oleh Islam. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada satupun dari Khulafaur Rasyidin yaitu: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali radhiyallahu 'anhum maupun yang sesudah mereka, yang dipilih atau diangkat menjadi khalifah, melalui cara pemungutan suara yang melibatkan seluruh umat.

Lantas dari mana sistem pemungutan suara ini berasal ?! Jawabnya: tidak lain dan tidak bukan ia adalah produk demokrasi ciptaan Barat (baca kafir).

Ada anggapan bahwa pemungutan suara adalah bagian dari musyawarah. Tentu saja amat jauh perbedaannya antara musyawarah mufakat menurut Islam dengan pemungutan suara ala demokrasi di antaranya:

[1] Dalam musyawarah mufakat, keputusan ditentukan oleh dalil-dalil syar'i yang menempati al-haq walaupun suaranya minoritas.

[2] Anggota musyawarah adalah ahli ilmu (ulama) dan orang-orang shalih, adapun di dalam pemungutan suara anggotanya bebas siapa saja.

[3] Musyawarah hanya perlu dilakukan jika tidak ada dalil yang jelas dari al-Kitab dan as-Sunnah. Adapun dalam pemungutan suara, walaupun sudah ada dalil yang jelas seterang matahari, tetap saja dilakukan karena yang berkuasa adalah suara terbanyak, bukan al-Qur'an dan as-Sunnah.

MAKNA PEMUNGUTAN SUARA
Pemungutan suara maksudnya adalah: pemilihan hakim atau pemimpin dengan cara mencatat nama yang terpilih atau sejenisnya atau dengan voting. Pemungutan suara ini, walaupun bermakna: pemberian hak pilih, tidak perlu digunakan di dalam syariat untuk pemilihan hakim/pemimpin. Sebab ia berbenturan dengan istilah syar'i yaitu syura (musyawarah) . Apalagi dalam istilah pemungutan suara itu terdapat konotasi haq dan batil. Maka penggunaan istilah pemungutan suara ini jelas berseberangan jauh dengan istilah syura. Sehingga tidak perlu menggunakan istilah tersebut, sebab hal itu merupakan sikap latah kepada mereka.

MAFSADAT PEMUNGUTAN SUARA
Amat banyak kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari cara pemungutan suara ini di antaranya:

[1]. Termasuk perbuatan syirik kepada Allah.
[2]. Menekankan suara terbanyak.
[3]. Anggapan dan tuduhan bahwa dinul Islam kurang lengkap.
[4]. Pengabaian wala' dan bara'.
[5]. Tunduk kepada Undang-Undang sekuler.
[6]. Mengecoh (memperdayai) orang banyak khususnya kaum Muslimin.
[7]. Memberikan kepada demokrasi baju syariat.
[8]. Termasuk membantu dan mendukung musuh musuh Islam yaitu Yahudi dan Nashrani.
[9]. Menyelisihi Rasulullah dalam metoda menghadapi musuh.
[10]. Termasuk wasilah yang diharamkan.
[11]. Memecah belah kesatuan umat.
[12]. Menghancurkan persaudaraan sesama Muslim.
[13]. Menumbuhkan sikap fanatisme golongan atau partai yang terkutuk.
[14] Menumbuhkan pembelaan membabi buta (jahiliyah) terhadap partai-partai di golongan mereka.
[15]. Rekomendasi yang diberikan hanya untuk kemaslahatan golongan.
[16]. Janji janji tanpa realisasi dari para calon hanya untuk menyenangkan para pemilih.
[17]. Pemalsuan-pemalsuan dan penipuan-penipuan serta kebohongan-kebohong an hanya untuk meraup simpati massa.
[18]. Menyia-nyiakan waktu hanya untuk berkampanye bahkan terkadang meninggalkan kewajiban (shalat dan lain-lain).
[19]. Membelanjakan harta tidak pada tempat yang disyariatkan.
[20]. Money politic, si calon menyebarkan uang untuk mempengaruhi dan membujuk para pemilih.
[21]. Terperdaya dengan kuantitas tanpa kualitas.
[22]. Ambisi merebut kursi tanpa perduli rusaknya aqidah.
[23]. Memilih seorang calon tanpa memandang kelurusan aqidahnya.
[24]. Memilih calon tanpa perduli dengan syarat syarat syar'i seorang pemimpin.
[25]. Pemakaian dalil-dalil syar'i tidak pada tempatnya, di antaranya adalah ayat-ayat syura yaitu Asy-Syura': 46.
[26] .Tidak diperhatikannya syarat-syarat syar'i di dalam persaksian, sebab pemberian amanat adalah persaksian.
[27]. Penyamarataan yang tidak syar'i, di mana disamaratakan antara wanita dan pria, antara seorang alim dengan si jahil, antara orang-orang shalih dan orang-orang fasiq, antara Muslim dan kafir.
[28]. Fitnah wanita yang terdapat dalam proses pemungutan suara, di mana mereka boleh dijadikan sebagai salah satu calon! Padahal Rasulullah telah bersabda: "Tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada kaum wanita". [Hadits Riwayat Bukhari dari Abu Bakrah]
[29]. Mengajak manusia untuk mendatangi tempat-tempat pemalsuan.
[30]. Termasuk bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
[31]. Melibatkan diri dalam perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
[32]. Janji-janji palsu dan semu yang disebar.
[33]. Memberi label pada perkara-perkara yang tidak ada labelnya seperti label partai dengan partai Islam, pemilu Islami, kampanye Islami dan lain-lain.
[34]. Berkoalisi atau beraliansi dengan partai-partai menyimpang dan sesat hanya untuk merebut suara terbanyak.
[35]. Sogok-menyogok dan praktek-praktek curang lainnya yang digunakan untuk memenangkan pemungutan suara.
[36]. Pertumpahan darah yang kerap kali terjadi sebelum atau sesudah pemungutan suara karena memanasnya suasana pasca pemungutan suara atau karena tidak puas karena kalah atau merasa dicurangi.

Sebenarnya masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan akibat dari proses pemungutan suara ini. Kebanyakan dari kerusakan-kerusakan yang disebutkan tadi adalah suatu yang sering nampak atau terdengar melalui media massa atau lainnya !

Lalu apakah pantas seorang Muslim -apalagi seorang salafi- ikut-ikutan latah seperti orang-orang jahil tersebut ?!

Sungguh sangat tidak pantas bagi seorang Muslim salafi yang bertakwa kepada Rabb-Nya melakukan hal itu, padahal ia mendengar firman Rabb-Nya:

Maka apakah patut bagi Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (kafir). Mengapa kamu berbuat demikian ? Bagaimanakah kamu membuat keputusan ? [Al-Qalam: 35-36]

Pada saat bangsa ini sedang menghadapi bencana, yang seharusnya mereka memperbaiki kekeliruannya adalah dengan kembali kepada dien yang murni sebagaimana firman Allah

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan buah tangan perbuatan manusia agar mereka merasakan sebagian perbuatan mereka dan agar mereka kembali. [Ar-Ruum: 41]

Yaitu, agar mereka kembali kepada dien ini sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:

Jika kalian telah berjual beli dengan sistem 'inah dan kalian telah mengikuti ekor-ekor sapi, telah puas dengan bercocok tanam dan telah kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan; tidak akan kembali (kehinaan) dan kalian hingga kalian kembali ke dien kalian.

Kembali kepada dien yang murni itulah solusinya, kembali kepada nilai-nilai tauhid yang murni, mempelajari dan melaksanakan- melaksanakan konsekuensi- konsekuensinya, menyemarakkan as-Sunnah dan mengikis bid'ah dan mentarbiyah ummat di atas nilai tauhid. Da'wah kepada jalan Allah itulah jalan keluarnya, dan bukan melalui kotak suara atau kampanye-kampanye semu! Tetapi realita apa yang terjadi??

Para Du'at (da'i) sudah berubah profesi, kini ia menyandang predikat baru, yaitu juru kampanye (jurkam), menyeru kepada partainya dan bukan lagi menyeru kepada jalan Allah. Menebar janji-janji; bukan lagi menebar nilai-nilai tauhid. Sibuk berkampanye baik secara terang-terangan maupun terselubung. Bukan lagi berdakwah, tetapi sibuk mengurusi urusan politik â€"padahal bukan bidangnya dan ahlinya- serta tidak lagi menuntut ilmu.

Mereka berdalih: "Masalah tauhid memang penting akan tetapi kita tidak boleh melupakan waqi' (realita)."

Waqi' (realita) apa yang mereka maksud ? Apakah realita yang termuat di koran-koran, majalah-majalah, surat kabar-surat kabar ? -karena itulah referensi mereka- atau realita umat yang masih jauh dari aqidah yang benar, praktek syirik yang masih banyak dilakukan, atau amalan bid'ah yang masih bertebaran. Ironinya hal ini justru ada pada partai-partai yang mengatas namakan Islam ! Wallahul Musta'an

Mereka ngotot untuk tetap ikut pemungutan suara, agar dapat duduk di kursi parlemen. Dan untuk mengelabuhi umat merekapun melontarkan beberapa syubhat!

SYUBHAT-SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
[1]. Mereka mengatakan: Bahwa sistem demokrasi sesuai dengan Islam secara keseluruhan. Lalu mereka namakan dengan syura (musyawarah) berdalil dengan firman Allah

" Artinya :Dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka".[Asy-Syuura : 38]

Lalu mereka bagi demokrasi menjadi dua bagian yang bertentangan dengan syariat dan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Bantahan:
Tidak samar lagi batilnya ucapan yang menyamakan antara syura menurut Islam dengan demokrasi ala Barat. Dan sudah kita cantumkan sebelumnya tiga perbedaan antara syura dan demokrasi !

Adapun yang membagi demokrasi ke dalam shahih (benar) dan tidak shahih adalah pembagian tanpa dasar, sebab istilahnya sendiri tidak dikenal dalam Islam.

"Artinya : Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk, (menyembah)- nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka" [An-Najm : 22-23]

[2]. Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara sudah ada pada awal-awal Islam, ketika Abu Bakar, Umar, Ustman radhiyallahu 'anhum telah dipilih dan dibaiat. [Lihat kitab syari'atul intikhabat hal.15]

Bantahan:
Ucapan mereka itu tidak benar karena beberapa sebab:

[a] Telah jelas bagi kita semua kerusakan yang ditimbulkan oleh pemungutan suara seperti kebohongan, penipuan, kedustaan, pemalsuan dan pelanggaran syariat lainnya. Maka amat tidak mungkin sebaik-baik kurun melakukan praktek-praktek seperti itu.
[b] Para sahabat (sebagaimana yang dimaklumi dan diketahui di dalam sejarah) telah bermufakat dan bermusyawarah tentang khalifah umat ini sepeninggal Rasul.

Dan setelah dialog yang panjang di antaranya ucapan Abu Bakar as-Sidiq yang membawakan sebuah hadits yang berbunyi: "Para imam itu adalah dari bangsa Quraisy." Lalu mereka bersepakat membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Tidak diikutsertakan seorang wanitapun di dalam musyawarah tersebut.

Kemudian Abu Bakar mewasiatkan Umar sebagai khalifah setelah beliau, tanpa ada musyawarah.

Kemudian Umar menunjuk 6 orang sebagai anggota musyawarah untuk menetapkan salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah. Keenam orang itu termasuk 10 orang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Adapun sangkaan sebagian orang bahwa Abdurrahman bin Auf menyertakan wanita dalam musyawarah adalah tidak benar.

Di dalam riwayat Bukhari tidak disebutkan di dalamnya penyebutan musyawarah Abdurrahman bin Auf bersama wanita dan tidak juga bersama para tentara. Bahkan yang tersebut di dalam riwayat Bukhari tersebut, Abdurrahman bin Auf mengumpulkan 5 orang yang telah ditunjuk Umar yaitu Ustman, Ali, Zubair, Thalhah, Saad dan beliau sendiri (lihat Fathul Bari juz 7 hal. 61,69), Tarikhul Islam karya Az-Zahabi (hal. 303), Ibnu Ashir dalam thariknya (3/36), Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhkul Umam (4/431). Adapun yang disebutkan oleh Imam Ibnu Isuji di dalam Kitabnya al-Munthadam riwayatnya dhaif.

Dan yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah (4/151) adalah riwayat tanpa sanad, tidak dapat dijadikan sandaran.

Kesimpulannya:
[a] Berdasarkan riwayat yang shahih Abdurrahman bin Auf hanya bermusyawarah dengan 5 orang yang ditunjuk Umar.
[b] Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf juga mengajak bertukar pendapat dengan sahabat lainnya.
[c] Adapun penyertaan wanita di dalam musyawarah adalah tidak benar sebab riwayatnya tidak ada asalnya.

[3] Mereka mengatakan: Ini adalah masalah ijtihadiyah'

Bantahan:
Apa yang dimaksud dengan masalah ijtihadiyah ? Jika mereka katakan: yaitu masalah baru yang tidak dikenal di massa wahyu dan khulafaur rasyidin.

Maka jawabannya:
[a] Ucapan mereka ini menyelisihi atau bertentangan dengan ucapan sebelumnya yaitu sudah ada pada awal Islam.
[b] Memang benar pemungutan suara ini tidak ada pada zaman wahyu, tetapi bukan berarti seluruh perkara yang tidak ada pada zaman wahyu ditetapkan hukumnya dengan ijtihad. Dalam masalah ini ulama menetapkan hukum setiap masalah berdasarkan kaedah-kaedah usul dan kaedah-kaedah umum. Dan untuk masalah pemungutan suara ini telah diketahui kerusakan-kerusakan nya.

Jika dikatakan: yang kami maksud masalah ijtihadiyah adalah masalah yang belum ada dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Maka jawabannya sama seperti jawaban kami yang telah lalu.

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah artinya: kami mengetahui keharamannya, tetapi kami memandang ikut serta di dalamnya untuk mewujudkan maslahat. Maka jawabannya: kalau ucapan itu benar, maka pasti sudah ada buktinya semenjak munculnya pemikiran seperti ini. Di negara-negara Islam tidak pernah terwujud maslahat tersebut, bahkan hanya kembali dua sepatu usang (gagal).

Sedang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Artinya : Seorang Mukmin tidaklah disengat 2 kali dari satu lubang" [Mutafaqun alaih]

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang diperdebatkan dan diperselisihkan di kalangan ulama serta bukan masalah ijma'.

Maka jawabannya:
[a] Coba tunjukkan perselisihan di kalangan ulama yang mu'tabar (dipercaya) yang dida'wakan itu. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkannya.
[b] Yang dikenal di kalangan ulama, bahwa yang dimaksud khilafiyah atau masalah yang diperdebatkan, yaitu : jika kedua pihak memiliki alasan atau dalil yang jelas dan dapat diterima sesuai kaedah. Sebab kalau hanya mencari masalah khilafiyah, maka tidak ada satu permasalahanpun melainkan di sana ada khilaf atau perbedaan pendapat. Akan tetapi banyak di antara pendapat-pendapat itu yang tidak mu'tabar.

[4]. Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara tersebut termasuk maslahat mursalah.

Bantahannya:
[a] Maslahat mursalah bukanlah sumber asli hukum syar'i, tapi hanyalah sumber taba'i (mengikut) yang tidak dapat berdiri sendiri. Maslahat mursalah hanyalah wasilah yang jika terpenuhi syaratsyaratnya, baru bisa diamalkan.
[b] Menurut defisinya maslahat mursalah itu adalah: apa-apa yang tidak ada nash tertentu padanya dan masuk ke dalam kaedah umum. Menurut definisi lain adalah: sebuah sifat (maslahat) yang belum ditetapkan oleh syariat.

Jadi maslahat mursalah itu adalah salahsatu proses ijtihad untuk mencapai sebuah kemaslahatan bagi umat, yang belum disebutkan syariat, dengan memperhatikan syarat-syaratnya.

Kembali kepada masalah pemungutan yang dikatakan sebagai maslahat mursalah tersebut apakah sesuai dengan tujuan maslahat mursalah itu sendiri atau justru bertentangan. Tentu saja amat bertentangan; dilihat dari kerusakan kerusakan pemungutan suara yang cukup menjadi bukti bahwa antara keduanya amat jauh berbeda.

[5]. Mereka mengatakan: Pemungutan suara ini hanya wasilah, bukan tujuan dan maksud kami adalah baik.

Bantahannya adalah:
Tidak dikenal kamus tujuan menghalalkan segala cara, sebab itu adalah kaidah Yahudiah. Sebab berdasarkan kaidah Usuliyah: hukum sebuah wasilah ditentukan hasil yang terjadi (didapat); jika yang terjadi adalah perkara haram (hasilnya haram) maka wasilahnya juga haram.

Adapun ucapan mereka bahwa yang mereka inginkan adalah kebaikan.

Maka jawabannya bahwa niat yang baik lagi ikhlas serta keinginan yang baik lagi tulus belumlah menjamin kelurusan amal. Sebab betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.

Sebab sebuah amal dapat dikatakan shahih dan makbul jika memenuhi 2 syarat: [a] Niat ikhlas dan [b] Menetapi as-Sunnah. Jadi bukan hanya bermodal keinginan [i'tikad baik saja]

[6]. Mereka mengatakan: Kami mengikuti pemungutan suara dengan tujuan menegakkan daulah Islam.

Bantahannya:
Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada mereka, bagaimana cara menegakkan daulah Islam ?

Sedangkan di awal perjuangan, mereka sudah tunduk pada undang-undang sekuler yang diimpor dari Eropa. Mengapa mereka tidak memulai menegakkan hukum Islam itu pada diri mereka sendiri, atau memang ucapan mereka "Kami akan menegakkan daulah Islam" hanyalah slogan kosong belaka. Terbukti mereka tidak mampu untuk menegakkannya pada diri mereka sendiri.

Kalau ingin buktinya maka silahkan melihat mereka-mereka yang meneriakkan slogan tersebut.

[7]. Mereka mengatakan : Kami tidak mau berpangku tangan dengan membiarkan musuh-musuh bergerak leluasa tanpa hambatan.

Bantahannya:
Apakah masuk akal jika untuk menghadapi musuh-musuhnya, mereka bergandengan tangan dengan musuh-musuhnya dalam kursi parlemen, berkompromi dengan musuh dalam membuat undang-undang? Bukankah ini tipu daya ala Yahudi yang telah Allah nyatakan dalam al-Qur'an:

"Artinya : Segolongan lain dari ahli Kitab berkata kepada sesamanya: Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang Mukmin) kembali (kepada kekafiran)". [Ali-Imran: 72]

Dan ucapan mereka bahwa masuknya mereka ke kancah demokrasi itu adalah refleksi perjuangan mereka, tidak dapat dipercaya. Bukankah Allah telah mengatakan:

"Artinya : Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka" [Al-Baqarah: 120]

Lalu mengapa mereka saling bahu membahu dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani? Apakah mereka menerapkan kaedah: saling bertolong-tolongan pada perkara-perkara yang disepakati dan saling toleransi pada perkara- perkara yang diperselisihkan. Tidakkah mereka takut pada firman Allah

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu ?)". [An-Nisaa: 144]

[8]. Mereka mengatakan: Kami terjun dalam kancah demokrasi karena alasan darurat.

Bantahannya:
Darurat menurut Ushul yaitu: keadaan yang menimpa seorang insan berupa kesulitan bahaya dan kepayahan/kesempita n, yang dikhawatirkan terjadinya kemudharatan atau gangguan pada diri (jiwa), harta, akal, kehormatan dan agamanya. Maka dibolehkan baginya perkara yang haram (meninggalkan perkara yang wajib) atau menunda pelaksanaannya untuk menolak kemudharatan darinya, menurut batas-batas yang dibolehkan syariat.

Lalu timbul pertanyaan kepada mereka: yang dimaksud alasan itu, karena keadaan darurat atau karena maslahat?.

Sebab maslahat tentu saja lebih luas dan lebih umum ketimbang darurat. Jika dahulu mereka katakan bahwa demokrasi itu atau pemungutan suara itu hanyalah wasilah maka berarti yang mereka lakukan tersebut bukanlah karena darurat akan tetapi lebih tepat dikatakan untuk mencari maslahat, Maka terungkaplah bahwa ikut sertanya mereka dalam kancah demokrasi tersebut bukanlah karena darurat tapi hanya karena sekedar mencari setitik maslahat.

[9]. Mereka mengatakan: Kami terpaksa melakukannya, sebab jika tidak maka musuh akan menyeret kami dan melarang kami menegakkan hukum Islam dan melarang kami shalat di masjid-masjid dan melarang kami berbicara (berkhutbah) .

Bantahannya:
Mereka hanya dihantui bayangan saja; atau mereka menyangka kelangsungan da'wah kepada jalan Allah hanya tergantung di tangan mereka saja. Dengan itu mereka menyimpang dari manhaj an-nabawi dalam berda'wah kepada Allah dan dalam al-islah (perbaikan). Lalu mereka menuduh orang-orang yang tetap berpegang teguh pada as- Sunnah sebagai orang-orang pengecut (orang-orang yang acuh tak acuh terhadap nasib umat). Apakah itu yang menyebabkan mereka membabi buta dan gelap mata? Hendaknya mereka mengambil pelajaran dari seorang sahabat yang mulia yaitu Abu Dzar al-Giffari ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berpesan kepadanya:

"Artinya : Tetaplah kau di tempat engkau jangan pergi kemana-mana sampai aku mendatangimu. Kemudian. Rasulullah pergi di kegelapan hingga lenyap dari pandangan, lalu aku mendengar suara gemuruh. Maka aku khawatir jika seseorang telah menghadang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, hingga aku ingin mendatangi beliau. Tapi aku ingat pesan beliau: tetaplah engkau di tempat jangan kemana-mana, maka akupun tetap di tempat tidak ke mana-mana. Hingga beliau mendatangiku. Lalu aku berkata bahwa aku telah mendengar suara gemuruh, sehingga aku khawatir terhadap beliau, lalu aku ceritakan kisahku. Lalu beliau berkata apakah engkau mendengarnya? . Ya, kataku. Beliau berkata itu adalah Jibril, yang telah berkata kepadaku: barang siapa di antara umatmu (umat Rasulullah) yang wafat dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, akan masuk ke dalam surga. Aku bertanya, walaupun dia berzina dan mencuri? Beliau berkata, walaupun dia berzina dan mencuri". [Mutafaqun alaih]

Lihatlah bagaimana keteguhan Abu Dzar al-Ghifari terhadap pesan Rasulullah untuk tidak bergeming dari tempat, walaupun dalam sangkaan beliau, Rasulullah berada dalam mara bahaya ! Bukankah hal tersebut gawat dan genting. Suara gemuruh yang mencemaskan beliau atas nasib Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Namun apa gerangan yang menahan Abu Dzar al-Ghifari untuk menemui Rasulullah. Apakah beliau takut, atau beliau pengecut, atau beliau acuh tak uh akan nasib Rasulullah ? Tidak ! Sekali-kali tidak! Tidak ada yang menahan beliau melainkan pesan Rasulullah : tetaplah engkau di tempat, jangan pergi ke mana-mana hingga aku datang!.

Keteguhan beliau di atas garis as-Sunnah telah mengalahkan (menundukkan) pertimbangan akal dan perasaan! Beliau tidak memilih melanggar pesan Rasulullah dengan alasan ingin menyelamatkan beliau shalallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian kita lihat hasil keteguhan beliau atas pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berupa ilmu tentang tauhid yang dibawa malaikat Jibril kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kabar gembira bagi para muwahhid (ahli tauhid) yaitu surga. Seandainya beliau melanggar pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam maka belum tentu beliau mendapatkan ilmu tersebut pada saat itu !!

Demikian pula dikatakan kepada mereka: Kami tidak hendak melanggar as-Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat ! (Karena keteguhan di atas as-Sunnah itulah yang akan menyelamatkan ummat -red).

Berbahagialah ahlu sunnah (salafiyin) berkat keteguhan mereka di atas as-Sunnah.

[10]. Mereka mengatakan: Bahwa mereka mengikuti kancah pemunggutan suara untuk memilih kemudharatan yang paling ringan.

Mereka juga berkata bahwa mereka mengetahui hal itu adalah jelek, tapi ingin mencari mudharat yang paling ringan demi mewujudkan maslahat yang lebih besar.

Bantahannya:
Apakah mereka menganggap kekufuran dan syirik sebagai sesuatu yang ringan kemudharatannya? Timbangan apa yang mereka pakai untuk mengukur berat ringannya suatu perkara? Apakah timbangan akal dan hawa nafsu? Tidakkah mereka mengetahui bahwa demokrasi itu adalah sebuah kekufuran dan syirik produk Barat? Lalu apakah ada yang lebih berat dosanya selain kekufuran dan syirik.

Kemudian apakah mereka mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan kaedah "memilih kemudharatan yang paling ringan."

Jika jawaban mereka tidak mengetahui; maka hal itu adalah musibah.

Jika jawabannya mereka mengetahui, maka dikatakan kepada mereka: coba perhatikan kembali syarat-syaratnya! Di antaranya:

[a]. Maslahat yang ingin diraih adalah nyata (realistis) bukan sekedar perkiraan (anggapan belaka). Kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh mereka yang melibatkan di dalam kancah demokrasi itu cukuplah sebagai bukti bahwa maslahat yang mereka janjikan itu hanyalah khayalan dan isapan jempol belaka.

[b]. Maslahat yang ingin dicapai harus lebih besar dari mafsadah (kerusakan) yang dilakukan, berdasarkan paham ahli ilmu. Jika realita adalah kebalikannya yaitu maslahat yang hendak dicapai lebih kecil ketimbang mafsadah yang terjadi, maka kaedahnya berganti menjadi:

Menolak mafsadah (kerusakan) lebih didahulukan ketimbang mencari (mengambil) mashlahat.

[c]. Tidak ada cara (jalan) lain untuk mencapai maslahat tersebut melainkan dengan melaksanakan mafsadah (kerusakan) tersebut.

Syarat yang ketiga ini sungguh amat berat untuk dipenuhi oleh mereka sebab konsekuensinya adalah: tidak ada jalan lain untuk menegakkan hukum Islam, kecuali dengan jalan demokrasi tersebut. Sungguh hal itu adalah kebathilan yang amat nyata! Apakah mungkin manhaj Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam ishlah (perbaikan) divonis tidak layak dipakai untuk menegakkan hukum Islam? Tidaklah kita mengenal Islam, kecuali melalui beliau shalallahu 'alaihi wasallam?

[11] Mereka mengatakan: Bahwa beberapa Ulama ahlu sunnah telah berfatwa tentang disyariatkannya pemungutan suara (pemilu) ini seperti: Syeikh al-Albani, Bin Baz, Bin Utsaimin. Lalu apakah kita menuduh mereka (para ulama) hizbi ?

Jawabannya tentu saja tidakl
Amat jauh para ulama itu dari sangkaan mereka, karena beberapa alasan:

[a]. Mereka adalah ulama dan pemimpin kita, serta pemimpin da'wah yang penuh berkah ini (da'wah salafiyah) dan pelindung Islam. Kita tidak meneguk ilmu kecuali dari mereka. Kita berlindung kepada Allah semoga mereka tidak demikian (tidak hizbi)! Bahkan sebaliknya, merekalah yang telah memperingatkan umat dari bahaya hizbiyah. Tidaklah umat selamat dari hizbiyah kecuali, melalui nasihat-nasihat mereka setelah taufiq dari Allah tentunya. Kitab-kitab dan kaset-kaset mereka penuh dengan peringatan tentang hizbiyah.

[b]. Para ulama berfatwa (memberi fatwa) sesuai dengan kadar soal yang ditanyakan. Bisa saja seorang datang kepada ulama dan bertanya:

Ya Syeikh!, kami ingin menegakkan syariat Allah dan kami tidak mampu kecuali melalui pemungutan suara dengan tujuan untuk mengenyahkan orang-orang sosialis dan sekuler dari posisi mereka! Apakah boleh kami memilih seorang yang shalih untuk melaksanakan kepentingan ini? Demikianlah soalnya!

Lain halnya seandainya bunyi soal : Ya Syeikh, pemungutan suara itu menimbulkan mafsadah (kerusakan) begini dan begini, dengan menyebutkan sisi negatif yang ditimbulkannya, maka niscaya jawabannya akan lain. Mereka-mereka itu (yaitu hizbiyun dan orang-orang yang terfitnah oleh hizbiyun) mencari-cari talbis (tipu daya) terhadap para ulama! Adapun dalil bahwa seorang alim berfatwa berdasarkan apa yang ia dengar. Dan sebuah fatwa ada kalanya keliru, adalah dari sebuah hadits dari Ummu Salamah:

"Artinya : Sesungguhnya kalian akan mengadukan pertengkaran di antara kalian padaku, barang kali sebagian kalian lebih pandai berdalih ketimbang lainnya. Barang siapa yang telah aku putuskan baginya dengan merebut hak saudaranya, maka yang dia ambil itu hanyalah potongan dari api neraka; hendaknya dia ambil atau dia tinggalkan" [Mutafaqun alaih]

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga telah memerintahkan kepada para qadi untuk mendengarkan kedua belah pihak yang bersengketa. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah berkata kepada Ali bin Abu Thalib:

"Artinya : Wahai Ali jika menghadap kepada engkau dua orang yang bersengketa, janganlah engkau putuskan antara mereka berdua, hingga engkau mendengar dari salah satu pihak sebagaimana engkau mendengarnya dari pihak lain. Sebab jika engkau melakukan demikian, akan jelas bagi engkau, putusan yang akan diambil". [Hadits Riwayat Ahmad]

Oleh sebab itu kejahatan yang paling besar yang dilakukan oleh seorang Muslim adalah diharamkannya perkara-perkara yang sebelumnya halal, disebabkan pertanyaannya. Dalam sebuah hadits riwayat Saad bin Abi Waqas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Artinya : Sesungguhnya kejahatan seorang Muslim yang paling besar adalah bertanya tentang sebuah perkara yang belum diharamkan. Lalu diharamkan disebabkan pertanyaannya". [Mutafaqun Alaih]

Ibnu Thin berkata bahwa kejahatan yang dimaksud adalah menyebabkan kemudharatan atas kaum Muslimin disebabkan pertanyaannya. Yaitu menghalangi mereka dari perkara-perkara halal sebelum pertanyaannya.

Hendaknya orang-orang yang melakukan tindakan berbahaya seperti ini bertaubat kepada Allah. Dan para tokoh kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap orang-orang semacam itu.

[c]. Lalu bagaimana sikap mereka (para Hizbiyin) tatkala telah jelas bahwa bagi para Ulama, demokrasi dan pemilihan suara ini adalah haram disebabkan mafsadah yang ditimbulkannya. Apakah mereka akan mengundurkan diri dari kancah demokrasi dan pemilu itu? atau mereka tetap nekat. Realita menunjukkan bahwa mereka hanya memancing di air keruh. Mereka hanya mencari keuntungan untuk golongannya saja dari fatwa para ulama. Terbukti jika fatwa ulama tidak menguntungkan golongan mereka, maka merekapun menghujatnya dengan berbagai macam pelecehan. Wallahu a'lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Th. III/1420-1999. Disadur dari kitab Tanwiir adz-Dzulumat tulisan Abu Nashr Muhammad bin Abdillah al-Imam dan kitab Madarik an-Nazhar Fi Siasah tulisan Abdul Malik Ramadhani]
Demokrasi Dan Pemilu
Jumat, 2 April 2004 09:15:24 WIB

DEMOKRASI DAN PEMILU


Oleh
Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i


Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan dan berlindung kepadaNya dari keburukan diri kita dan kejelekan amalan kita, siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya dia akan tertunjuki, sedang siapa yang disesatkan Allah tiada yang mampu memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Amma ba'du

Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama supaya mereka menjelaskan kepada manusia tentang apa-apa yang diturunkan kepada mereka (syari'at ini), Allah berfirman.

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya" [Ali-Imron : 187]

Allah melaknat orang yang menyembunyikan ilmunya.

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterang an (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah : 159-160]

Dan Allah mengancam mereka dengan neraka.

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [Al-baqarah : 174]

Sebagai pengamalan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Artinya : Agama itu adalah nasehat, kami bertanya : Bagi siapa wahai Rasulullah ?Jawab beliau : Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan mayarakat umum. [Hadit Riwayat Muslim]

Dan mencermati beragam musibah yang menimpa umat Islam dan pemikiran-pemikiran yang disusupkan oleh komplotan musuh terutama pemikiran import yang merusak aqidah dan syariat umat, maka wajib bagi setiap orang yang dikarunia ilmu agama oleh Allah agar memberi penjelasan hukum Allah dalam beberapa masalah berikut.

DEMOKRASI
Menurut pencetus dan pengusungnya, demokrasi adalah pemerintahan rakyat (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, -pent). Rakyat pemegang kekuasaan mutlak. Pemikiran ini bertentangan dengan syari'at Islam dan aqidah Islam. Allah berfirman.

Artinya : Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. [Al-An'am : 57]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir. [Al-Maidah : 44]

Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak dizinkan Allah ? [As-Syura : 21]

Artinya : Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. [An-Nisa : 65]

Artinya : Dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan.[Al- Kahfi : 26]

Sebab demokrasi merupakan undang-undang thagut, padahal kita diperintahkan agar mengingkarinya, firmanNya.

Artinya : (Oleh karena itu) barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (tali) yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. [Al-Baqarah : 256]

Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja) dan jauhi thagut itu.[An-Nahl : 36]

Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab ? Mereka percaya kepada jibt dan thagut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.[An- Nisa : 51]

DEMOKRASI BERLAWANAN DENGAN ISLAM, TIDAK AKAN MENYATU SELAMANYA.
Oleh karena itu hanya ada dua pilihan, beriman kepada Allah dan berhukum dengan hukumNya atau beriman kepada thagut dan berhukum dengan hukumnya. Setiap yang menyelisihi syari'at Allah pasti berasal dari thagut.

Adapun orang-orang yang berupaya menggolongkan demokrasi ke dalam sistem syura, pendapatnya tidak bisa diterima, sebab sistem syura itu teruntuk sesuatu hal yang belum ada nash (dalilnya) dan merupakan hak Ahli Halli wal Aqdi [1] yang anggotanya para ulama yang wara' (bersih dari segala pamrih). Demokrasi sangat berbeda dengan system syura seperti telah dijelaskan di muka.

BERSERIKAT
Merupakan bagian dari demokrasi, serikat ini ada dua macam :

[a] Serikat dalam politik (partai) dan,
[b] Serikat dalam pemikiran.

Maksud serikat pemikiran adalah manusia berada dalam naungan sistem demokrasi, mereka memiliki kebebasan untuk memeluk keyakinan apa saja sekehendaknya. Mereka bebas untuk keluar dari Islam (murtad), beralih agama menjadi yahudi, nasrani, atheis (anti tuhan), sosialis, atau sekuler. Sejatinya ini adalah kemurtadan yang nyata.

Allah berfirman.

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang yahudi) ; Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan, sedang Allah mengetahui rahasia mereka.[Muhammad : 25]

Artinya : Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.[Al- Baqarah : 217]

Adapun serikat politik (partai politik) maka membuka peluang bagi semua golongan untuk menguasai kaum muslimin dengan cara pemilu tanpa mempedulikan pemikiran dan keyakinan mereka, berarti penyamaan antara muslim dan non muslim.

Hal ini jelas-jelas menyelisihi dali-dalil qath'i (absolut) yang melarang kaum muslimin menyerahkan kepemimpinan kepada selain mereka.

Allah berfirman.

Artinya : Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.[An- Nisa : 141]

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. [An-Nisa : 59]

Artinya : Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian) ; bagaimanakah kamu mengambil keputusan ? [Al-Qolam : 35-36]

Karena serikat (bergolong-golongan ) itu menyebabkan perpecahan dan perselisihan, lantaran itu mereka pasti mendapat adzab Allah. Allah memfirmankan.

Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.[Ali-Imran : 105]

Mereka juga pasti mendapatkan bara' dari Allah (Allah berlepas diri dari mereka). FirmanNya.

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamaNya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. [Al-An'am : 159]

Siapapun yang beranggapan bahwa berserikat ini hanya dalam program saja bukan dalam sistem atau disamakan dengan perbedaan madzhab fikih diantara ulama maka realita yang terpampang di hadapan kita membantahnya. Sebab program setiap partai muncul dari pemikiran dan aqidah mereka. Program sosialisme berangkat dari pemikiran dasar sosialisme, sekularisme berangkat dari dasar-dasar demokrasi, begitu seterusnya.

PERSEKUTUAN DAN KOALISI DENGAN KELOMPOK SEKULER
Tahaluf (persekutuan) adalah kesepakatan antara dua kelompok yang bersekutu pada satu urusan, keduanya saling menolong.

Tansiq (koalisi) adalah suatu tandhim (sistem) yaitu semua partai berada dalam satu sistem yang menyeluruh dan menyatu. Tandhim lebih tertata ketimbang persekutuan.

Bila koalisi ini bertujuan menyokong demokrasi berserikat, pemikiran dan usaha meraih kekuasaan yang dicanangkan oleh partai-partai Islam di beberapa negara Islam bekerjasama dengan partai sekuler maka pungkasannya adalah seperti persekutuan antara orang-orang Yaman dengan partai Bats sosialis untuk melancarkan perbaikan. Persekutuan dan koalisi model begini diharamkan, sebab termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Allah menfirmankan.

Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [Al-Maidah : 2]

Artinya : Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. [Hud : 113]

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [Ali-Imron : 118]

Selain mengandung implikasi terwujudnya kecintaan antara golongan tersebut (antara muslim dan non muslim,-pent) , hal ini juga menggerus pondasi wala' dan bara' (loyalitas dan sikap berlepas diri). Padahal keduanya merupakan tali iman yang terkokoh. Allah berfirman.

Artinya : Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. [Al-Maidah : 51]

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Seseorang itu dikelompokkan bersama orang yang dia cintai.[Muttafaqun Alaihi]

Orang-orang yang melegalkan persekutuan dan koalisi berdalil dengan beberapa dalil, namun dalil-dalil tersebut tidak menunjukkan apa yang mereka kehendaki, diantaranya ;

[A] Persekutuan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Dengan Orang Yahudi

Jawabannya sebagai berikut :
[1] Haditsnya tidak shahih, karena mu'dhal (gugurnya dua orang rawi secara berurutan dalam silsilah sanadnya, -pent)
[2] Pasal-pasal dalam persekutuan yang dijadikan pijakan -jika ini benar- maka menyelisihi isi dari persekutuan tadi.
[3] Hukum bagi yahudi dan bagi orang-orang yang enggan menerapkan syari'at Allah adalah berbeda.
[4] Mereka tidak dalam keadaan terpaksa (dharurat) sebab keadaan dharurat yang sesuai dengan syar'iat tidak terwujud, lantaran syarat darurat tidak ada.
[5] Kalaulah hadits tentang persekutuan Nabi dengan yahudi itu shahih, tetapi hukumnya mansukh (terhapus) dengan hukum-hukum jizyah (upeti yang diserahkan oleh orang-orang non muslim yang berada dalam kawasan negara Islam sebagai imbalan jaminan keamanan dan menetapnya mereka, -pent)
[6] Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjalankan pemerintah Islam, sedangkan jama'ah dan partai yang terjun di medan dakwah tidak boleh memposisikan diri mereka sebagai pemerintah Islam.
[7] Orang-orang yahudi tersebut berada dalam naungan negara Islam, oleh karena itu tidak akan terwujud persekutuan antara golongan yang sederajat.

[B] Persekutuan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Dengan Bani Khuza'ah

Jawabannya sebagai berikut :
[1] Yang benar, Bani Khuza'ah adalah muslimin, buktinya, tersebut dalam sejarah mereka mengatakan : Kami telah memeluk Islam dan kami tidak mencabut ketaatan, namun mereka membunuh kami sedang kami dalam keadaan ruku dan sujud.
[2] Andaikan saja mereka itu masih musyrik, tetapi hukum kafir asli berbeda dengan hukum bagi orang-orang yang menolak hukum Islam.
[3] Isi persekutuan yang ada sekarang ini bebeda dengan isi persekutuan dengan bani Khuza'ah ; pasal-pasal kesepakatan partai itu telah diisyaratkan di muka sedangkan pasal-pasal kesepakatan dengan Khuza'ah tidak mengandung penyelewengan dari kebenaran dan tidak ada kerelaan kepada kebatilan.

[C] Perlindungan Yang Diberikan Muth'im bin Adi dan Abu Thalib Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Jawabannya :
Ini strategi beliau mensiasati keadaan dan beliau masih bebas untuk berdakwah.

KONTRAKDIKSI YANG MENIMPA MEREKA
Suatu kali mereka menyebut Partai Sekuler, kali lain mengatakan Perbedaan golongan ini hanya dalam program bukan perbedaan manhaj, kali lainnya lagi mengucapkan Partai itu sekarang telah murtad, namun mereka telah bertobat, lantaran itu mereka menerima ke-Islaman dan pertobatan mereka. Lantas mengapa mereka berdalih bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersekutu dengan yahudi dan orang-orang musyrik, jika mereka telah memvonis bahwa partai tertentu kafir, lalu mengapa mereka masih mengadakan persekutuan ? Ini kontradiksi yang nyata. Andai taubat mereka jujur, maka menurut syari'at harus memenuhi hal-hal berikut :

[1] Harus mengumumkan pelepasan diri mereka dari keyakinan mereka yang terdahulu dan atribut-atribut ketenaran mereka, dan mengakui kesalahan manhaj mereka yang dahulu.

[2] Menghilangkan anasir yang menentang Islam dari diri mereka secara lahir batin.

Dalih Yang Menjadi Pegangan Mereka Yaitu Perjanjian Hudaibiyyah.

Jawabnya :
[1] Pemerintah Islam berhak mengikat perjanjian dengan musuh mereka jika dipandang maslahatnya lebih banyak ketimbang mafsadahnya.

[2] Pada perjanjian Hudaibiyyah tidak terdapat sikap mengalah, tidak seperti sikap partai-partai itu. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengganti tulisan Ar-Rahman Ar-Rahiim dengan Bismika Allah. Adapun beliau tidak menuliskan kalimat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bukan merupakan bukti bahwa beliau menghapus risalah dari dirinya, tetapi justru mengucapkan : Demi Allah, aku benar-benar utusan Allah.

[3] Terjadinya perjanjian Hudaibiyyah itu menghasilkan maslahat (kebaikan) nyata yaitu pengagungan kemuliaan Allah, bandingkan dengan dampak yang muncul akibat persekutuan dan koalisi tersebut.

[4] Hukum bagi kafir asli dan bagi orang yang enggan menerapkan hukum Islam berbeda.

PEMILIHAN UMUM
Termasuk sistem demokrasi pula, oleh karena itu diharamkan, sebab orang yang dipilih dan yang memilih untuk memegang kepemimpinan umum atau khusus tidak disyaratkan memenuhi syarat-syarat yang sesuai syariat. Metode ini memberi peluang kepada orang yang tidak berhak memegang kepemimpinan untuk memegangnya. Karena tujuan dari orang yang dipilih tersebut adalah duduk di dewan pembuat undang-undang (Legislatif) yang mana dewan ini tidak memakai hukum Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun yang jadi hukum adalah Suara Mayoritas. Ini adalah dewan thagut, tidak boleh diakui, apalagi berupaya untuk menggagas dan bekerjasama untuk membentuknya. Sebab dewan ini memerangi hukum Allah dan merupakan sistem barat, produk yahudi dan nashara, oleh karena itu tidak boleh meniru mereka.

Bila ada yang membantah : Sebab di dalam syari'at Islam tidak terdapat metode tertentu untuk memilih pemimpin, lantaran itu pemilu tidak dilarang.

Jawabannya : Pendapat tersebut tidak benar, sebab para sahabat telah menerapkan metode tersebut dalam memilih pemimpin dan ini merupakan metode syar'i. Adapun metode yang ditempuh partai-partai politik, tidak memiliki patokan-patokan pasti, ini sudah cukup sebagai larangan bagi metode itu, akibatnya orang non muslim berpeluang memimpin kaum muslimin, tidak ada seorangpun dari kalangan ahli fikih yang membolehkan hal itu.

AKTIVITAS POLITIK
Partai-partai politik memiliki kesepakatan- kesepakatan antara mereka untuk tidak saling mengkafirkan dan bersepakat untuk mengukuhkan dasar-dasar demokrasi. Sedangkan hukum Islam dalam masalah ini adalah mengkafirkan orang-orang yang telah dikafirkan oleh Allah dan RasulNya, memberi cap fasiq kepada orang yang di cap fasiq oleh Allah dan RasulNya dan memberi cap sesat kepada orang yang diberi cap sesat oleh Allah dan RasulNya. Islam tidak mengenal pengampunan (grasi/amnesti dari pemerintah, -pent). Mengkafirkan seorang muslim yang tercebur dalam maksiat bukan termasuk manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah selama dia tidak menghalalkan kemaksiatan tersebut. Adapun undang-undang produk manusia diantaranya undang-undang Yaman, telah dijelaskan oleh ulama Yaman bahwa di dalamnya terkandung penyelisihan terhadap syari'at.

METODE DAKWAH KITA YANG WAJIB DIKETAHUI OLEH MASYARAKAT
[1] Kita mendakwahi manusia untuk berpegang dengan Al-Qur'an dan Sunnah secara hikmah, nasehat yang baik selaras dengan pemahaman para Salaf.

[2] Kita memandang bahwa kewajiban syar'i terpenting adalah menghadapi pemikiran import dan bid'ah-bid'ah yang disusupkan ke dalam Islam dengan cara menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dakwah, menggugah kesadaran umat, meluruskan keyakinan-keyakinan dan pemahaman yang keliru dan menyatukan kaum muslimin dalam lingkup semua tadi.

[3] Kami memandang bahwa umat Islam tidak membutuhkan revolusi, penculikan dan penyebaran fitnah. Namun yang dibutuhkan adalah pendidikan iman dan pemurnian. Ini merupakan saran paling vital untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat.

[4] Sebagai penutup kami akan memperingatkan bahwa motif yang melatari munculnya uraian ini adalah kami melihat sebagian ulama dan khususnya ulama negara Yaman membicarakan permasalahan yang dipakai pijakan oleh partai-partai politik Islam. Mereka bermaksud meletakkan landasan syar'i bagi permasalahan tersebut, padahal masalah tersebut mengandung kontradiksi dan kesalahan-kesalahan ditinjau dari sisi syar'i. Perlu diketahui bahwa mereka tidak mewakili kaum muslimin namun hanya mewakili diri mereka sendiri dan partai mereka saja. Yang jadi mizan adalah dalil bukan jumlah mayoritas dan bukan desas-desus.

Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada pemimpin kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabat beliau. Segala puji bagi Allah.

Penandatangan fatwa ini adalah :
[1] Syaikh Muhamad Nashiruddin Al-Albani
[2] Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i
[3] Syaikh Abdul Majid Ar-Rimi.
[4] Syaikh Abu Nashr Abdullah bin Muhammad Al-Imam
[5] Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washshabi, dll.

[Dialih bahasakan dari Majalah Al-Ashalah, edisi 2 Jumadil Akhir 1413H, oleh Abu Nuaim Al-Atsari, Disalin ulang dari Majalah Al-Furqon, edisi 7/Th III. Hal.39-43]

Foote Note.
[1] Ahlu Halli wal Aqdi tersusun dari dua kata Al-Hillu dan Al-Aqdu. Al-Hillu berarti penguraian, pelepasan, pembebasan dll. Sedang Al-Aqdu berarti pengikatan, penyimpulan, perjanjian dll. Maksudnya yaitu semacam dewan yang menentukan undang-undang yang mengatur urusan kaum muslimin, perpolitikan, manajemen, pembuatan undang-undang, kehakiman dan semisalnya. Semua hal tersebut suatu saat bisa direvisi lagi dan disusun yang baru [Lihat kitab Ahlu Halli wal Aqdi, Sifatuhum wa Wadha'ifuhum. Dr Abdullah bin Ibrahim At-Thoriqi, Rabithah Alam Islami, -pent]


Info

Berita Duka kepergian salah seorang Ulama Rabbani

Sumber : AUDIOSALAF

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un Telah meninggal dunia pada 19 Rajab 1429 H atau bertepatan dengan 23 Juli 2008 pagi hari, Asy Syaikh Al Allamah Al Muhadits Ahmad bin Yahya An Najmi-Rahimahullah

Telah datang pada kami khabar bahwa Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya binMuhammad An-Najmi salah seorang ulama ahlussunnah pengibar benderasunnah, telah wafat pada hari rabu sore, 23 Juli 2008. Semoga Allohsubhanahu wa ta'ala merahmatinya dan mengumpulkan dirinya kepada orang-orang yang dikasihi Robb jalla wa'ala.Diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengarRasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allahtidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapiDia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allahtidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkatpemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya,mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat danmenyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)~~~~~~~~~~~~~~~~~Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi Mufti Daerah JizaanPenulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-MadkhaliKedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini.Allah Ta'ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalamTanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalammutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahukadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak merekadapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalahbagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan merekalewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidakmerendahkan mereka.Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini.Allah Ta'ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalamTanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalammutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahukadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak merekadapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalahbagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan merekalewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidakmerendahkan mereka. Telah datang ayat-ayat Qur`an, hadits-haditsnabawiyah dan atsar-atsar pilihan yang berisi larangan dari perbuatantersebut. Satu dari ulama rabbani yang memiliki hak untuk kitamuliakan adalah As-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, seorang alim yangsekarang menjadi mufti di daerah Jizaan. Salah seorang murid beliau,As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali menuturkan secararingkas cerita hidup beliau sebagaimana dinukilkan dalam Ibrah kaliini. Semoga semangat ilmiah dan amaliyah beliau dapat menjadi ibrahbagi kita.NAMA DAN NASAB BELIAUBeliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-Musnad, Al-Faqih, mufti daerah Jizaan, pembawa bendera sunnah danhadits di sana. As-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syabir An-Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad, salah satu kabilah yangterkenal di daerah Jizaan.Terlahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 hijriyah, beliautumbuh dalam asuhan dua orang tua yang shalih. Keduanya bahkanbernadzar untuk Allah dalam urusan putranya ini, yaitu mereka berduatidak akan membebani Ahmad An-Najmi kecil dengan satu pun daripekerjaan dunia. Dan sungguh Allah telah merealisasikan apa yangdiinginkan pasangan hamba-Nya ini.Ayah dan ibu yang shalih ini menjaga beliau dengan sebaik-baiknya,sampai-sampai keduanya tidak meninggalkan beliau bermain bersama anak-anak yang lain. Ketika mencapai usia tamyiz, ayah dan ibu yang muliaini memasukkan beliau ke tempat belajar yang ada di kampungnya. Disini beliau belajar membaca dan menulis. Demikian pula membaca Al-Qur`an, beliau pelajari di sini sampai tiga kali sebelum kedatangan As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii rahimahullah pada tahun 1358 hijriyah.Pertama kali beliau membaca Al-Qur`an di bawah bimbingan As-SyaikhAbduh bin Muhammad Aqil An-Najmi tahun 1355 hijriyah. Kemudian beliaumembacanya di hadapan As-Syaikh Yahya Faqih Absi -seorang yangberpemahaman Asy'ari- yang semula merupakan penduduk Yaman lalu datangdan bermukim di Najamiyah. Tahun 1358, As-Syaikh Ahmad An-Najmi masihbelajar pada orang ini. Ketika datang As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawiiterjadi perdebatan antara keduanya (antara As-Syaikh Yahya Faqih Absidan As-Syaikh Al-Qar'aawii) dalam masalah istiwa. Dan Allah Ta'alaberkehendak untuk memenangkan Al-Haq hingga As-Syaikh Yahya yangAsy'ari ini kalah dan pada akhirnya meninggalkan Najamiyah.SEKITAR KISAH BELIAU DALAM BELAJAR ILMUPada tahun 1359, setelah perginya guru beliau yang berpemahamanAsy'ari, As-Syaikh Ahmad An-Najmi bersama kedua paman beliau, As-Syaikh Hasan dan As-Syaikh Husein bin Muhammad An-Najmi seringmenjumpai As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawi di kota Shaamithah. Kemudianpada tahun berikutnya beliau masuk ke Madrasah As-Salafiyah. Dan padakali ini beliau membaca Al-Qur`an dengan perintah As-Syaikh AbdullahAl-Qar'aawii rahimahullah di hadapan As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamlirahimahullah. Beliau menghafal Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid,Ats-Tsalatsatul Ushul, Al-Arba'in An-Nawawiyah dan Al-Hisab. Beliaujuga memantapkan pelajaran khath.Di Madrasah As-Salafiyah, As-Syaikh Ahmad An-Najmi yang masih beliaini duduk di majlis yang ditetapkan oleh As-Syaikh Al-Qar'aawii sampaimurid-murid kecil pulang ke rumah masing-masing setelah shalat dhuhur.Namun As-Syaikh Ahmad An-Najmi tidak ikut pulang bersama mereka.Beliau malah ikut masuk ke halaqah yang diperuntukkan bagi orangdewasa / murid-murid senior yang diajari langsung oleh As-Syaikh Al-Qar'aawii. Beliau duduk bersama mereka dari mulai selesai shalatdhuhur sampai datang waktu Isya. Setelah itu baru beliau kembalibersama kedua paman beliau ke kediamannya.Hal demikian berlangsung sampai empat bulan hingga akhirnya As-SyaikhAl-Qar'aawii mengijinkan beliau untuk bergabung dengan halaqah kibaarini. Di hadapan As-Syaikh Al-Qar'aawii beliau membaca kitab Ar-Rahabiyah dalam ilmu Fara'id, Al-Aajurumiyah dalam ilmu Nahwu, KitabutTauhid, Bulughul Maram, Al-Baiquniyah, Nukhbatul Fikr dan syarahnyaNuzhatun Nadhar, Mukhtasharaat fis Sirah, Tashriful Ghazii,Al-'Awaamil fin Nahwi Mi'ah, Al-Waraqaat dalam Ushul Fiqih, Al-AqidahAth-Thahawiyah dengan syarah / penjelasan dari As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii sebelum mereka diajarkan Syarah Ibnu Abil 'Izzi terhadapAqidah Thahawiyah ini. Beliau juga mempelajari beberapa hal dari kitabAl-Alfiyah karya Ibnu Malik, Ad-Durarul Bahiyah dengan syarahnya Ad-Daraaril Mudliyah dalam fiqih karya Al-Imam Syaukani rahimahullah. Danmasih banyak lagi kitab lainnya yang beliau pelajari, baik kitabtersebut dipelajari secara kontinyu -sebagaimana kitab-kitab yangdisebutkan di atas- maupun kitab-kitab yang digunakan sebagaiperluasan wawasan dari beberapa risalah-risalah dan kitab-kitab kecildan kitab-kitab yang dijadikan rujukan ketika diadakan pembahasanilmiyah seperti Nailul Authar, Zaadul Ma'aad, Nurul Yaqin, Al-Muwatha'dan kitab-kitab induk (Al-Ummahat).Pada tahun 1362 hijriyah, As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii mengajarkandi halaqah kibar ini kitab-kitab induk yang ada di perpustakaan beliauseperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa'idan Muwaththa' Imam Malik. Mereka yang membacakan kitab-kitab tersebutdi hadapan beliau. Namun mereka tidak sampai menyelesaikan kitab-kitabtersebut karena mereka harus berpisah satu dengan lainnya disebabkanpaceklik yang menimpa.Dan dengan keutamaan dari Allah, pada tahun 1364 mereka dapat kembalike tempat belajar mereka dan melanjutkan apa yang semula merekatinggalkan. As-Syaikh Abdullah kemudian memberi izin kepada As-SyaikhAhmad An-Najmi untuk meriwayatkan kitab induk yang enam (Al-Ummahat As-Sitt).Waktu berjalan hingga sampai pada tahun 1369. Beliau berkesempatanuntuk belajar kitab Ishlahul Mujtama' dan kitab Al-Irsyad ilaMa'rifatil Ahkam karya As-Syaikh Abdurrahman bin Sa'di rahimahullahdalam masalah fiqih yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Dua kitabini beliau pelajari dari As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-'Amuudirahimahullah seorang qadli daerah Shaamith pada waktu itu. Beliauberkesempatan pula untuk belajar Nahwu pada As-Syaikh Ali bin SyaikhUtsman Ziyaad Ash-Shomaalii dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii rahimahullah dengan membahas kitab Al-'Awwamil fin NahwiMi'ah dan kitab-kitab lainnya.Tahun 1384, beliau hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-'AllamahMufti negeri Saudi Arabia As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikhrahimahullah selama hampir dua bulan untuk mempelajari tafsir dalamhal ini Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan pembaca kitab Abdul AzizAsy-Syalhuub. Pada tahun yang sama beliau juga hadir dalam halaqahSyaikh Al-Imam Al-'Allamah As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahselama kurang lebih satu setengah bulan guna mempelajari ShahihBukhari. Majelis yang terakhir ini diadakan antara waktu Maghrib danIsya'.GURU-GURU BELIAUSyaikh Ahmad An-Najmi memiliki beberapa orang guru sebagaimana bisadibaca pada keterangan di atas. Guru-guru beliau adalah:1) As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-'Amuudi, seorang qadli di daerahShaamithah pada zamannya.2) As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami3) As-Syaikh Al-Allamah Ad-Da'iyah Al-Mujaddid di daerah selatankerajaan Saudi Arabia Abdullah Al-Qar'aawii, beliau adalah guru yangpaling banyak memberikan faedah kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi.4) As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi5) As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli6) As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaali7) As-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Mufti negeri Saudi Arabia yang dahulu,Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh.8) As-Syaikh Yahya Faqih Absi Al-YamaniMURID-MURID BELIAUAs-Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahullah memiliki murid yang sangatbanyak, seandainya ada yang mencoba menghitungnya niscaya iamembutuhkan ribuan lembaran kertas. Namun di sini cukup disebutkantiga orang saja yang ketiganya masyhur dalam bidang keilmuan. Merekaadalah:1) As-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits penolong Sunnah, As-Syaikh Rabi'bin Hadi Al-Madkhali.2) As-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.3) As-Syaikh Al-Alim Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqiihi.KECERDASAN BELIAUAllah Ta'ala menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang tinggisekali. Berikut ini kisah yang menunjukkan kecerdasan dan kemampuanmenghafal beliau sejak kecil -semoga Allah menjaga beliau-:Berkata As-Syaikh Umar bin Ahmad Jaradii Al-Madkhali -semoga Allahmemberi taufik kepada beliau-: "Tatkala As-Syaikh Ahmad An-Najmi hadirbersama kedua pamannya Hasan dan Husein An-Najmi di Madrasah As-Salafiyah di Shaamithah, tahun 1359 hijriyah, umur beliau saat itu 13tahun namun beliau mampu mendengarkan dan memahami pelajaran-pelajaranyang disampaikan oleh As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii kepada murid-murid seniornya. Dan beliau benar-benar menghafal pelajaran-pelajarantersebut."Aku katakan (yakni As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali):"Inilah yang menyebabkan As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawiimenggabungkannya pada halaqah kibaar yang beliau tangani sendiripengajarannya. Beliau melihat bagaimana kepandaiannya, kecepatanhafalannya dan kecerdasannya."KESIBUKAN BELIAU DALAM MENYEBARKAN ILMUAs-Syaikh Ahmad An-Najmi menyibukkan dirinya dengan mengajar dimadrasah-madrasah milik gurunya As-Syaikh Al-Qar'aawii rahimahullahsemata-mata karena mengaharapkan pahala. Pada tahun 1367 hijriyahbeliau mengajar di kampungnya An-Najamiyah. Lima tahun kemudian (tahun1372) beliau pindah ke tempat yang bernama Abu Sabilah di Hurrats. Disana beliau menjadi imam dan guru. Pada tahun berikutnya ketika dibukaMa'had Ilmi di Shaamithah, beliau menjadi guru di sana sampai tahun1384 hijriyah. Saat itu beliau memutuskan untuk safar ke Madinah gunamengajar di Jami'ah Al-Islamiyah di sana, namun ternyata beliaumendapat tugas yang lain sehingga beliau harus kembali ke daerahJaazaan. Di sini Allah menghendaki agar beliau menjadi seorangpenasehat dan pemberi bimbingan, dan beliau menjalankan tugas beliaudengan sebaik-baiknya.Tahun 1387, beliau mengajar di Ma'had Ilmi di kota Jazaan sesuaidengan permintaan beliau. Pada awal pengajaran tahun 1389 beliaukembali mengajar di Ma'had Shaamithah dan beliau tinggal di sanasebagai guru hingga tahun 1410.Sejak saat itu sampai ditulisnya biografi ini, beliau menyibukkan diridengan mengajar di rumahnya dan di masjid yang berdekatan dengan rumahbeliau serta di masjid-masjid lain dengan tetap menjalankan tugasbeliau sebagai mufti.Beliau -hafidhahullah- dengan semua aktifitas ilmiahnya telahmenjalankan wasiat gurunya untuk terus mengajar dan menjaga /memperhatikan para pelajar, khususnya pelajar asing dan mereka yangterputus bekal / nafkahnya dalam penuntutan ilmu. Dan kita dapatkanbeliau -semoga Allah menjaganya- memiliki kesabaran yang menakjubkan.Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas apa yang telah diaberikan kepada kita.Dengan wasiat As-Syaikh Al-Qar'aawii juga, beliau terus melakukanpembahasan ilmiyah dan mengambil faedah, khususnya dalam ilmu haditsdan fiqih serta ushul ilmu hadits dan ushul fiqih, hingga beliaumencapai keutamaan dengannya melebihi teman-temannya. Semoga Allahmemberkahi umur beliau dan ilmu beliau, dan semoga Allah memberimanfaat dengan kesungguhan beliau.KARYA ILMIAH BELIAUBeliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, sebagiannya sudahdicetak dan sebagian lagi belum dicetak. Semoga Allah memudahkandicetaknya seluruh karya beliau agar kemanfaatannya tersampaikan padaummat. Di antara karya beliau:1) Awdlahul Irsyad fir Rad 'ala Man Abaahal Mamnuu' minaz Ziyaarah2) Ta'sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, telah dicetak dari karya inisatu juz yang kecil / tipis sekali.3) Tanzihusy Syari'ah 'an Ibaahatil Aghaanil Khali'ah.4) Risalatul Irsyaad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihaad.5) Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah6) Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud.7) Al-Mawridul 'Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada 'ala Ba'dlil ManaahijidDa'wiyah minal 'Aqaaid wal A'maal.Dan masih banyak lagi dari tulisan-tulisan beliau yang bermanfaat yangbeliau persembahkan untuk kaum muslimin, semoga Allah membalas beliaudengan sebaik-baik pahala dan semoga Allah menjadikannya bermanfaatbagi Islam dan muslimin.Demikian akhir biografi beliau yang dapat kami haturkan pada parapembaca, walhamdulillah ***

(Diterjemahkan secara ringkas oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari dari mukaddimah kitab Al-Mawridul 'Udzbuz Zalaal fiimaaIntaqada 'ala Ba'dlil Manaahijid Da'wiyah minal 'Aqaaid wal A'maal,hal 3-10).

Tabligh Akbar


Siapakah Sururi ?

Silahkan download dulu artikelnya: download SURURIYYAH

Sumber : Salafy UNPAD

Oleh
Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr Hafizhahullah (Murid Senior Syaikhuna Al Albani Rahimahullah).


Sururiyah (pemahaman Surur) adalah Jamaah Hizbiyyah. Muncul pada tahun-tahun terakhir ini. Tidak dikenal kecuali pada seperempat akhir abad ini. Karena semenjak dahulu hingga sekarang, ia berselimut Salafiyyah. Pada hakekatnya, Sururiyah memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, bergerak secara sirriyah (sembunyi-sembunyi/rahasia). Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga: Bin Baaz, Al-Albani dan Utsaimin. Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salafiyyah secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan. Sampai menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dengan ahli bidah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan. Alangkah besar dosanya. Kalimat yang keluar dari mulut mereka.


Orang yang tidak menghormati para ulama, dia adalah para penyeru fitnah. Orang-orang yang merendahkan Al-Albani, Bin Baz dan Utsaimin di zaman kita, maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pembuat fitnah, dia berada di pinggir jurang yang dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kepadanya dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yang Rabbani.

Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah Salafiyyah, tetapi manhaj mereka Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, karena mereka berbaju Salafiyyah.

Kita memohon kepada Allah Taala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, dan agar kelak mereka bersama dengan Salafiyyah yang murni, yang para Sahabat Rasulullah dan para tabiin berada diatasnya.

Tambahan Redaksi Majalah As-Sunnah:
Sururiyah adalah nisbat kepada seseorang yang bernama Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin. Dia pernah menjadi guru di Arab Saudi dalam waktu yang cukup lama, sehingga memungkinkan menjalankan rencananya dan menyebarkan racunnya di tengah-tengah para pemuda. Tetapi setelah nampak keburukan niatnya, dia pergi, lalu bermukim di kota London, Inggris, sebuah negara kafir.

Di antara kesesatan dan penyimpangan Muhammad Surur ini adalah:

[1]. Merendahkan Kitab-Kitab Aqidah Salafiyyah Dan Berlebihan Dengan Fiqhul Waqi.
Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya fi Dakwah Ila Allah I/8: Aku memperhatikan kitab-kitab aqidah, maka aku lihat kitab-kitab itu ditulis bukan pada zaman kita. Sehingga kitab-kitab itu sebagai solusi berbagai permasalahan dan kemusykilan pada zaman ditulisnya kitab-kitab tersebut. Sedangkan pada zaman kita terdapat berbagai kemusykilan yang membutuhkan solusi yang baru. Kerena itulah model kitab-kitab aqidah itu sangat kering, karena hanya berisi nash-nash dan hokum-hukum. Karena inilah kebanyakan pemuda berpaling darinya dan tidak menyukainya.

Perkataan orang ini tentulah sangat menyesatkan, karena kitab-kitab aqidah yang berisi nash-nash dan hukum-hukum merupakan kebenaran hakiki. Sedangkan berpaling darinya akan menjerumuskan kepada pendapat si Fulan dan Fulan yang tidak jelas kebenarannya.

[2]. Beraqidah Takfir Bil Mashiyah, Yaitu Mengkafirkan Kaum Muslimin Dengan Sebab Maksiat.
Dia mengkafirkan para penguasa zhalim, sehingga dia banyak mencela para penguasa dan menerjuni medan politik ala Barat!

Dia berkata di dalam majalahnya yang terbit di London, majalah As-Sunnah no: 26, Jumadal Ula 1413H, hal: 2-3 (Tidak ada hubungan sama sekali dengan Majalah As-Sunnah kita ini): Dizaman ini perbudakan memiliki tingkatan-tingkatan yang berbentuk piramida:

Tingkatan Pertama:
Presiden Amerika Serikat, George Bush, duduk bersila di atas singgasananya, yang besok akan diganti Clinton.

Tingkatan Kedua:
Tingkatan penguasa negara-negara Arab. Mereka ini berkeyakinan bahwa kebaikan dan bahaya mereka di tangan Bush (Bagaimana dia bisa memastikan aqidah mereka seperti itu? Apakah dia telah membedah dada mereka? Atau mereka memberitahukan kepadanya? Maha suci Engkau wahai Allah, sesungguhnya hal ini merupakan kedustaan yang besar!-red). Oleh karena inilah mereka berhajji kepada (mengunjungi) nya, serta mempersembahkan nadzar-nadzar dan kurban-kurban (Perkataan ini merupakan pengkafiran secara nyata kepada Penguasa yang zhalim! -red).

Tingkatan Ketiga:
Para pengiring penguasa negara-negara arab, dari kalangan menteri, wakil menteri, komandan tentara, dan para penasehat. Mereka ini bersikap nifaq kepada tuan-tuan mereka, menghias-hiasi segala kebatilan dengan tanpa malu dan ahlaq.

Tingkatan Keempat, Kelima dan Keenam:
Para penjabat tinggi pada kementerian. Sesungguhnya perbudakan pada zaman dahulu sederhana, karena seorang budak memiliki seorang tuan secara langsung, tetapi sekarang perbudakan itu kompleks. Aku tidak habis fikir, tentang orang yang membicarakan tauhid, tetapi mereka adalah budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak. Tuan mereka yang akhir adalah seorang Nashrani (Alangkah keji dan lancangnya perkataan yang ditujukan kepada para ulama yang dimuliakan oleh Allah Taala ,-red).
Perkataan orang ini dengan jelas menunjukkan kesesatan dan kedustaan yang nyata!.

[3] .Juga Mengkafirkan Rakyat Karena Maksiat Yang Mereka Lakukan.
Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya Fi Dakwah ila Allah I/158: Tidaklah aneh jika problem laki-laki mendatangi laki-laki (homo seksual) merupakan permasalahan paling penting di dalam dakwah Nabi Luth. Kerena seandainya kaumnya menyambut dakwahnya untuk beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, maka sambutan mereka itu tidak ada maknanya, jika mereka tidak meninggalkan kebiasaan keji yang telah mereka sepakati itu.

Itulah aqidah sesat Surur! Adapun aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah terhadap pelaku dosa besar telah mansyur, yaitu tidak keluar dari iman, tetapi imannya berkurang, dan dia dikhawatirkan terkena siksaaan Allah Taala.

[4]. Memusuhi Dan Mencela Para Ulama Ahlus Sunnah As-Salafiyyin.
Dia berkata di majalahnya yang terbit di London, Majalah As-Sunnah no. 23, Dzulhijjah-1412 H hal. 29-30: Dan jenis manusia yang lain (Yang dimaksudkan adalah para ulama Arab Saudi ,-red) mengambil (yakni mengambil bantuan resmi) dan mengikatkan sikap-sikap mereka dengan sikap para tuan mereka (yang dimaksud dengan tuan mereka disini adalah para penguasa Arab Saudi). Maka jika sang tuan minta bantuan Amerika (Dia membicarakan masalah permintaan tolong kepada Amerika pada waktu perang teluk-red), para budak pun berlomba mengumpulkan dalil-dalil yang membolehkan perbuatan ini, dan mengingkari orang-orang yang menyelisihi mereka. Jika sang tuan berselisih dengan Iran Rafidhah, para budakpun membicarakan kebusukan Rafidhah. Dan jika perselisihan berhenti, para budakpun diam dan berhenti membagikan buku-buku yang diberikan kepada mereka. Jenis manusia ini: mereka berdusta, memata-matai, menulis laporan-laporan, dan melakukan segala sesuatu yang diminta oleh sang tuan kepada mereka. Mereka ini jumlahnya sedikit -al-hamdulillah-, mereka adalah orang-orang asing di dalam dakwah dan amal islami. Dokumen mereka telah terbongkar, walaupun mereka memanjangkan jenggot, memendekkan pakaian, dan menyangka sebagai penjaga sunnah. Adanya jenis manusia tersebut tidaklah membahayakan dakwah Islam. Kemunafikan sudah ada sejak dahulu.

Alangkah sesatnya perkataan ini, karena memperolok-olok sunnah Nabi dapat membawa kepada kekafiran! Membenci ulama Ahlus Sunnah adalah ciri utama Ahli Bidah! Dan kesesatan-kesesatan lainnya.

Lihat:
[1] Fitnah Takfir Wal Hakimiyah, hal: 93, Karya: Muhammad bin Abdullah Al-Husain.
[2] Al-Ajwibah Al-Mufidah An As-ilah Al-Manhaji Al-Jiddah, Bagian Pertama hal. 45-48
[3] Nazharat Fi Kitab Manhajul ambiya Fi Dakwah ila Allah, karya : Syaikh Ahmad Sallam.
[4] Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Farifuuha, karya: Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-Adnani
[5] Al-Irhab, Karya: Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Makhdali.
[6] Dan lain-lain.


Peringatan:
Sebagian orang menuduh kami (redaksi dan ustad-ustad Salaf lainnya ,-pen) sebagai sururi, yakni mengikuti pemahaman sesat Muhammad bin Surur, kemudian mereka memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kami. Padahal sifat-sifat sururi tidak ada pada kami. Bahkan sifat-sifat itu banyak melekat pada orang-orang yang telah menuduh.

Maka disini kami nasehatkan dengan beberapa ayat dan hadits tentang bahaya menyakiti kaum muslimin, dan memfitnah mereka dengan perkara yang tidak ada pada mereka. Semoga Allah Taala memberikan petunjuk-Nya kepada mereka sehingga segera kembali ke jalan yang benar. Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan dicatat dan tidak akan dilupakan!

Allah Taala berfirman:

Artinya : (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu usapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [Al-Israa : 17-18]

Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti dimintai pertanggung-jawaban!

Allah Taala berfirman:

Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Al-Israa : 36]

Ketahuilah bahwa menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, merupakan kebohongan dan dosa yang nyata!

Allah taala berfirman:

Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Al-Ahzab :58]

Ketahuilah bahwa satu kalimat saja dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat!.

Rasulullah bersabda:

Artinya : Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat. [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah].

Rasulullah memperingatkan bahaya tuduhan yang tidak benar dengan sabdanya:

Artinya Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu. [HR. Bukhari dari Abu Dzar].

Beliau juga memberitakan ancaman bagi orang yang membuat fitnah atas seorang mukmin dengan abdanya:

ÃArtinya : Barangsiapa berbicara tentang seorang mukmin apa yang tidak ada padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni neraka sampai dia keluar dari apa yang telah dia ucapkan, dan dia tidaklah akan keluar! [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ruyah Waqiiyyah hal: 84]

Hendaklah saudara-saudaraku mengetahui, kalau hanya sekedar tuduhan, maka dengan sangat mudah setiap orang akan dapat melakukannya.

Tetapi hal itu bukanlah manhaj Salaf. Karena manhaj mereka adalah mengawasi apa saja yang muncul dari lisan, atau apa yang digerakkan oleh lisan, dan menegakkan hujjah terhadap setiap kalimat yang dibicarakan oleh bibir. Adapun melepaskan tuduhan-tuduhan, melepaskan istilah-istilah kasar, menyelinapkan prasangka-prasangka rusak, memunculkan gelar-gelar keji, semua itu merupakan kebatilan dan perkataan yang dusta.

Sesungguhnya Allah Taala mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya terakhir, ingatlah sabda Rasulullah :

Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan segala yang telah dia dengar. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah dari Hafsh bin Ashim]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Wallahu ta'ala a'lam

Murottal

Juz 30 Hani Ar-Refa'i

Silahkan klik gambar berikut ini untuk mendownload murottal
Hani Ar-Refa'i juz 30 lengkap:

Software

Pemutar Video & Audio Terbaru

Codec 400 Full merupakan software terbaru untuk memutar berbagai macam format video & audio yang lengkap. Seperti FLV, 3gp, wma, rmvb,dll. Codec 400 Full merupakan update dari Codec 395 pada tanggal 7 Juli 2008.

Silahkan klik gambar berikut ini untuk mendownloadnya:


Anti Virus

Deep Freeze Versi 6

Silahkan klik gambar berikut ini untuk mendownloadnya:

Software Islami

Program Azan For PC


Silahkan klik gambar berikut ini untuk mendownloadnya:

Al-Qur'an

Al-Qur'an Digital Versi 2.1

Silahkan klik gambar berikut ini untuk mendownloadnya:



Silahkan download dulu artikelnya: download SURURIYYAH

Oleh Al-Ustadz Abu Umar Basyir Al-Maidani (Pengajar Ponpes Al-Ukhuwwah, Sukoharjo)

Di saat gencar-gencarnya dakwah Ahlussunnah berkembang di negeri kita ini, sebagai kelanjutan dari pelbagai usaha dakwah yang telah ditempuh oleh bahkan kalangan juru dakwah semenjak dahulu, muncullah sebuah delema unik: Sururiyyah. Keunikan itu bukan dari fenomena Sururiyyah, yang juga telah banyak dijelaskan oleh para ulama Ahlussunnah di berbagai negeri Islam, tapi justru pada penempatan kata tersebut dan penyematannya pada pribadi atau golongan tertentu yang terkesan ‘ngawur’ dan tidak didasari oleh unsur keikhlasan, tanpa bimbingan para ulama secara cermat, sehingga jadilah fenomena ini sebagai dilema unik, yang dijamin, di Indonesialah keunikan itu terlihat paling kelihatan!

Sungguh benar yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya,
“Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh menusia, tak ubahnya aliran darah.”i

Saat semangat generasi Islam dari berbagai lapisan sudah mulai menggeliat menggapai nilai-nilai Islam untuk diterapkan pada berbagai aspek kehidupan, generasi Ahlussunnah tentu saja berada di barisan terdepan. Generasi Ahlussunnah, atau juga dikenal dengan dengan salafiyyun, dari hari ke hari juga semakin menampakkan perwujudannya sebagai Thaifah Manshurah (golongan yang mendapat pertolongan) atau Firqatun Najiyah (golongan yang selamat). Komitmen mereka terhadap ajaran As-Sunnah semakin menonjol saja. Namun, setan memang tidak pernah beristirahat menggoda anak cucu Adam.

“Setan sudah putus asa disembah oleh kaum muslimin. Namun, yang ia upayakan adalah menanamkan hasad di antara mereka.”ii

Bibit kedengkian itulah yang mungkin semakin menggurita sehingga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi generasi Ahlussunnah. Saat di antara mereka yang ‘menganggap suci diri sendiri’, di saat tidak sedikit di antara mereka ingin dianggap sebagai pelopor dakwah paling utama, di saat sekian banyak di antara mereka tenggelam dalam keasyikan mengecam dan mencaci maki kaum muslimin yang dianggap masih jauh dari kebenaran, saat itulah, bibit kedengkian meledak menjadi obor permusuhan. Yang menjadi korban tidak tanggung-tanggung, bukan saja kalangan juru dakwah yang memiliki pelbagai persoalan pribadi dengan mereka, tapi juga masyarakat awam yang tidak tahu menahu tentang permasalahan yang terjadi. Masyarakat awam yang sebenarnya sedang hangat-hangatnya semangat mereka untuk menuntut ilmu. Kelompok tersebut menggunakan kata “Sururiyyah” sebagai salah satu peluru andalan. iii

Apa Itu Sururiyyah?
Sururiyyah adalah bentuk kata yang disandarkan kepada nama seorang juru dakwah bernama ‘Muhammad surur Zainal Abidin’, yang konon bermukim di Birmingham, Inggris.

Pada awalnya, orang yang satu ini dikenal cukup konsis dengan pemahaman Ahlussunnah. Namun kemudian, terutama pasca perang teluk, ia mulai menggeluti sebuah pemikirang nyeleneh yang berusaha mengakomodir banyak pemikiran gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimin kedalam pemikiran Ahlussunnah. Keyakinan atau pemikiran ‘gado-gado’ itu, kemudian ia kembangkan dan ia klaim sebagai penyempurnaan dari pemikiran Ahlussunnah klasik. Kampanyenya itu disambut oleh banyak tokoh dakwah di berbagai belahan dunia (khususnya dari kalangan Al-Ikhwan Al-Muslimun atau yang sepemikiran dengan mereka). Akhirnya, memang pemikiran itu menjadi musibah cukup menakutkan di kalangan kaum muslimin. Pemikiran itu kemudian juga dikenal sebagai pemikiran Quthbiyyah.
Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad mengatakan, “Kalangan Quthbiyyah (dinisbatkan kepada Sayyid Quthub yang merupakan pemola dasar pemikiran Sururiyyah secara teoritis) dan Sururiyyah tidak bisa dikatakan sebagai Ahlus Sunnah, karena kedua kelompok itu memiliki banyak penyelewengan dalam permasalahan-permasalahan yang sangat serius. Di antaranya, mereka memiliki keyakinan takfir (memfonis kafir sesama muslim) dengan tanpa dalil sedikitpun, baik secara istidlal akal maupun pemahaman nash. Mereka juga memiliki kesalahan yang sangat berat dan fatal berkaitan dengan perkara yang paling besar pula permasalahannya dalam agama Islam, yaitu permasalahan aqidah. Bahkan mereka memaklumkan perang secara hebat terhadap Ahlus Sunnah, baik sebagai pribadi rakyat biasa atau pemerintah.” iv

Melalui penjelasan dari banyak kalangan Ahlussunnah, dapat disimpulkan bahwa kalangan Sururiyyah memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. Lebih banyak memfokuskan diri mengkaji pelbagai persoalan politis ketimbang mempelajari ilmu-ilmu syariat.
2. Kurang mengindahkan bimbingan dan fatwa para ulama, terutama bila bertentangan dengan hawa nafsu dan manhaj yang mereka gandrungi.
3. Seringkali mengecam dan melecehkan Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan menuduh mereka sebagai kaki tangan penguasa, bahkan kaki tangan Zionis Amerika. Namun anehnya, dalam berbagai persoalan fikih ibadah mereka banyak merujuk kepada para ulama tersebut. Sementara bila berbicara masalah politik dan jihad mereka justru mengecam para ulama.
4. Mereka menuduh ulama Ahlus Sunnah sebagai tidak mengetahui fiqhul waqi’ (pemahaman terhadap realita), para ulama dianggap tak ubahnya katak dalam tempurung.
5. Memiliki sikap loyalitas tinggi terhadap Muhammad Surur, Sayyid Quthub, Sayyid Hawa, Salman Audah dan selain mereka dan bara’ (berlepas diri) terhadap ulama-ulama as-Sunnah.
6. Sering melakukan berbagai tindakan politis praktis seperti demonstrasi, orasi politik, mobilisasi massa secara besar-besaran, dan sejenisnya. v
7. Bersikap lembut terhadap kalangan ahli bid’ah dan bekerjasama dengan mereka, tanpa berusaha menebarkan amar ma’ruf nahi munkar dan memperingatkan mereka terhadap keyakinan dan pemahaman bid’ah oleh kalangan ahli bid’ah tersebut.

Dakwah Sururiyyah pun berkembang. Dan –seperti pernah diungkapkan oleh Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamidvi– banyak yang berpemikiran sebagai Sururiyyah, tapi tidak mengenal siapa Muhammad Surur dan tidak tahu apa Sururiyyah itu. Banyak juga yang secara sadar menganut pemikiran tersebut karena mereka anggap sebagai paham yang paling realistis. Tapi sayangnya benyak pihak yang tidak bertanggungjawab kemudian menggunakan momen penting ini untuk kepentingan pribadi. Hasad, kedengkian, ambisi, dan kesombongan menjadi faktor utama yang mendorong mereka untuk menggunakan Sururiyyah sebagai peluru tembak. Kemudian diarahkan kepada siapa saja yang mereka kehendaki, bukan kepada siapa saja yang memang pantas dikecam dengan penyimpangan tersebut. Melalui kolom ini, penulis mengingatkan diri pribadi dan kalangan Salafiyyin di manapun berada, Bertakwalah kepada Allah. Sudahilah segala sepak terjang penuh dosa yang telah merenggut sekian banyak korban. Yang dengannya banyak keluarga mengalami perpecahan, anak bersikap durhaka kepada orang tua, suami dan istri bersengketa, kalangan penganut Ahlussunnah menjadi berpecah belah, dan masyarakat awam menjadi bingung hingga tidak sedikit yang tadinya ingin konsekuen dengan prinsip Ahlussunnah justru terjerumus ke dalam berbagai pengamalan sesat. Sadarlah, di manapun dan kapanpun kematian bisa saja merenggut kita, sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, bertobatlah kepada Allah. Kembalillah menjadi generasi Ahlussunnah yang selalu mengikuti bimbingan para ulama secara ikhlas, mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan Al-Qur’an dan Al-Hadits menurut pemahaman para ulama As-Salaf.

Sebuah harapan…

Lewat tulisan ini penulis ingin menuangkan sebuah harapan, kepada semua pihak. Sebuah harapan yang semoga mendapat perhatian bersama demi langkah yang lebih menuju perjuangan yang semakin mantap dalam kebaikan.

Pertama: Wahai para saudaraku yang telah memproses diri menjadi para menganut keyakinan dan amalan Ahlussunnah; dari lubuk hati yang paling mendalam kami berharap, marilah kta saling memaafkan segala kesalahan dan kesilafan di antara kita. Bila benar, kita berkeinginan kuat mengikuti jejak para ulama as-Salaf, upayakanlah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di antara kita dengan cara yang santun, penuh kasih dan keramahan. Karena bila tidak, setan akan menjerumuskan kita kepada pelbagai kekeliruan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Allah hanya menyelamatkan orang-orang yang ikhlas…

Kedua: Wahai para saudaraku, marilah kita membangun kembali pilar-pilar dakwah Ahlussunnah yang sudah tercerai-berai karena ulah mereka yang lebih mengedepankan urusan peribadi. Yakinlah, bukan perbedaan keyakinan atau manhaj dakwah yang telah memisahkan kita, tapi kedengkian dan ambisi pribadi semata. Semua yang dianggap “kesalahan”, seberapa beratpun, hanyalah dosa-dosa yang seharusnya tidak membuat pelakunya ‘terdepak’ dari medan dakwah yang suci ini…

Ketiga: Kalaupun ada di antara kita yang melakukan kesalahan secara prinsipil, dalam aqidah sekalipun, banyak yang berpangkal dari ketidaktahuan. Kita sadar, kita memulai mempelajari dan mengamalkan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah ini dari level yang sangat rendah, tanpa dukungan kultur dan kebiasaan yang mengakar kuat, sehngga wajar bila terjadi ketimpangan di sana sini. Perbaikilah kekeliaruan-kekeliruan itu dengan santun, dengan harapan semua yang melakukannya akan kembali ke jalan yang benar. Bukan dengan harapan mereka akan menolak dan bertahan dalam kekeliruan, sehingga menjadi pembela keyakinan dan metodologi bid’ah dalam arti yang seutuhnya…

Keempat: Sadarlah, bahwa para musuh Ahlussunnah memang mengharapkan terjadinya keretakan dan pertikaian di antara kita. Jangan membuat mereka bergembira karena hal itu.

Kelima: Jangan membuat bingung masyarakat awam yang baru saja hendak mulai mempelajari dakwah kebenaran. Jangan membuat opini bahwa dakwah Ahlussunnah itu sangat lekat dengan sikap kasar (bukan keras dan tegas), akhlak yang buruk dan pertikaian yang tiada henti di antara sesamanya.

Keenam: Jangan terperangkap bujukan setan untuk mendramatisir persoalan. Karena seremeh apapun persoalan yan diperdebatkan, bisa saja ditampilkan menjadi seolah-olah perseteruan dalam aqidah, ataun dalam hal yang baru-baru ini dianggap hebat dari persoalan aqidah oleh sebagian kalangan jahil, yaitu manhaj. Ingatlah, itu adalah tipu daya Iblis belaka. Persolalan terhebat dalam keyakinan Ahlussunnah tetap persolalan aqidah. Dan dalam persoalan inipun, sebagaimana yang kita ketahui bersama, ada kode etik dan kaidah-kaidah tertentu yang harus diterapkan, untuk bisa mengecam seseorang sebagai telah menjadi kafir karena kerusakan aqidahnya, sehingga harus dikeluarkan dari lingkaran Ahlussunnah. Inilah manhaj yang selalu dipegang oleh para ulama Ahlussunnah sepanjang zaman, yang menyebabkan mereka menjadi orang-orang mulia, disegani pihak kawan dan lawan. Sementara banyak di antara kita, dengan sikap keserampangan sikapnya, dengan sikap kasar dan tidak beretika, justru menjadi cemoohan pihak kawan dan lawan…

Kesimpulan:
1. As-Sururiyyah adalah sebuah alur pemikiran yang menyimpang dari pemikiran dan keyakinan Ahlussunnah.
2. Banyak ulama yang telah memperingatkan terhadap bahaya pemikiran sesat tersebut.
3. Banyak pula kaum muslimin yang salah memahami arti Sururiyyah, atau terbawa oleh orang yang salah dalam meyikapi, pemikiran tersebut, sehingga berlari dari satu bid’ah, menuju bid’ah yang lain yang bisa jadi lebih parah.
4. Adalah suatu kemestian untuk menjaga keikhlasan dalam upaya mempelajari, memahami, meyakini, mengamalkan dan mendakwahkan Kitabullah dan Sunnah Rasul menurut pemahaman Rasulullah dan para shabat serta ulama As-Salaf Ash-Shahih.


((Disadur dari buku Ada Apa dengan Salafi? Hal.259-270, Karya Abu Umar Basyir, Penerbit Rumah Dzikir, Sukoharjo))

i Hadits sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari II: 717, Muslim IV: 1712, At-Tirmidzi dalam Sunan-nya III: 475, Abu Dawud II: 333, Ad-Darimi dalam Sunan-nya II: 411, Ibnu Abdi Syaibah dalam Al-Mushannaf II: 190, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya X: 347, dan Ibnu Khuzaimah III: 349
ii Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya III: 384 dan Al-hakim dalam Al-Mustadrak I: 171
iii Yang kami maksud dengan “mereka” di sini bukanlah generasi Ahlussunnah, tapi adalah sekelompok orang yang sebelumnya getol mengkaji dan mempelajari aqidah, manhaj dakwah, dan pengamalan Ahlussunnah, kemudian meyempal, terjerumus dalam pemikiran sesat yang disebut pemikiran Ja’fariyyah. Istilah ini dinisbatkan kepada seorang bernama Ja’far Umar Thalib. Penganut pemahaman ahlussunnah yang kemudian berbelok menjadi muslim radikal ini mengusung berbagai pemikiran aneh. Saat ia berlari-lari dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, tetap saja di ikuti oleh banyak orang. Pemikiran pertamanya setelah menyempal dari keyakinan Ahlussunnah itulah yang kemudian dikenal sebagai pemikiran Ja’fariyyah. Meski ia sendiri telah meninggalkan pemikirannya tersebut, penganut pemikirang sesat itu masih banyak bertebaran. Sayang sekali mereka pun mengklaim sebagai Salafiyyin. Sebuah nama yang seharusnya dimiliki oleh kalangan Ahlussunnah, karena Salafiyyin artinya pengikut pemahaman ulama As-Salaf. Sementara mereka, secara keyakinan, metode dakwah, akhlak, dan pengamalan, amatlah jauh dari petunjuk ulama As-Salaf atau ulama As-Salafiyyin dahulu maupun kini.
iv As-Siraj Al-Waqqad fil bayan Tash-hih Al-I’tiqad hal. 100
v Pada awalnya ja’far Umar Thalib menggebu-gebu menyerukan perang terhadap Sururiyyah. Sayang, karena seruannya didasari oleh gila ambisi dan kedengkian terhadap sesame dai ahlussunnah, akhirnya dia sendiri terjerumus dalam pelbagai karakter Sururiyyah, antara lain: 1. Sempat tergila-gila dengan wawasan polotik praktis, terutama ketika sedang memobilisasi massa ke Ambon, berbagai majalis ilmiah pun terbengkalai. 2. Tidak mengindahkan banyak fatwa ulama, terutama yang berlawanan dengan kebijakannya. Sebut saja dalam pelbagai kasus di Ambon atau kasus perebutan masjid di Surakarta. Akhirnya, ia sendiri yang dikecam habis oleh ulama di Saudi Arabia. 3. Sempat melecehkan para ulama, si antaranya Syaikh Ali hasan Abdul hamid dan gurunya, Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah. 4. sempat menuduh sebagian ulama tidak mengerti realitas di Indonesia (di antaranya Syaikh Al-Utsaimin –rahimahullah) sehingga dianggap keliru dalam berfatwa. 5. Melakukan beberapa tindakan polotis praktis, seperti orasi polotik, demonstrasi (yang sering ia yakini sebagai izhhaarul quwwah (pamer kekuatan di hadapan orang kafir)), juga mobilisasi massa besar-besaran sehingga menimbulkan ketakutan masyarakat awam. 6. Bersikap lembut terhadap ahli bid’ah, bahkan nyaman bekerja sama dengan pemikir dan penganut bid’ah saat mengadakan orasi akbar di Senyan Jakarta atau dalam kesempatan lain. Sementara itu ia enggan bekerjasama dengan kalangan ahlussunnah, kecuali yang selalu membenarkannya. 7. Sekarang justru bekerjasama dengan penganut bid’ah dalam memasyarakatkan dzikir berjama’ah yang hukumnya bid’ah. Kepadanya penulis menyeru secara tulus, “Saudara Ja’far, kembalilah ke jalan yang benar. Jadilah seperti Imam al-Asya’ari, meskipun kesalahannya dalam aqidah diikuti banyak orang, namun beliau akhirnya berlepas diri dari kesalahan tersebut. Saudara ja’far, melalui tulisan ini penulis ajak, mari kita bangun kembali pondasi-pondasi dakwah Ahlussunnah di Indonesia, seperti yang dahulu kita lakukan bersama. Demi Allah, penulis tidak pernah menaruh kebencian terhadap Anda atau siapapun yang bersama Anda, meski penulis pernah merasakan betapa sedihnya salam dan sapaan penulis tidak dijawab oleh sebagian pengikut anda, dicemooh, dan sikap tidak mengenalan lainnya. Demi Allah, semua itu tidak menanamkan kebencian pada diri penulis terhadap kalian, seujung rambut pun, kecuali terhadap kesalahan dan keserampangan yang kalian lakukan. Bila kalian kembali, betapa bahagianya kami. Penulis juga sadar, betapa kami juga tidak akan lepas dari berbagai kesalahan. Bila semua kesalahan itu dijelaskan di hadapan kami, dan bila semua itu benar, kami bersedia meninggalkan segala kesalahan itu. Kita bisa melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara lebih santun. Kami sampaikan segala isi hati kami ini, semoga semua yang terjadi akan berakhir dengan kebaikan. Kemudian, segalanya kami serahkan kepada allah ‘Azza wa jalla.
vi Sebagian pihak yang berpemahaman Sururiyyah (tapi mereka tidak menyadarinya), amat membenci profil ulama yang satu ini. Mereka menuduh kalangan Salafiyyin di Indonesia bertaklid kepada Syaikh Ali Hasan dan gurunya Nashiruddin Al-Albani –rahimahullah. Berbagai tuduhan keji mereka lontarkan terhadap kalangan Ahlussunnah. Kelompok ini menyamaratakan antara kalangan Ahlussunnah secara umum dengan kelompok sesat Ja’fariyyah yang memang mengklaim sebagai Ahlussunnah; semuanya diruduh sebagai kelompok sempalan yang sesat. Mereka tidak menyadari, betapa kalangan salafiyyin amatlah amatlah dekat dengan para ulama ulama Ahlussunnah, bukan hanya Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ali Hasan. Ketika sebagian di antara ulama itu datang ke Indonesia, adakah orang-orang itu pernah bertandang dan menimba ilmu dari para ulama tersebut? Justru kalangan Salafiyyin yang kerap berhubungan dan melakukan kontak langsung dengan para ulama, menanyakan berbagai hal, dan mengundang sebagian mereka atau setidaknya murid-murid mereka untuk memberikan kajian ilmiah di Indonesia.

Translate This Site

 

Follow by Email

Support : Creating Website | sunnahcare | sunnahcare
Copyright © 2014. WEB UNDERMAINTENANCE... Mohon Bersabar Ya !!! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by sunnahcare
Proudly powered by sunnahcare