Minggu, 31 Agustus 2014

Laporan Pembangunan Masjid Assunnah Padang 31/8/14

Laporan Pembangunan Masjid Assunnah Padang 31/8/14
Biaya Pengeluaran Tahap Awal:
1. Pembuatan Sumur Air: Rp. 2.300.000,-
2. Pembelian Material Kayu Tahap Awal: Rp. 29.750.000,-
Total: Rp. 32.050.000,-

Sisa Kas per tanggal 31/8/14: Rp. 36.451.001 - Rp. 32.050.000 = Rp. 4.401.001,-
-----------------------------------------
Bismillah,
Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Barang siapa yang membangunkan sebuah masjid, yang sengaja mencari keridhaan Allah, nanti Allah buatkan pula untuknya sebuah rumah di dalam surga”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadwal Pembangunan 11 Agustus 2014 – 14 Desember 2014 = 4 Bulan Lamanya.
Jadi kami masih memerlukan investasi akhirat Bapak / Ibu untuk pembangunan ini sampai selesai dalam jangka 4 bulan kedepan ini, Yayasan masih menunggu uluran tangan kaum-kaum bapak / ibu, saudara / saudari. Mari ajaklah karib kerabat kita untuk ikut berinvestasi untuk akhiratnya.
Berapapun Infaq yang disalurkan sangat berarti, andai 1 rupiah masih ada niscaya kami akan menerima dengan rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Kita sebagai kaum muslimin dari dulu Sya’irnya berbunyi Ya Dana, Ya Dana, Ya Dana. Inilah kondisi kita kaum muslimin saat ini, kita ini banyak tapi bagaikan buih dilautan, persatuan dan kesatuan kita tidak sesolid umat agama lain. Walaupun mereka sedikit tapi mereka mempunyai kekuatan Financial yang besar sehingga mereka mampu mengendalikan roda perekonomian kaum muslimin. Tapi kita tidak berputus asa, dengan semangat ukhuwah sesama muslim mari kita saling berbagi dan membantu. Baik itu membantu musibah yang menimpa saudara2 kita di Palestina, Suriah, Iraq, Afghanistan, Mesir, Yaman, dll maupun membantu pembangunan Masjid ini.

Laporan Donasi Pembangunan Masjid dan Sekolah Alam Tahfidzul Qur'an Assunnah Padang, 29 Agustus 2014 Pukul 07.00 WIB:
- 31/8/14: Rp. 50.000,- Hamba Allah.
- 31/8/14: Rp. 300.000,- Hamba Allah.
- 29/8/14: Rp. 601.000,- Ibu Nenny Kurniati, Bandung. 082116929xxx
- 28/8/14: Rp. 0,-
- 27/8/14: Rp. 0,-
- 26/8/14: Rp. 0,-
- 25/8/14: Rp. 150.000,- Ibu. Rohana.
- 24/8/14: Rp. 0,-
- 23/8/14: Rp. 0,-
- 22/8/14: Rp. 200.000,- Hamba Allah, Jakarta. 02195657xxx
- 22/8/14: Rp. 1.000.000,- Hamba Allah.
- 21/8/14: Rp. 0,-
- 20/8/14: Rp. 500.000,- Ibu. Elen, Malang. 08121512xxx
- 19/8/14: Rp. 700.000,- Hamba Allah, Jakarta Selatan. 085297094xxx
- 18/8/14: Rp. 1.000.001,- Bpk. Abdul Aziz, Jakarta. 081573083xxx
- 18/8/14: Rp. 4.000.000,- Hamba Allah, Jakarta. 089688685xxx
- 18/8/14: Rp. 9.000.000,- Hamba Allah.
- 18/8/14: Rp. 250.000,- Hamba Allah, Puri Bintaro. 081513036xxx
- 17/8/14: Rp. 500.000,- Abu Yazid, Pasaman. 081266115xxx
- 17/8/14: Rp. 500.000,- Hamba Allah.
- 16/8/14: Rp. 0,-
- 15/8/14: Rp. 1.000.000,- Hamba Allah, Indramayu. 085641592xxx
- 14/8/14: Rp. 9.000.000,- Hamba Allah.
- 13/8/14: Rp. 500.000,- Bpk. Syukri, Jakarta. 081213620xxx
- 12/8/14: Rp. 100.000,- Bpk.Rasyidg, Muara Enim. 085769533xxx
- 12/8/14: Rp. 50.000,- Hamba Allah.
- 12/8/14: Rp. 250.000,- Hamba Allah, Puri Bintaro. 081513036xxx
- 11/8/14: Rp. 0,-
- 10/8/14: Rp. 0,-
- 9/8/14: Rp. 0,-
- 8/8/14: Rp. 500.000,- Bpk. Herman Palani
- 8/8/14: Rp. 500.000,- Ummahat, Bekasi. 08151682xxx
- 7/8/14: Rp. 1.000.000,- Hamba Allah
- 6/8/14: Rp. 300.000,- Abu Yazid, Pasaman. 081266115xxx
- 5/8/14: Rp. 1.000.000,- Ibu. Evvy, Bandung. 082119414xxx
- 4/8/14: Rp. 0,-
- 3/8/14: Rp. 0,-
- 2/8/14: Rp. 0,-
- 1/8/14: Rp. 1.000.000,- Bpk. Niko Rumenda, Jakarta. 081288446xxx
- 31/7/14: Rp. 0,-
- 30/7/14: Rp. 0,-
- 29/7/14: Rp. 0,-
- 28/7/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah. 081310052xxx
- 27/7/14: Rp. 2.000.000,- Hamba Allah, Bandung. 085289051xxx
- 27/7/14: Rp. 200.000,- Hamba Allah, Jakarta. 082111292xxx
- 26/7/14: Rp. 200.000,- Bpk. MUHAMAD TASRIF,SE
- 25/7/14: Rp. 0,-
TOTAL : Rp. 36.451.001,-

KEKURANGAN DANA: Rp. 528.690.000 - Rp. 36.451.001 = Rp. 492.238.999
----------------------------------
Alhamdulillahi Robbil 'alamin, Jazakumullahu Khoiron
Bagi yang ingin berKonsultasi tentang program ini dapat menghubungi: 082322229923
------------------------------------------------------
Konfirmasi Donasi ke : 085364575752 (SMS / Telpon),
Donasi Dapat disalurkan ke:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
a/n Yayasan As Sunnah Padang

****************
Luar Negri Via Western Union ke:
Nama: Rahmat Ika Syahrial
No. KTP: 1371030507830007
Alamat: Jalan Pisang No. 207 Purus Kebun
Kel. Ujung Gurun, Kec. Padang Barat, Kota Padang
Sumatera Barat, Indonesia
Telp: +6285263627094

****************
Via Paypal:
assunnahpadang@gmail.com

Update Donasi Paypal:
16/8/14: $ 13,04 USD. Bpk. Hasan Saleh Aldjaidi
------------------------------------------------------
Rekap Anggaran Biaya Pembangunan ini, Lebih Lengkap Download di Proposal:
a. Masjid dan Sekolah Alam = Rp. 150.608.078,71
b. WC dan Tempat Berwudhu = Rp. 35.422.222,19
c. Kantor / Ruang Guru = Rp. 105.035.285,71
d. Perlengkapan Luar dan Wahana Bermain = Rp. 237.626.553,50
Total =Rp. 528.692.140,10----------- Dibulatkan = Rp. 528.690.000
------------------------------------------------------
Bismillah
Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh
Insya Allah kami dari Yayasan Assunnah Padang akan memulai rencana pembangunan Sekolah Alam Tahfidzul Qur'an As-Sunnah Padang untuk jenjang Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar dibangun di atas tanah wakaf di daerah gunung pangilun dengan luas lahan 1,690 meter persegi. Diatas tanah ini telah tumbuh berbagai macam jenis tanaman, seperti pohon durian, pohon kelapa, pohon jengkol, pohon pisang, dll.

Masjid dan Sekolah alam Tahfidzul Qurâan yang akan dibuat bercorak dominasi arsitektur berbahan bamboo dan kayu dengan spesifikasi sebagai berikut ;
- 1 unit bangunan Masjid / Surau (2 tingkat)
- 1 unit bangunan untuk ruang guru
- 4 unit kelas terbuka yang terbuat dari bamboo/kayu
- Sarana berkebun
- Sarana kolam ikan
- Sarana outbond
- Ruang terbuka/Lapangan

Hal ini juga merupakan bagian dari rencana kelanjutan untuk memindahkan lokasi TKIT Assunnah Padang yang telah berjalan dan masih menempati gedung kontrakan.

------------------------------------------------------
STRUKTUR YAYASAN ASSUNNAH PADANG
Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Yayasan As-Sunnah Padang, Nomor: AHU-03304.50.10.2014 Tanggal 2 Juli 2014.

PEMBINA:
Ketua : Bpk. Firdaus
Anggota:
1. Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, LC (Alumnus Fakultas Dakwah dan Ushululdien Univ. Islam Madinah), Perintis Dakwah Sunnah di Kota Padang, Pengisi Materi di Radio Hidayah FM Pekanbaru
2. Ustadz Ahmad Daniel, LC, MA ( Alumnus Fakultas Hadits Univ. Islam Madinah), Wakil Kepala Sekolah Pondok Pesantren Yatim Ibnu Taimiyyah Bogor.
3. Muhammad Arif. S.Pt
4. Rivo Martius

PENGAWAS:
Ketua : Muhammad Subhan, Amd
Anggota:
1. Fakri Indra, S.Kom
2. Novizardi (Bang Yopi)

PENGURUS:
Ketua : Ustadz Rahmat Ika Syahrial, S.Hi
Sekretaris : Yogi Safenly, Amd
Bendahara : Arie Candra de Putra

DIVISI:
I. Divisi Dakwah:
Ketua: Harqi Fadilla Maizar
Anggota:
1. Dwi Winarno
2. Detfi Yoni

II. DivisiPembangunan:
Ketua: M. Ihsan, S.Farm, Apt
Anggota:
1. Arif Mufti
2. Yuslunal Ulfralum, SE

III. Divisi Pendidikan :
Ketua: Abu Shofiyyah
Anggota: Bitval Jemdes

IV. Divisi Dana Usaha:
Ketua: HARI F DAY, SE, Ak
Anggota: Dian
------------------------------------------------------
Link Website:
assunnahpadang.com
sunnahcare.com
------------------------------------------------------
Facebook:
Yayasan Assunnah Padang
Humas Yayasan Assunnah Padang

Facebook Grup:
Majelis Ta'lim Ibnu Taimiyah Padang
Yayasan As-Sunnah Padang

FanPage:
Yayasan Assunnah Padang
------------------------------------------------------
Twitter:
@YayasanAssunnah
@sunnahcare1
------------------------------------------------------
Email:
assunnahpadang@gmail.com
assunnahpadang@yahoo.com
------------------------------------------------------
Mohon Do'a Serta Kesediaan dan Bantuannya untuk menyebarkan Informasi ini.
Download Proposal Lengkap Pendirian TKIT Assunnah Padang:
http://www.mediafire.com/download/7h9e9mpc644js77/Proposal+Masjid+dan+Sekolah+Alam+Assunnah+Padang.docx

Penerimaan Peserta Qurban Yayasan As-Sunnah Padang

Alhamdulillah Sudah 6 Orang Peserta Qurban yang ikut bergabung dengan Yayasan As-Sunnah Padang....Tinggal 8 Orang Lagi!!!
Daftar Peserta Qurban Yayasan As-Sunnah Padang:
1. Bpk. Beni Raharjo: Cikarang, Bekasi. 27/8/14
2. Bpk. Alek Kurniawan Apiyanto: Jakarta. 28/8/14
3. Bpk. Rahmat Ika Syahrial, SHi: Padang. 28/8/14
4. Bpk. Firdaus: Padang. 28/8/14
5. Hamba Allah: Bekasi. 29/8/14
6. Bpk. Revan Abdi: Jakarta. 29/8/14
7.---
8.---
9.---
10.---
11.---
12.---
13.---
14.---

Bismillah,
Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh

Dalam rangka menyambut Iedul Adha, kami dari Yayasan As-Sunnah Padang membuka kesempatan kepada kaum muslimin untuk berqurban bersama Yayasan As-Sunnah Padang. In sya Allah Qurban yang kami terima akan disalurkan kepada Fakir Miskin dan pihak-pihak yang sangat membutuhkan.
Rencana Hewan Qurban akan kita sembelih di lokasi Pembangunan Masjid dan Sekolah Alam Tahfidzul Qur'an--As-Sunnah Padang.

Kisaran Harga Untuk 1 Ekor Hewan Qurban (Kambing dan Sejenisnya) di Kota Padang: Rp. 1.750.000,-

In sya Allah kesempatan berqurban ini kami buka sampai tanggal 25 September 2014 dengan target 14 peserta Qurban.
Biaya Qurban dapat disalurkan ke Rekening:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
a/n Yayasan As Sunnah Padang
Konfirmasi ke Panitia Qurban Yayasan Assunnah Padang : 085364575752 (SMS / Telpon)

Mari berqurban bersama Yayasan As-Sunnah Padang!!!
Indahnya Qurban di atas Sunnah Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam.
-----------------------------
Syari'at Qurban... Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini(idul Adha) adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
Keutamaan berqurban:
1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Hajj ayat 36:“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)

2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.

3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)
Juga firman-Nya:“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”

Jumat, 29 Agustus 2014

PENERAPAN DUA KALIMAT SYAHADAT

Penerapan dua kalimat syahadat yang pertama yakni “Asyhadu alla ilaaha illallah” adalah dengan mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah dan mengkhususkan ibadah hanya untuk-Nya, beriman kepada seluruh apa yang dikabarkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti pengabaran tentang surga, neraka, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk.
Adapun penerapan kalimat syahadat yang kedua yakni kalimat ”Wa Asyhadu anna muhammadar Rasulullah” adalah dengan beriman kepadanya, beriman bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, yang Allah subhanahu wa ta’ala dan berfirman kepada-Nya dan mengikuti apa yang diajarkannya disertai dengan beriman kepada seluruh rasul-rasul dan nabi-nabi terdahulu, setelah itu beriman kepada syariat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah ditetapkan untuk hamba-hambanya melalui Rasulullah, memperlajarinya dan berpegang teguh dengannnya seperti syariat mengenai shalat, zakat, puasa, haji, jihad dan lain-lain.
Rasulullah jika ditanya tentang amalan yang dapat mengantarkan seorang hamba ke surga dan selamat dari siksa neraka, beliau menjawab, ”Kamu bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah”, dan terkadang beliau menjawab dengan, ”Kamu beribadah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun”, maka makna syahadat “la ilaaha illallah” adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan tidakmenyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Karena inilah tatkala Malaikat Jibril ‘Alaihissalam bertanya kepadanya dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Jibril berkata, “Ya Rasulullah, beritahu aku apa itu Islam? Beliau menjawab, “Islam adalah kamu beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”. Dalam hadits umar Radhiyallahu ‘anhu beliau menjawab. “Islam itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, hadits tadi menjelaskan makna hadits ini, jadi makna syahadat “laa ilaaha illallah” adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun disertai dengan beriman kepada Rasul-Nya.
Suatu hari seorang laki-laki dating menemui Rasulullah dan berkata, ”Ya Rasulullah, beritahu aku tentang suatu amalan yang dengan amalan tersebut aku dapat masuk surga dan selamat dari siksa neraka”, beliau menjawab, “Kamu beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mengerjakan shalat…”(sampai akhir hadits).
Jadi beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, itulah makna “laa ilaaha illallah”, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”.
Yakni, ketahuilah bahwa hanya Allah lah yang berhak diibadahi dan tidak ada peribadahan kepada selain-Nya, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala lah satu-satunya yang berhak diibadahi, Allah subhanahu wa ta’ala lah sesembahan yang benar sedangkan yang lainnya tidak berhak untuk diibadahi.
Pengingkaran orang-orang musyrikin terhadap kalimat ini memperjelas maknanya, karena mereka tahu bahwa kalimat ini meniadakan sesembahan-sesembahan mereka dan memperjelas bahwa mereka berada dalam kesesatan, mereka berkata, ”Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja?”. Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila diaktakan kepada mereka, “Laa ilaaha ilallah” (tiada yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri”.
Mereka tahu bahwa kalimat ini meniadakan sesembahan-sesembahan mereka dan menjelaskan kepalsuannya, menjelaskan bahwa sesembahan tersebut tidak layak diibadahi dan salah, dan menjelaskan bahwa dzat yang benar untuk diibadahi adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata.
Karena itulah mereka mengingkarinya, maka peribadahan mereka kepada berhala-berhala, pepohonan, bebatuan, orang-orang mati dan jin atau selainnya adalah peribadahan yang salah.
Semua makhluk tidak dapat menimpakan bahaya atau memberikan manfaat semuanya adalah hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala semuanya adalah hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, maka mereka tidak layak untuk diibadahi karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta segala sesuatu, yang berfirman, “Dan Rabbmu adalah Rabb yang Maha Esa, tidak ada Dzat yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya Rabbmu hanyalah Allah, yang tidak ada Rabb Yang berhak disembah selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.
Maka wajib atas semua mukallaf dan setiap mukmin dan mukminat dari bangsa jin dan manusia merenungkan atau memikirkan perkara ini dan benar-benar memeprhatikannya sampai perkara ini jelas dan nyata baginya, jarena asas dasar din(agama-adm) ini adalah peribadahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, yakni syahadat “la ilaaha illallah” bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala semata, dan disandarkan kepadanya keimanan kepada para Rasul dan penutupnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga harus disertai dengan keimanan kepada para malaikat Allah, kitab-kitab Allah, hari akhir, takdir yang baik maupun yang buruk dan beriman kepada semua yang dikabarkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Semua ini harus diterapkan untuk masuk Islam sebagaimana penjelasan yang lalu, banyak manusia menyangka bahwa dengan hanya mengucapkan kalimat syahadat sudah cukup utnuk masuk Islam walaupun mereka melakukan apa yeng mereka mau laukukan, ini adalah kebodohan yang besar, kalimat ini bukan hanya untuk diucapkan tapi kalimat ini adalah kalimat yang punya makna yang harus diterapkan dengan mengucapkannya dan mengamalkan konsekuensinya.

MENGENAL SEJARAH DAN PEMAHAMAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Sebelum kita berbicara tentang topik dan judul pembahasan ini, sebaiknya kita mengenal beberapa pengertian istilah yang akan dipakai dalam pembahasan ini.
A. Beberapa Pengertian
1. As-Sunnah
As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh atau cara pelaksanaan suatu amalan baik itu dalam perkara kebaikan maupun perkara kejelekan.
Maka As-Sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah ialah jalan yang ditempuh dan dilaksanakan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabat beliau, dan pengertian Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang berupaya memahami dan mengamalkan As-Sunnah An-Nabawiyyah serta menyebarkan dan membelanya.
2. Al-Jama’ah
Menurut bahasa Arab pengertiannya ialah dari kata Al-Jamu’ dengan arti mengumpulkan yang tercerai berai. Adapun dalam pengertian Asyari’ah, Al-Jama’ah ialah orang-orang yang telah sepakat berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dan mereka itu ialah para shahabat, tabi’in (yakni orang-orang yang belajar dari shahabat dalam pemahaman dan pengambilan Islam) walaupun jumlah mereka sedikit, sebagaimana pernyataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu : “Al-Jama’ah itu ialah apa saja yang mencocoki kebenaran, walaupun engkau sendirian (dalam mencocoki kebenaran itu). Maka kamu seorang adalah Al-Jama’ah.”
3. Al-Bid’ah
Segala sesuatu yang baru dan belum pernah ada asal muasalnya dan tidak biasa dikenali. Istilah ini sangat dikenal dkialangan shahabat Nabi Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau selalu menyebutnya sebagai ancaman terhadap kemurnian agama Allah, dan diulang-ulang penyebutannya pada setiap hendak membuka khutbah. Jadi secara bahasa Arab, bid’ah itu bisa jadi sesuatu yang baik atau bisa juga sesuatu yang jelek. Sedangkan dalam pengertian syari’ah, bid’ah itu semuanya jelek dan sesat serta tidak ada yang baik. Maka pengertian bid’ah dalam syariah ialah cara pengenalan agama yang baru dibuat dengan menyerupai syariah dan dimaksudkan dengan bid’ah tersebut agar bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik lagi dari apa yang ditetapkan oleh syari’ah-Nya. Keyakinan demikian ditegakkan tidak di atas dalil yang shahih, tetapi hanya berdasar atas perasaan, anggapan atau dugaan. Bid’ah semacam ini terjadi dalam perkara aqidah, pemahaman maupun amalan.
4. As-Salaf
Arti salaf secara bahasa adalah pendahulu bagi suatu generasi. Sedangkan dalam istilah syariah Islamiyah as-salaf itu ialah orang-orang pertama yang memahami, mengimami, memperjuangkan serta mengajarkan Islam yang diambil langsung dari shahabat Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari para shahabat) dan para tabi’it tabi’in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari tabi’in). istilah yang lebih lengkap bagi mereka ini ialah as-salafus shalih. Selanjutnya pemahaman as-salafus shalih terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits dinamakan as-salafiyah. Sedangkan orang Islam yang ikut pemahaman ini dinamakan salafi. Demikian pula dakwah kepada pemahaman ini dinamakan dakwah salafiyyah.
5. Al-Khalaf
Suatu golongan dari ummat Islam yang mengambil fislafat sebagai patokan amalan agama dan mereka ini meninggalkan jalannya as-salaf dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Awal mula timbulnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana munculnya karena sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mulai depopulerkan oleh para ulama salaf ketika semakin mewabahnya berbagai bid’ah dikalangan ummat Islam.
Yang jelas wabah bid’ah itu mulai berjangkit pada jamannya tabi’in dan jaman tabi’in ini yang bersuasana demikian dimulai di jaman khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya juz 1 hal.84, Syarah Imam Nawawi bab Bayan Amal Isnad Minad Din dengan sanadnya yang shahih bahwa Muhammad bin Sirrin menyatakan, “Dulu para shahabat tidak pernah menanyakan tentang isnad (urut-urutan sumber riwayat) ketika membawakan hadits Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ketika terjadi fitnah yakni bid’ah mereka menanyakan, ‘sebutkan para periwayat yang menyampaikan kepadamu hadits tersebut.’ Dengan cara demikian mereka dapat memeriksa masing-masing para periwayat tersebut, apakah mereka itu dari ahlus sunnah atau ahlul bid’ah. Bila dari ahlus sunnah diambil dan bila ahlul bid’ah ditolak.”
Riwayat yang sama juga dibawakan oleh Khalid Al-Baghdadi dengan sanadnya dalam kitab beliau. Riwayat ini memberitahukan kepada kita bahwa pada jaman Muhammad bin Sirrin sudah ada istilah ahlus sunnah dan ahlul bid’ah. Muhammad bin Sirrin lahir pada tahun 33 H dan meniggal pada tahun 110 H. kemudian istilah ini juga muncul pada jaman Imam Ahmad bin Hambal (lahir 164 dan meninggal 241 H) khususnya ketika terjadi fitnah pemahaman sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, bertentangan dengan ahlus sunnah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah.
Fitnah terjadi di jaman pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun Al-Abbasi. Imam Ahmad pada masa fitnah ini adalah termasuk tokoh yang paling berat mendapat sasaran permusuhan dan kekejaman para tokoh ahlul bid’ah melalui Khalifah tersebut. Mulai saat itulah istilah ahlus sunnah wal jama’ah menjadi sangat populer hingga kini. Jadi, istilah ahlu sunnah timbul dan menjadi populer ketika mulai serunya pergulatan antara as-salaf dan al-khalaf, akibat adanya infiltrasi berbagai filsafat asing ke dalam masyarakat Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah kemudian menjadi simbol sikap istiqamahnya (tegarnya) para ulama ahlul hadits dalam berpegang dengan as-salafiyah ketika para tokoh ahlul bid’ah meninggalkannya dan ketika berbagai pemahaman dan amalan bid’ah mendominasi masyarakat Islam.
B. Dalil-Dalil Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Mengapa ahlu sunnah demikian bersikeras merujuk pada pemahaman para shahabat Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits? Ini adalah pertanyaan yang tentunya membutuhkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits untuk menjawabnya. Ahlus Sunnah merujuk kepada para shahabat dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits dikarenakan Allah dan Rasul-Nya banyak sekali memberitahukan kemuliaan mereka, bahkan memujinya. Faktor ini membuat para shahabat menjadi acuan terpercaya dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai landasan utama bagi Syari’ah Islamiyah.
Dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits shahih yang menjadi pegangan ahlus sunnah dalam merujuk kepada pemahaman shahabat sangat banyak sehingga tidak mungkin semuanya dimuat dalam tulisan yang singkat ini. Sebagian diantaranya perlu saya tulis disini sebagai gambaran singkat bagi pembaca tentang betapa kokohnya landasan pemahaman ahlus sunnah terhadap syariah ini.
1. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah kecintaan Allah dan mereka pun sangat cinta kepada Allah :
“Sesungguhnya Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Hai Muhammad) di bawah pohon (yakni Baitur Ridwan) maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan keterangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(Al-Fath:18)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah ridha kepada para shahabat yang turut membaiat Rasulullah salallahu alaihi wa sallam di Hudhaibiyyah sebagai tanda bahwa mereka telah siap taat kepada beliau dalam memerangi kufar (kaum kafir) Quraisy dan tidak lari dari medan perang.
Diriwayatkan bahwa yang ikut ba’iah tersebut seribu empat ratus orang. Dalam ayat lain, Allah Sunahanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agama-Nya (yakni keluar dari Islam) niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Alah dan tidak takut cercaan si pencerca. Yang demikian itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”(Al-Maidah:54)
Ath-Thabari membawakan beberapa riwayat tentang tafsir ayat ini antara lain yang beliau nukilkan dari beberapa riwayat dengan jalannya masin-masing, bahwa Al-Hasan Al-Basri, Adh-Dhahadh, Qatadah, Ibnu Juraij, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah Abu Bakar Ash-Shidiq dan segenap shahabat Nabi setelah wafatnya Rasulullah salallahu alaihi wa sallam dalam memerangi orang yang murtad.
2. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah umat yang adil yang dibimbing oleh Rasulullah salallahu alaihi wa sallam.
“Dan demikianlah Kami jadikan kalian adalah umat yang adil agar kalian menjadi saksi atas sekalian manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian.”(Al-Baqarah:143)
Yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di ayat ini ialah para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam. Mereka adalah kaum mukminin generasi pertama yang terbaik yang ikut menyaksikan turunnya ayat ini dan generasi pertama yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an. Ibnu Jarir Ath-Thabari menerangkan: “Dan aku berpandangan bahwasanya Allah Ta’ala menyebut mereka sebagai “orang yang ditengah” karena mereka bersikap tengah-tengah dalam perkara agama, sehingga mereka itu tidaklah sebagai orang-orang yang ghulu (ekstrim, melampaui batas) dalam beragama sebagaimana ghulunya orang-orang Nashara dalam masalah peribadatan dan pernyataan mereka tentang Isa bin Maryam alaihi salam. Dan tidak pula umat ini mengurangi kemuliaan Nabiyullah Isa alaihi salam, sebagaimana tindakan orang-orang Yahudi yang merubah ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya dan membunuh para nabi-nabi mereka dan berdusta atas nama Allah dan mengkufurinya. Akan tetapi ummat ini adalah orang-orang yang adil dan bersikap adil sehingga Allah mensikapi mereka dengan keadilan, dimana perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling adil.
3. Para shahabat adalah teladan utama setelah Nabi dalam beriman
Ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Kalau mereka itu beriman seperti imannya kalian (yaitu kaum mukminin) terhadapnya, maka sungguh mereka itu mendapatkan perunjuk dan kalau mereka berpaling mereka itu dalam perpecahan. Maka cukuplah Allah bagimu (hai Muhammad) terhadap mereka dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”(Al-Baqarah:137)
Ayat ini menegaskan bahwa imannya kaum mukminin itu adalah patokan bagi suatu kaum untuk mendapat petunjuk Allah. Kaum mukminin yang dimaksud yang paling mencocoki kebenaran sebagaimana yang dibawa oleh Nabi salallahu alaihi wa sallam tidak lain ialah para shahabat Nabi yang paling utama dan generasi sesudahnya yang mengikuti mereka.
Juga ditegaskan pula hal ini oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al-Fath 29 :
“Muhammad itu adalah Rasulullah, dan orang-orang yang besertanya keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka. Engkau lihat mereka ruku dan sujud mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Terlihat pada wajah-wajah mereka bekas sujud. Demikianlah permisalan mereka di Taurat, dan demikian pula permisalan mereka di Injil. Sebagaimana tanaman yang bersemi kemudian menguat dan kemudian menjadi sangat kuat sehingga tegaklah ia diatas pokoknya, yang mengagumkan orang yang menanamnya, agar Allah membikin orang-orang kafir marah pada mereka. Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kalangan mereka itu ampunan dan pahala yang besar.”
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam merujuk kepada para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tentunya dalil-dalil dari Al-Qur’an tersebut berdampingan pula dengan puluhan bahkan ratusan hadists shahih yang menerangkan keutamaan shahabat secara keseluruhan ataupun secara individu.
Dari hadits-hadits berikut dapat disimpulkan bahwa :
1. Kebaikan para shahabat tidak mungkin disamai :
“Jangan kalian mencerca para shahabatku, seandainya salah seorang dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud, tidaklah ia mencapai ganjarannya satu mud(ukuran gandum sebanyak dua telapak tangan diraparkan satu dengan lainnya) makanan yang dishodaqahkan oleh salah seorang dari mereka dan bahkan tidak pula mencapai setengah mudnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Para shahabat adalah sebaik-baik generasi dan melahirkan sebaik-baik generasi penerus pula :
“Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu bahwa Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sebaik-baik ummatku adalah yang semasa denganku kemudian generasi sesudahnya (yakni tabi’in), kemudian generasi yang sesudahnya lagi (yakni tabi’it tabi’in). Imran mengatakan: ‘Aku tidak tahu apakah Rasulullah menyebutkan sesudah masa beliau itu dua generasi atau tiga.’ Kemudian Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Kemudian sesungguhnya setelah kalian akan datang suatu kaum yang memberi persaksian padahal ia tidak diminta persaksiannya, dan ia suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, dan mereka suka bernadzar dan tidak memenuhi nadzarnya, dan mereka berbadan gemuk yakni gambaran orang-orang yang serakah kepadanya’.”(HR Bukhari)
3. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan yang diciptakan Allah untuk mendampingi Nabi-Nya :
“Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih aku dan juga telah memilih bagiku para shahabatku, maka Ia menjadikan bagiku dari mereka itu para pembantu tugasku, dan para pembelaku, dan para menantu dan mertuaku. Maka barang siapa mencerca mereka, maka atasnyalah kutukan Allah dan para malaikat-Nya an segenap manusia. Allah tidak akan menerima di hari Kiamat para pembela mereka yang bisa memalingkan mereka dari adzab Allah.”(HR Al-Laalikai dan Hakim, SHAHIH)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits shahih yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam di dalam pandangan Nabi.
Maka kalau Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits telah memuliakan para shahabat dan menyuruh kita memuliakannya, sudah semestinya kalau Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan pemahaman, perkataan, dan pengamalan para shahabat terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai patokan utama dalam menilai kebenaran pemahamannya. Ahlus sunnah juga sangat senang dan mantap dalam merujuk kepada para shahabat Nabi dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits.

BERPEGANG TEGUH dengan SUNNAH NABI, SOLUSI PROBLEMATIKA UMMAT

Sesungguhnya tidak tersamar bagi seorang muslim yang hidup di muka bumi saat ini, apa yang sedang diderita ummat Islam berupa kelemahan, kekacauan di setiap aspek kehidupannya, baik aspek politik maupun ekonomi dan dalam bidang-bidang yang lainnya. Dan orang-orang yang selalu berusaha berbuat kebaikan sudah sejak lama telah memperingatkan akan kelemahan ini. Maka mereka mulai berusaha menganalisa dan membatasi persoalan tersebut, terutama penyembuhan dan pemberantasannya sampai ke akar-akarnya.
Namun sayang, jalan-jalan yang mereka tempuh bercerai-berai, ketika menentukan obatnya dan ketika berusaha menghilangkan penyakit sampai ke akar-akarnya. Hal ini disebabkan oleh beraneka ragamnya manhaj-manhaj mereka dan bermacam-macamnya firqah dan aliran mereka.
Tidak diragukan lagi, bahwa yang menimpa kaum muslimin tersebut tiada lain disebabkan oleh jauhnya mereka dari agamanya. Dan tenggelamnya mereka ke dalam nafsu syahwat yang diharamkan. Karena permasalahannya seperti itu dan memang demikian adanya, sesungguhnya Rasulullah telah menjelaskan kepada kita penyakit tersebut dan telah memberitahukan pula apa obatnya serta tidak meninggalkan peluang -bagi orang yang masih punya akal- untuk munculnya perselisihan dan pertentangan.
Al-Imam Abu Daud telah mengeluarkan dalam Sunan-nya (3/740) dan lainnya, dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda, yang artinya: “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (riba) dan kalian telah memegang ekor-ekor sapi (kiasan untuk kekuasaan yang zhalim), serta kalian lebih cinta (ridha) kepada pertanian (dunia) dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kerendahan, tidak akan dicabut kerendahan itu sampai kalian mau kembali kepada agama kalian”. Maka satu-satunya jalan keluar dari kerendahan dan kehinaan ini adalah dengan kembali kepada syari’at Allah Ta’ala, beramal dengannya. Dan hal ini telah disaksikan oleh Al-Qur`an di banyak tempat.
Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertaqwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (Al-Ma`idah:65-66).
Begitu jelas dan gamblang permasalahan ini. Ternyata masih ada manusia yang menisbatkan diri mereka kepada “dakwah”, namun berpaling dari ketundukan kepada ketentuan yang terang benderang ini. Mereka lebih menyukai pemecahan masalah dengan yang dihasilkan oleh akal-akal mereka yang dangkal dan pendapat mereka yang tidak laku (hina). Kemudian mereka mencari perbaikan keadaan kaum muslimin dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah Ta’ala dan tidak pula oleh Rasulullah. Hasil dari usaha yang mereka lakukan itu tiada lain adalah kerugian. Akhir langkah mereka adalah bencana. Allah Ta’ala tidak akan memperbaiki perbuatan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Di hadapan langkah yang mereka lakukan, ada para pengemban dakwah yang tersebar di atas bendera sunnah yang suci dan petunjuk nabawi. Mereka memperhatikan “sunnah-sunnah” dan bersemangat untuk mempraktekkannya dalam segala hal. [Perlu diperhatikan di sini, bahwa yang dimaksudkan dengan "sunnah" pada kalimat ini dan setelahnya adalah segala sesuatu yang diambil dari Nabi baik perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat jasmani dan rohani atau riwayat sejarah kehidupannya setelah kenabian dan terkadang masuk juga sebagian perkara sebelum kenabian; atau secara singkatnya "sunnah" adalah jalan dan petunjuk Nabi, baik menyangkut 'aqidah, amalan, akhlaq atau sifat jasmani dan rohani beliau; atau "sunnah" adalah syari'at Islam itu sendiri yang mencakup Al-Qur`an dan Al-Hadits; "sunnah" adalah bukan seperti yang difahami kebanyakan orang yang mengartikan sunnah sebagai sesuatu yang selain wajib, berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa bila ditinggalkan].
Kesimpulan dan inti dari permasalahan di atas adalah wajibnya mementingkan sunnah yang tsabit dari Rasulullah dengan mempelajari, mengajarkan dan mengarahkan kepadanya.
Bahwa bercokolnya kelemahan tersebut -sebagaimana dijelaskan di atas- pada kita, hanyalah datang dari para pemberani yang jauh dari ajaran agama Allah, kewajiban dan sunnahnya. Maka jalan yang benar untuk terlepas dari kelemahan ini adalah kembali kepada agama kita dan bersemangat untuk mengamalkan serta berdakwah kepadanya secara keseluruhan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah:208).
Al-Alusi dalam Tafsirnya (Ruhul Ma’ani II/97) berkata: “Maknanya (ayat tersebut) adalah: “Masuklah kalian ke dalam Islam dengan totalitas kalian dan janganlah kalian tinggalkan sedikitpun dari lahir dan bathin kalian, kecuali Islam sudah memasukinya, sehingga tidak ada tempat untuk selain Islam.”
Semua yang disyari’atkan Allah dalam kitab-Nya serta yang disampaikan Rasul-Nya dalam sunnah-sunnahnya tidak diperkenankan bagi seorangpun untuk menganggapnya kecil dengan alasan apapun, bahkan wajib berpegang teguh dengan Islam secara keseluruhannya. Maka permasalahan yang merupakan kewajiban, haram untuk ditinggalkan dan perkara yang dinyatakan sebagai mandub atau mustahab, maka selayaknya bagi seorang muslim untuk bersemangat melaksanakannya dan berlomba-lomba dalam kebaikan secara umum.
Maka tiada jalan lain ke arah tersebut (perbaikan kondisi ummat), kecuali jalan ini (mengamalkan sunnah), yang dengannya akan tumbuh generasi sunnah, yang dalam jiwa-jiwanya telah tertanam kecintaan terhadap agama, suatu kecintaan yang akan melemahkan kecintaan pada yang lain, seperti kecintaan terhadap diri sendiri, harta dan anak, sehingga siaplah jiwa-jiwa itu untuk menerima semua kebaikan dan sikap dermawan dengan semua yang dimilikinya untuk menolong agama Allah ini.
Kewajiban Memperhatikan dan Mementingkan Sunnah
Sesungguhnya perkara yang paling pantas untuk dijadikan perhatian oleh seorang muslim dan yang paling utama waktunya dicurahkan di dalamnya ialah beramal di atas petunjuk Nabi dan mewujudkannya di dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan kemampuannya.
Hal itu disebabkan oleh tujuan akhir seorang mukmin adalah mendapatkan hidayah (petunjuk) yang dapat mengantarkannya ke negeri kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Jika kalian mau mentaatinya (Nabi) pasti kalian akan mendapat petunjuk.” (An-Nur:54). Dan firman-Nya yang lain: “Dan ikutilah ia agar kalian mendapat petunjuk.” (Al-A’raf:158).
Juga firman-Nya: “Sungguh pada diri Rasul terdapat suri tauladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap perjumpaan dengan Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab:21). Dan ayat ini, sebagaimana telah dikatakan oleh Ibnu Katsir adalah pijakan utama dalam meneladani Rasul baik dalam perkataan, perbuatan dan kehidupannya.
Keteladanan ini hanya akan dijalani dan dicocoki oleh orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir saja.
Sesungguhnya apa yang ada pada dirinya, berupa: keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan mendapat pahala-Nya serta takut akan ‘adzab-Nya, akan mendorongnya meneladani Rasulullah. (Tafsir As-Sa’di 6/209).
Kemuliaan dan kedudukan seorang mukmin hanyalah diukur dengan sikap ittiba’-nya kepada sunnah Rasulullah, semakin tinggi semangatnya terhadap sunnah, semakin tinggi pula derajatnya. Oleh karena itu, para ‘ulama terdahulu dari kalangan salafush-shalih menentukan ukuran bagi orang yang bisa diambil ilmunya -sesuatu yang paling mulia untuk diambil-, adalah dengan seberapa kuat dia memegang sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha`i: “Mereka, para salaf, jika mendatangi seseorang yang akan diambil ilmunya, terlebih dahulu melihat: bagaimana shalatnya, sunnahnya serta tingkah laku dan penampilannya. Setelah itu, baru mereka mengambil ilmunya.”
Di dalam risalah Al-Qusyairiyah (1/75) karya Dzinnun Al-Mashri, dia berkata: “Termasuk tanda bagi seseorang yang mencintai Allah adalah bahwa dia mengikuti kekasih Allah dalam akhlaq, perbuatan dan perintah-perintah serta sunnah-sunnahnya.” Pernyataan ini benar-benar diambil dari Kitabullah. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran:31).
Berkata Al-Hasan Al-Bashri: “Tanda kecintaan mereka kepada Allah adalah sikap ittiba’ mereka kepada sunnah Rasulullah.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya 2/204, Ath-Thabari 3/232 dan Al-Laalika`’ 1/204)
Para ‘ulama rabbaniyyin di sepanjang masa selalu seragam dan menonjol dalam memberi semangat untuk beramal dengan sunnah sesuai makna yang asli -lihat kembali makna “sunnah” di atas-. Baik dengan pengarahan, pengajaran maupun tulisan-tulisan mereka. Dan dengan keutamaan Allah serta kesungguhan yang tercurah ini, telah menghabiskan waktu dan tenaganya, dihadapinya mara bahaya dengan penuh susah payah. Ditempuhnya jalan yang diliputi kesulitan serta kemudahan, hingga sampailah As-Sunnah kepada kita dalam keadaan terlindungi, terjaga dan terpenuhinya kebutuhan (akan sunnah), agar kita dapat mempelajari, berhubungan serta menyeru kepadanya dengan sepenuh daya upaya yang ada.
Senantiasa di sepanjang masa -dengan memuji Allah dan taufiq serta pertolongan-Nya- ada sekelompok manusia yang mengarahkan perhatian dan kemauannya serta membesarkan anak-anaknya di atas perhatian yang besar terhadap sunnah nabawiyyah. Dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara yang sedikit ataupun yang seluruhnya diambil, sebagaimana telah digariskan oleh Nabi dengan ketentuan yang syar’i yang tercantum dalam hadits shahih: “Apabila aku perintah kalian untuk melaksanakan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah).
Mereka menyeru untuk berpegang kepada sunnah dan selalu berada di atasnya, baik secara keseluruhan maupun terperinci. Dan mereka juga mengingkari orang yang menyimpang dari jalan tersebut, bagaimanapun bentuk penyimpangannya. Merekalah orang-orang yang dikatakan oleh Abu ‘Abdillah Al-Hakim: “Suatu kaum yang menempuh jalan orang-orang shalih serta mengikuti atsar orang salaf yang telah lampau. Mereka kalahkan para ahli bid’ah, orang-orang yang menyimpang dari jalan sunnah Rasulullah. Akal-akal mereka dipenuhi dengan kelezatan sunnah dan hati-hati mereka penuh dengan keridhaan dalam segala keadaan. Mempelajari sunnah adalah kesenangan mereka dan majlis-majlis ilmu adalah kesukaan mereka. Dan ahli sunnah tanpa kecuali, adalah saudara-saudara mereka. Dan orang-orang yang menyimpang dari jalan kebenaran serta ahli bid’ah seluruhnya adalah musuh-musuh mereka.” (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits hlm. 4)
Akan tetapi, kelompok ini -yang mendapat pertolongan dan keselamatan (firqatun najiyah)- pada setiap masa tidak terlepas dari orang bodoh atau pengikut hawa nafsu yang membuat berbagai macam tipu daya, mencanangkan permusuhan dan melekatkan dengan kedustaan yang sangat besar kepada mereka.
Terkadang mereka mencerca orang yang menjalankan sunnah dengan julukan memecah-belah persatuan kaum muslimin! Demi Allah mereka telah berdusta. Cercaan itu terkadang dalam bentuk umpatan dan celaan kepada orang yang mendalami sunnah nabawiyyah melalui penelitian, penetapan, perbuatan dan dakwah, yaitu -ucapan para penentang sunnah- di bawah kaidah pembagian agama kepada perkara juz`iyyat (cabang) untuk mencela orang yang mendalami masalah ini dan kepada perkara kulliyyat (ushul) untuk mencela orang yang tidak ada perhatian padanya.
Akan tetapi pembagian tadi telah dibantah oleh para ‘ulama baik dahulu ataupun ‘ulama jaman sekarang. Di antara ‘ulama jaman dahulu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang berkata: “Adapun pemisahan antara satu macam penamaan: masalah-masalah ushul dengan macam yang lain dengan penamaan: masalah-masalah furu’, maka ini pemisahan yang tidak ada asalnya, tidak dari para shahabat dan tidak pula dari tabi’in serta tidak pula dari para imam Islam. Pembagian ini tidak lain diadopsi dari kelompok Mu’tazilah dan yang seperti mereka (dari kalangan) ahli bid’ah.” (Al-Masa`il Al-Maaridiniyah hal.788).
Sedangkan dari kalangan ‘ulama sekarang yang membantahnya adalah Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Imam Muhadditsul ‘Ashr (Muhaddits jaman ini) Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Rahimahullahu Ta’ala, dalam pembicaraannya dengan salah seorang anggota Jama’ah Hizbiyyah Islamiyyah. Beliau berkata:
“Yang kami ketahui, bahwa semua da’i-da’i Islam pada saat ini selain yang berintima’ -kepada manhaj salafush shalih- membagi Islam kepada ushul dan furu’ -dan sebagaimana yang telah kami katakan tadi: mereka membagi Islam kepada isi (bagian dalamnya-pent.) dan kulit (bagian luar Islam-pent.).” Jaman sekarang ini merupakan jaman yang di dalamnya terjadi kemelut yang membinasakan kaum muslimin, sehingga mereka semakin dijauhkan dari Islam, sekiranya mereka ingin mendekatinya.
Sekarang -dengan tsaqofah yang anda punyai dan ilmu yang saya miliki-: Tidaklah kita akan mampu untuk membedakan mana yang ushul dan mana yang furu’, kecuali bila yang dimaksud dengan ushul adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ‘aqidah saja dan tidak ada kaitannya dengan perkara hukum. Dengan begitu, amalan shalat yang merupakan rukun kedua tidak masuk dalam masalah ushul, akan tetapi merupakan bagian furu’ atau cabang. Mengapa demikian? Karena ia tidak punya kaitan dengan ‘aqidah secara murni. Pembagian seperti ini sangat membahayakan sekali. Kalau kita anggap benar pembagian ini, yaitu uhsul adalah masalah ‘aqidah yang tidak boleh berselisih tentangnya, siapa yang menyelisihinya berarti kafir sedangkan furu’ adalah masalah hukum, yang setiap orang boleh berselisih di dalamnya. Sekarang kita ambil contoh masalah shalat fardhu -yang menurut mereka termasuk furu’-. Semua kaum muslimin sepakat tentang kewajiban shalat fardhu tersebut dan barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah kufur walaupun hal ini termasuk masalah ahkam, yang tentunya hal ini sangat bertentangan dengan pengertian mereka tentang furu’. Contoh kedua adalah masalah apakah Rasulullah melihat Allah di dunia atau tidak? Ini termasuk perkara ‘aqidah, akan tetapi tidak ada satu ‘ulamapun yang mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dalam masalah ini. Dari dua contoh ini, tampak jelas bathilnya pembagian agama ke dalam uhsul dan furu’.
Untuk itu, aku mengetahui, bahwa sebagian jama’ah dahulu menyerukan untuk mengadopsi (mengambil) Islam secara keseluruhan. Dan ini merupakan dakwah yang benar. Karena Islam sebagaimana datang kepada kita yang wajib kita adopsi (ambil).
Akan tetapi dari sisi amaliyah: mungkin saja seseorang secara individu misalnya, atau kelompok hanya mampu untuk menjalankan satu sisi saja, tapi tidak mampu untuk menjalankan sisi yang lain. Akan tetapi dari segi pemikiran: Al-Islam wajib untuk diadopsi secara total, tidak dibagi-bagi (dipetak-petak) misalnya: fardhu, sunnah, mustahab, mandub,?dan seterusnya. Jangan kita katakan: “Ini hanya perkara mandub tidak ada nilainya, ini mustahab tidak penting?, cukup bagi kita yang fardhu-fardhu saja.” Tidak demikian, kita menyeru kepada Islam secara keseluruhan dan selanjutnya setiap individu mengambil dari apa yang dapat membangkitkan dan yang mampu untuk dilaksanakan.” (lihat kembali tafsir surat Al-Baqarah:208 di atas).
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Sunnah Nabi, mengamalkannya, berpegang teguh dengannya serta membelanya dari para penentang dan musuh-musuhnya. Amin Ya Mujiibas Saa`iliin. Wallahu a’lamu bish shawaab. {Untuk lebih jelas bisa meruju’ kepada kitab “Dharuuratul Ihtimaam Bis Sunnanin Nabawiyyah” karya Asy-Syaikh ‘Abdussalam bin Barjas Alu ‘Abdil Karim}

Penerimaan Peserta Qurban Yayasan As-Sunnah Padang

Alhamdulillah Sudah 6 Orang Peserta Qurban yang ikut bergabung dengan Yayasan As-Sunnah Padang....Tinggal 8 Orang Lagi!!!
Daftar Peserta Qurban Yayasan As-Sunnah Padang:
1. Bpk. Beni Raharjo: Cikarang, Bekasi. 27/8/14
2. Bpk. Alek Kurniawan Apiyanto: Jakarta. 28/8/14
3. Bpk. Rahmat Ika Syahrial, SHi: Padang. 28/8/14
4. Bpk. Firdaus: Padang. 28/8/14
5. Hamba Allah: Bekasi. 29/8/14
6. Bpk. Revan Abdi: Jakarta. 29/8/14
7.---
8.---
9.---
10.---
11.---
12.---
13.---
14.---

Bismillah,
Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh

Dalam rangka menyambut Iedul Adha, kami dari Yayasan As-Sunnah Padang membuka kesempatan kepada kaum muslimin untuk berqurban bersama Yayasan As-Sunnah Padang. In sya Allah Qurban yang kami terima akan disalurkan kepada Fakir Miskin dan pihak-pihak yang sangat membutuhkan.
Rencana Hewan Qurban akan kita sembelih di lokasi Pembangunan Masjid dan Sekolah Alam Tahfidzul Qur'an--As-Sunnah Padang.

Kisaran Harga Untuk 1 Ekor Hewan Qurban (Kambing dan Sejenisnya) di Kota Padang: Rp. 1.750.000,-

In sya Allah kesempatan berqurban ini kami buka sampai tanggal 25 September 2014 dengan target 14 peserta Qurban.
Biaya Qurban dapat disalurkan ke Rekening:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
a/n Yayasan As Sunnah Padang
Konfirmasi ke Panitia Qurban Yayasan Assunnah Padang : 085364575752 (SMS / Telpon)

Mari berqurban bersama Yayasan As-Sunnah Padang!!!
Indahnya Qurban di atas Sunnah Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam.
-----------------------------
Syari'at Qurban... Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini(idul Adha) adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
Keutamaan berqurban:
1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Hajj ayat 36:“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)

2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.

3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)
Juga firman-Nya:“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”

GHULUW: Penyakit yang Membahayakan Umat

Ghuluw atau sikap yang berlebih-lebihan dalam agama merupakan penyakit yang sangat berbahaya dalam sejarah agama-agama samawi (langit). Dengan sebab ghuluw, zaman yang penuh dengan tauhid berubah menjadi zaman yang penuh kesyirikan. Zaman yang penuh dengan tauhid kepada Allah berlangsung sejak zaman Nabi Adam sampai diutusnya Nuh ‘alaihis salam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. (Jami’u al-Bayan juz 2 hal. 194. Ibnu Katsir menukilkan penshahihan al-Hakim pada Tafsir beliau juz 1 hal. 237)
Sejak zaman Nabi Nuh inilah syirik tumbuh dengan semarak, padahal kita ketahui bahwa syirik itu adalah dosa yang paling besar dalam bermaksiat kepada Allah. Dengan syirik itu pula akan terhapus pahala-pahala, diharamkan pelakunya masuk ke dalam surga dan dia akan kekal di dalam neraka. Dan pada zaman Nabi Nuh inilah awal mula kesyirikan terjadi.
Allah telah menerangkan dalam Kitab-Nya tentang ghuluw (sikap berlebihan di dalam mengagungkan, baik dengan perkataan maupun i’tiqad) kaum Nabi Nuh terhadap orang-orang shalih pendahulu mereka. Tatkala Nabi Nuh menyeru mereka siang dan malam, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi agar mereka hanya menyembah Rabb yang satu saja, dan menerangkan kepada mereka akibat-akibat bagi orang yang menentangnya. Tetapi peringatan tersebut tidaklah membuat mereka takut, bahkan menambah lari mereka dari jalan yang lurus, seraya mereka berkata:
وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا. ﴿نوح: ٢۳﴾
Dan mereka berkata: “Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan janganlah pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr.” (Nuh: 23)
Di dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut: “Mereka adalah orang-orang shalih di kalangan kaum Nabi Nuh, lalu ketika mereka wafat syaithan mewahyukan kepada mereka (kaum Nabi Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka (orang-orang shalih tersebut) pada majlis-majlis tempat yang biasa mereka duduk dan memberikan nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melaksanakannya, namun pada saat itu belum disembah. Setelah mereka (generasi pertama tersebut) habis, dan telah terhapus ilmu-ilmu, barulah patung-patung itu disembah.” (lihat Kitab Fathu al-Majid bab “Ma ja`a Anna Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin”)
Ibnu Jarir berkata: “Ibnu Khumaid berkata kepadaku, Mahran berkata kepadaku dari Sufyan dari Musa dari Muhammad bin Qais: “Bahwa Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr adalah kaum yang shalih yang hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh alaihimus salam. Mereka mempunyai pengikut yang mencontoh mereka dan ketika mereka meninggal dunia, berkatalah teman-teman mereka: “Kalau kita menggambar rupa-rupa mereka, niscaya kita akan lebih khusyu’ dalam beribadah.” Maka akhirnya mereka pun menggambarnya. Ketika mereka (generasi pertama tersebut) meninggal dunia, datanglah generasi berikutnya. Lalu iblis membisikkan kepada mereka seraya berkata: “Sesungguhnya mereka (generasi pertama) tersebut telah menyembah mereka (orang-orang shalih tersebut), serta meminta hujan dengan perantaraan mereka. Maka akhirnya mereka pun menyembahnya.” (Shahih Bukhari dalam kitab tafsir [4920] surat Nuh)
Perbuatan kaum Nabi Nuh yang menggambar rupa-rupa orang-orang shalih yang meninggal di kalangan mereka ini berdasarkan anggapan mereka yang baik dan gambar-gambar ini belum disembah. Tapi ketika ilmu terhapus dengan kewafatan para Ulama dan ditambah dengan merajalelanya kebodohan, maka inilah kesempatan bagi setan untuk menjerumuskan manusia kepada perbuatan syirik dengan cara ghuluw terhadap orang-orang shalih dan berlebih-lebihan dalam mencintai mereka.
Timbullah pertanyaan di dalam benak kita, apa sebetulnya tujuan kaum Nabi Nuh menggambar rupa-rupa orang-orang shalih tersebut? Berkata Imam al-Qurthubi: “Sesungguhnya mereka menggambar orang-orang shalih tersebut adalah agar mereka meniru dan mengenang amal-amal baik mereka, sehingga mereka bersemangat seperti semangat mereka (orang-orang yang shalih), dan mereka beribadah di sekitar kubur-kubur mereka.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Senantiasa syaithan membisikkan kepada para penyembah kuburan bahwa membuat bangunan di atas kubur serta beri’tikaf di atasnya adalah suatu realisasi kecintaan mereka kepada para Nabi dan orang-orang shalih, dan berdoa di sisinya adalah mustajab. Kemudian hal semacam ini meningkat kepada doa dan bersumpah kepada Allah dengan menyebut nama-nama mereka. Padahal keadaan Allah lebih agung dari hal tersebut..” (Lihat Fathul Majid bab Ma Ja’a Anna Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin)
Perbuatan semacam ini merupakan suatu kesyirikan yang nyata disebabkan oleh sikap ghuluw mereka terhadap orang-orang shalih. Dan akibat dari perbuatan mereka ini ialah kemurkaan Allah atas mereka dengan menenggelamkan mereka dengan adzab-Nya sehingga tidak tertinggal seorang pun dari mereka termasuk anak dan istri beliau sendiri yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman di dalam ayat-Nya:
مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْصَارًا. وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لاَ تَذَرْ عَلَى الأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. ﴿نوح: ٢٥-٢٦﴾
Dari sebab kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan kemudian dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapatkan seorang penolong pun selain Allah. Dan berkata Nuh: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh: 25-26)
As-Suddi berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah mengabulkan doa Nabi Nuh, maka Allah memusnahkan semua orang-orang kafir yang ada di muka bumi termasuk anak beliau sendiri dikarenakan penentangannya kepada ayahnya.” (Tafsir Ibnu Katsir tentang surah Nuh)
Maka demikianlah balasan bagi orang-orang yang ghuluw di masa kaum Nabi Nuh.
Sikap ghuluw ini terus terjadi dari zaman ke zaman dan masa ke masa sampai terjadi pula di masa Bani Israil. Kaum Yahudi yang menyatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah sebagaimana terjadi pula pada kaum Nashrani yang menyatakan bahwa al-Masih adalah anak Allah. Allah menjelaskan keadaan mereka di dalam ayat-Nya:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ. ﴿التوبة: ۳۰﴾
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah.” Dan orang-orang Nashrani berkata: “Al-Masih itu putera Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?” (at-Taubah: 30)
Adapun penyebab sikap ghuluw orang-orang Yahudi terhadap ‘Uzair adalah karena mereka melihat dari mukjizat-mukjizat yang terjadi pada ‘Uzair seperti penulisan kitab Taurat dengan hafalannya setelah Taurat dihapus dari dada-dada orang-orang Yahudi, serta keadaan ‘Uzair yang hidup kembali setelah wafat seratus tahun lamanya. Lalu setelah akal mereka sempit untuk membedakan perbuatan dan kekuasaan Allah dengan kemampuan manusia yang terbatas, maka mereka menyandarkan hal tersebut kepada ‘Uzair dan mereka menyatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah sebagaimana Ibnu Abbas menyatakan: “Sesungguhnya mereka (Orang-orang Yahudi) menyatakan demikian (‘Uzair anak Allah) karena mereka tatkala mengamalkan suatu amal yang tidak benar, Allah menghapus Taurat dari dada-dada mereka. ‘Uzair pun berdoa kepada Allah. Tatkala itu kembalilah Taurat yang sudah dihapus dari dada-dada mereka turun dari langit dan masuk ke dalam batin ‘Uzair. Kemudian ‘Uzair menyuruh kaumnya seraya berkata: “Allah telah memberi Taurat kepadaku.” Maka serta merta mereka mereka menyatakan: “Tidaklah Taurat itu diberikan kecuali karena dia anak Allah.” Sedangkan di dalam riwayat lain beliau berkata: “Bakhtanshar ketika menguasai Bani Israil telah menghancurkan Baitul Maqdis dan membunuh orang-orang yang membaca Taurat. Waktu itu ‘Uzair masih kecil sehingga dia dibiarkan (tidak dibunuh). Dan tatkala ‘Uzair wafat di Babil seratus tahun lamanya kemudian Allah membangkitkan serta mengutusnya kepada Bani Israil, beliau berkata: “Saya adalah ‘Uzair.” Mereka pun tidak mempercayainya seraya menjawab: “Nenek moyang kami mengatakan bahwa ‘Uzair telah wafat di Babil, dan jika engkau benar-benar adalah ‘Uzair, diktekanlah Taurat kepada kami. Maka ‘Uzair pun menuliskannya. Melihat hal itu mereka menyatakan: “Inilah adalah anak Allah.” (Zadul Masi’ir Fii ‘Ilmi At-Tafsir, oleh Ibnul Jauzi juz 3 hal 423-424)
Riwayat kedua ini menyatakan bahwa ‘Uzair adalah seorang Nabi dari para Nabi Bani Israil. Setelah beliau meninggal seratus tahun lamanya, Allah membangkitkannya sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. ﴿البقرة: ٢٥۹﴾
Atau apakah kamu tidak (memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah: 259)
Demikianlah asal usul orang-orang Yahudi menamakan ‘Uzair sebagai anak Allah. Adapun perkataan orang-orang Nashrani bahwa Isa anak Allah atau sebagai Allah, ada dua sebab. Yang pertama karena Isa lahir tanpa bapak. Dan kedua karena dia mampu menyembuhkan orang buta dan bisu serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah. (Kitab Mahabbatu ar-Rasul hal. 155)
Yang menyatakan demikian bukanlah shahabat-shahabat Nabi Isa sendiri, melainkan orang-orang yang ghuluw dari kalangan Nashrani setelah wafat beliau. Setelah selang beberapa waktu mereka menjadi musyrik dikarenakan perkataan mereka itu.
Allah telah membantah serta menerangkan sangkaan mereka yang tanpa dalil tersebut, yang menyebabkan mereka kafir. Allah berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ. ﴿المائدة: ٧٢﴾
Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam… (al-Maidah: 72)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. ﴿المائدة: ٧۳﴾
Sungguh telah kafir orang yang menyatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,” padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al-Maidah: 73)
Siksaan yang pedih di akhirat merupakan balasan orang-orang yang menyatakan bahwa Isa adalah putra Allah atau Isa adalah Allah. Dan mereka termasuk orang-orang kafir dan akan kekal di neraka. Mereka tidak mengetahui bahwa Isa adalah hanyalah seorang Rasul, dan dia hanyalah orang biasa yang dimuliakan dengan beberapa kekhususan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ… ﴿المائدة: ٧٥﴾
Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul, yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya para Rasul, dan Ibunya seorang yang benar, keduanya biasa memakan makanan…” (al-Maidah: 75)
Demikianlah umat-umat terdahulu terjebak ke dalam jurang dosa yang sangat dalam yaitu kesyirikan disebabkan sikap ghuluw mereka kepada orang-orang shalih.
Kerusakan seperti ini tak kunjung berhenti dan akan terus berulang sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat ini akan meniru peradaban kaum-kaum sebelumnya. Beliau bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟! (رواه البخاري ومسلم)
Benar-benar kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan-jalan) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu akan mengikuti mereka. Kami (shahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan kita harus meyakini hadits ini bahwa umat ini akan mengikuti sunnah-sunnah umat-umat sebelum mereka seperti sikap ghuluw Yahudi dan Nashara. Hal ini telah terjadi di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yaitu ketika terjadi kekufuran yang bersumber pada sikap ghuluw kelompok Saba’iyah (pengikut Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi) terhadap Ali bin Abi Thalib sehingga mereka menyatakan bahwa Ali adalah Tuhan dan memiliki sifat ketuhanan. Kelompok ini lebih dikenal dengan sebutan Syi’ah Rafidlah yang pertama kali membuka pintu ghuluw terhadap Ali bin Abi Thalib dan kepada anak cucu beliau radhiallahu ‘anhu.
Di antara sikap ghuluw yang ada kita juga bisa menemukan adanya sikap ghuluw yang dilakukan sekelompok dari orang-orang sufi terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syaikh-syaikh mereka. Seperti tindakan mereka berdoa kepada Rasul, meminta bantuan (isti’anah), dan pertolongan (istighatsah) dengan memanggil-manggil beliau, atau mengusap-usap kubur beliau atau thawaf di sekelilingnya. Dan terkadang seperti itu pula mereka melakukan terhadap syaikh-syaikh mereka yang telah meninggal.
Di antara mereka ada yang bersikap ghuluw terhadap Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah di Baghdad, Syaikh al-Adawi di Mesir, Para Syaikh (yang dianggap, red) Wali Songo di Indonesia, serta di antara mereka ada pula yang bersikap ghuluw terhadap seorang tokoh yang difiguritaskan seperti Hasan al-Banna di Mesir yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin dari kalangan firqah Ikhwanul Muslimin sampai di antara mereka ada yang mengatakan bahwa: “Hasan Al-Banna tidak mati, akan tetapi hidup di sisi Allah, akhlaknya adalah Al-Quran”, sehingga beliau dijuluki sebagai asy-Syahid. Padahal beliau adalah seorang yang berakidahkan Sufi al-Hashafiyah Asy-Syadziliyah, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Farid Ahmad bin Manshur Ali Asy-Syabit di dalam Kitabnya Da’watu Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam hal. 63. Diterangkan pula di dalam kitab tersebut bahwa Hasan al-Banna telah menolak hadits tentang turunnya Imam Mahdi di akhir zaman, serta akidah beliau yang telah menyimpang dari akidah para salafus shalih.
Demikianlah sikap ghuluw selalu ada di umat ini selama mereka menjauhi Al-Qur`an dan As-Sunnah serta pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan semakin jauhnya mereka dari al-Qur`an dan as-Sunnah, semakin besarlah kerusakan yang mereka lakukan disebabkan sikap ghuluw tersebut. Tidak sedikit dari kalangan muslimin khususnya orang-orang awam yang terjatuh ke dalam perbuatan syirik sebagaimana yang dilakukan di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam.
Maka bagi kita haruslah ingat sabda beliau:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ. (رواه أحمد وابن ماجه والنسائي وقال الشيخ الإسلام ابن تيمية في الإقتضاء ص ١٠٦، إسناده على شرط مسلم و وافقه الألباني في الصحيحة رقم ١٢٨٣)
Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan (sikap) ghuluw di dalam agama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Nasa`i, dan berkata Syaikhul Islam di dalam Iqtidha hal. 106: Sanadnya dengan atas syarat Muslim, dan disepakati oleh Al-Albani di dalam ash-Shahihah 1283)
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjauhkan kita dari sikap berlebih-lebihan di dalam beragama, dan agar Allah menunjuki kita serta kaum muslimin untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus. Amin. Wallahu a’lam bis shawab.
Maraji’:
1. Al-I’tisham oleh al-Imam asy-Syatibi
2. Al-Qur`an al-Karim
3. Dakwah Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam oleh Syaikh Farid Ahmad bin Manshur Ali Asy-Syabt.
4. Kasyfus Syubhat oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
5. Kitab Fathul Majid oleh Asy-Syaikh Abdurrahman Ali Asy-Syaikh.
6. Mahabbatur Rasul Bainal Ittiba’ Wa al-Ibtida’ oleh Asy-Syaikh Abdurrauf Muhammad Utsman.
7. Tafsir Ibnu Katsir jilid 4.

Tabaruk

Tabaruk atau mencari barakah serta waktu dan tempat yang berkaitan dengannya termasuk perkara akidah yang sangat penting. Hal ini dikarenakan sering terjadi perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) di dalamnya. Perbuatan itu dapat menjerumuskan banyak orang ke dalam perbuatan bid’ah, khurafat, dan syirik, dulu maupun sekarang. Bukankah orang-orang jahiliyyah terdahulu beribadah kepada berhala-berhala disebabkan mereka mengharap barakah dari berhala-berhala tersebut?
Kemudian bid’ah tersebut masuk menyelinap ke dalam agama ini melalui orang-orang zindiq (munafiq). Di antara cara yang mereka gunakan untuk merusak agama dari dalam adalah menanamkan sikap ghuluw terhadap para wali dan orang-orang shalih serta bertabaruk dengan kuburan mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Dari sinilah orang-orang munafik memasukkan ke dalam Islam perkara bid’ah tersebut. Sungguh yang pertama kali mengada-adakan agama rafidlah adalah seorang zindiq Yahudi yang pura-pura menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya untuk merusak agama kaum Muslimin, sebagaimana Paulus merusak agama kaum Nashara … . Akhirnya muncullah bid’ah syiah yang merupakan kunci terbukanya pintu kesyirikan. Ketika para zindiq itu merasa kuat, mereka memerintahkan membangun tempat-tempat ibadah di atas kuburan dan menghancurkan masjid-masjid dengan alasan tidak boleh shalat Jum’at dan jamaah kecuali di belakang imam yang ma’shum … .” (Majmu’ Fatawa 27/16)
Sangat disayangkan betapa banyak kaum Muslimin terjatuh ke dalam perbuatan syirik melalui pintu tabaruk ini sehingga kita perlu mengetahui apa pengertian tabaruk serta mana yang disyariatkan dan mana yang dilarang.
Makna Dan Hakikat Tabaruk
Al Laits menafsirkan kata tabarakallah (ﺗﺒﺎﺮﻚﺍﷲ) adalah pemuliaan dan pengagungan. Az Zajaj mengatakan tentang firman Allah :
“Inilah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi.”
Kata Al Mubarak (yang diberkahi) maknanya adalah apa-apa yang mendatangkan kebaikan yang banyak.
Ar Raghib berkata : “Barakah berarti tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu.”
Ibnul Qayim berkata : “Barakah berarti kenikmatan dan tambahan. Sedangkan hakikat barakah adalah kebaikan yang banyak dan terus menerus yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah tabaraka wa ta’ala.”
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata : “Barakah berarti kebaikan yang banyak dan tetap. Diambil dari kata al birkah (ﺍﻠﺑﺮﻜﺔ) yang berarti tempat terkumpulnya air (kolam). Dan tabaruk berarti mencari barakah.”
Untuk lebih jelas maka perlu diketahui beberapa perkara sebagai berikut :
1. Bahwasanya barakah itu semuanya datang dari Allah, baik dalam hal rezki, pertolongan, kesembuhan, dan lain-lain. Maka tidak boleh meminta barakah kecuali kepada Allah karena Dia-lah Pemberi Barakah. Di antara dalil tentang hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata :
Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Ketika itu persediaan air sedikit. Maka beliau bersabda : “Carilah sisa air!” Para shahabat pun membawa bejana yang berisi sedikit air. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangan beliau ke dalam bejana tersebut seraya bersabda : “Kemarilah kalian menuju air yang diberkahi dan berkah itu dari Allah.” Sungguh aku (Ibnu Mas’ud) melihat air terpancar di antara jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 6/433)
Kalau sudah jelas bahwa barakah itu dari Allah, maka memintanya kepada selain Allah adalah perbuatan syirik seperti meminta rezki, mendatangkan manfaat serta menolak mudlarat kepada selain Allah. Tidak diragukan lagi bahwa barakah itu termasuk kebaikan, sedang kebaikan itu semuanya dari Allah seperti sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Dan kebaikan itu semuanya di tangan-Mu.” (HR. Muslim dengan syarah An Nawawi 6/57)
2. Sesuatu yang digunakan untuk bertabaruk seperti benda-benda, ucapan, ataupun perbuatan yang telah jelas ketetapannya dalam syariat, kedudukannya hanya sebagai sebab bukan yang mendatangkan barakah. Sebagaimana halnya dengan obat-obatan hanya sebagai sebab bagi kesembuhan, bukan yang menyembuhkan. Yang menyembuhkan adalah Allah. Oleh karena itu kita hanya mengharapkan kesembuhan kepada Allah. Dan terkadang obat tersebut tidak bermanfaat dengan ijin Allah. Maka yang disebutkan dalam syariat bahwa padanya terdapat barakah hanya digunakan sebagai sebab yang kadang-kadang tidak ada pengaruhnya karena tidak terpenuhi syaratnya atau karena ada penghalang. Penyandaran barakah kepadanya termasuk penyandaran sesuatu kepada sebabnya. Sebagaimana ucapan Aisyah radliyallahu ‘anha tentang Juwairiah bintul Harits radliyallahu ‘anha :
“Aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih banyak barakahnya daripada dia di kalangan kaumnya.” (HR. Ahmad, Musnad 6/277)
Artinya dialah sebagai sebab datangnya barakah dan bukan dia pemberi barakah.
3. Mencari barakah harus melalui sebab-sebab yang diperintahkan oleh syariat. Yang menentukan ada atau tidaknya barakah pada sesuatu hanyalah dalil syar’i. Karena perkara agama itu dibangun di atas dalil, berbeda dengan perkara dunia yang dapat diketahui dengan akal melalui pengalaman dan bukti.
4. Bertabaruk dapat dilakukan dengan perkara yang dapat dicapai dengan panca indera seperti ilmu, doa, dan lain-lain. Seseorang mendapatkan kebaikan yang banyak dengan barakah ilmunya yang dia amalkan dan dia ajarkan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bertabaruk adalah mencari barakah dalam hal tambahan kebaikan dan pahala serta semua yang dibutuhkan seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya melalui sebab-sebab dan cara yang telah ditetapkan dalam syariat.
Tabaruk Yang Disyariatkan
A. Bertabaruk Dengan Ucapan Dan Perbuatan
Banyak ucapan, perbuatan, serta keadaan yang diberkahi jika seorang hamba yang Muslim melakukannya untuk mencari kebaikan dan barakah melalui sebab tersebut dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia akan mendapatkan kebaikan dan barakah itu sesuai dengan niat dan kesungguhannya, jika tidak ada penghalang syar’i yang menghalanginya.
Di antara ucapan-ucapan yang mengandung barakah adalah dzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an. Tidak tersamar lagi bagi seorang Muslim bahwa dengan dzikir dan membaca Al Qur’an seorang hamba dapat memperoleh kebaikan serta barakah yang banyak. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang biasa berkeliling di jalan mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka mendapatkan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka pun saling memanggil : “Kemarilah pada apa yang kalian cari (hajat kalian).” Maka para Malaikat pun menaungi mereka dengan sayap mereka sampai ke langit dunia. Lalu Allah ‘azza wa jalla bertanya kepada para Malaikat itu sedangkan Allah Maha Tahu : “Apa yang diucapkan para hamba-Ku?” Para Malaikat menjawab : “Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memuji Engkau.” Allah bertanya : “Apakah mereka melihat Aku?” Para Malaikat tersebut menjawab : “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat Engkau.” Allah bertanya lagi : “Bagaimana sekiranya jika mereka melihat Aku?” Para Malaikat menjawab : “Sekiranya mereka melihat Engkau, niscaya mereka tambah bersemangat beribadah kepada-Mu dan lebih banyak memuji serta bertasbih kepada-Mu.” Allah bertanya : “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab : “Mereka minta Surga kepada-Mu.” Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihat Surga?” Para Malaikat menjawab : “Sekiranya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka lebih sangat ingin untuk mendapatkannya dan lebih bersungguh-sungguh memintanya serta sangat besar keinginan padanya.” Allah bertanya : “Dari apa mereka minta perlindungan?” Para Malaikat menjawab : “Dari neraka.” Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihatnya?” Para Malaikat menjawab : “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.” Allah bertanya : “Bagaimana kalau mereka melihatnya?” Para Malaikat menjawab : “Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka tambah menjauh dan takut darinya.” Allah berfirman : “Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang di antara Malaikat berkata : “Di antara mereka ada si Fulan yang tidak termasuk dari mereka (orang-orang yang berdzikir), dia hanya datang karena ada keperluan.” Allah berfirman : “Tidak akan celaka orang yang duduk bermajelis dengan mereka (majelis dzikir).” (HR. Bukhari)
Dari hadits ini diketahui betapa agung barakah dzikir tersebut, ia mengandung pengampunan dosa-dosa dan jaminan masuk Surga. Bukan hanya bagi orang-orang yang berdzikir saja, tetapi juga mencakup orang yang duduk bersama mereka. Sedangkan membaca Al Qur’an termasuk jenis dzikir yang paling agung. Di dalamnya terdapat barakah dunia dan akhirat yang tidak ada yang mampu menghitungnya kecuali Allah ‘azza wa jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya dia akan datang di akhirat nanti memberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
Di samping ucapan-ucapan ada pula perbuatan yang mengandung barakah jika seorang Muslim ber-iltizam dengannya dalam rangka ber-ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia akan mendapat barakah yang agung dengan ijin Allah. Termasuk di antaranya Thalabul ‘Ilmi (menuntut ilmu) serta mengajarkannya dan juga shalat berjamaah. Demikian pula maju ke medan tempur untuk meraih keutamaan mati syahid di jalan Allah. Hal ini merupakan amal yang mengandung barakah yang tidak ada yang lebih agung daripadanya kecuali barakah iman dan barakah kenabian dan kerasulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Orang yang mati syahid memiliki enam keutamaan di sisi Allah yaitu : Dia diampuni pada awal penyerangannya, diperlihatkan tempat duduknya di Surga, dilindungi dari adzab kubur, merasa aman dari ketakutan yang dahsyat, diletakkan di atas kepalanya mahkota kehormatan yang permatanya lebih baik daripada dunia beserta isinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan (diberi ijin) memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’dikarib, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 2/132)
Di samping ucapan dan perbuatan, keadaan-keadaan yang diberkahi antara lain : Makan bersama dan dimulai dari pinggir, serta menjilat jari (setelah makan), dan makan secukupnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud)
Juga beliau bersabda :
“Barakah itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir dan jangan dari tengah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud)
Beliau juga memerintahkan untuk menjilat jari karena seseorang tidak tahu mana di antara makanan itu yang mengandung barakah.
Beliau juga bersabda :
“Takarlah makanan itu, kalian akan diberkahi padanya.” (HR. Bukhari)
Semua ucapan atau perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian dilakukan seorang hamba dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Sunnah) niscaya akan menjadi penyebab turunnya barakah.
B. Bertabaruk Dengan Tempat
Allah menjadikan barakah pada beberapa tempat di muka bumi. Barangsiapa mencari barakah pada tempat tersebut, niscaya dia akan mendapatkannya dengan ijin Allah, jika dia beramal dengan ikhlas dan mutaba’ah. Tempat-tempat tersebut antara lain :
1. Masjid-masjid
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tempat yang paling dicintai Allah di suatu negeri adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling dibenci Allah dalam suatu negeri adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)
Bertabaruk dengan masjid bukan dengan mengusap tanah atau temboknya. Karena tabaruk adalah perkara ibadah maka harus sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencari barakah melalui masjid-masjid adalah dengan i’tikaf di dalamnya, menunggu shalat lima waktu, shalat berjamaah, menghadiri majelis-majelis dzikir di sana, dan perkara-perkara yang disyariatkan lainnya. Adapun perkara ibadah yang tidak disyariatkan tidak akan mendatangkan barakah, bahkan termasuk perbuatan bid’ah.
Di antara masjid yang memiliki keistimewaan tambahan dalam hal barakah adalah : Masjidil Haram, Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Masjidil Aqsa, dan Masjid Quba’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di masjid yang lain kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain ada tambahan :
“Dan shalat di Masjidil Haram lebih afdlal seratus kali daripada shalat di masjidku ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sabda beliau pula :
“Tidak boleh dilakukan perjalanan (jauh) kecuali kepada tiga masjid, yaitu masjidku ini, masjidil haram, dan masjidil aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau bersabda tentang masjid Quba’ :
“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu datang ke masjid Quba’ dan shalat padanya dengan satu shalat maka baginya seperti pahala umrah.” (HR. Ahmad, Hakim, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)
2. Kota Makkah, Madinah, dan Syam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Makkah :
“Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai-Nya. Sekiranya aku tidak diusir darimu, tidaklah aku akan keluar.” (HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)
Demikian pula Madinah dan Syam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan :
“Barangsiapa menginginkan kejelekan terhadap penduduknya (Madinah), Allah akan menghancurkannya sebagaimana melelehnya garam dalam air.” (HR. Muslim)
“Berbahagialah penduduk Syam.” Kami bertanya : “Kenapa?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya para Malaikat Allah Yang Maha Rahman membentangkan sayap mereka di atasnya.” (HR. Ahmad, Hakim, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir)
Sehingga orang yang bermukim di Makkah, Madinah, atau Syam dengan mengharap barakah Allah ‘azza wa jalla pada tempat tersebut, baik dalam hal tambahan rezki atau dihindarkan dari fitnah, berarti dia telah diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Adapun kalau seorang hamba bertabaruk dengan mengusap tanah, batu-batuan, tembok dan pepohonannya, atau dengan mengambil tanahnya untuk dicampur dengan air dan dijadikan obat atau yang semisal itu, maka dia justru mendapatkan dosa karena mengamalkan bid’ah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bertabaruk dengan cara seperti itu.
3. Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ketiga tempat tersebut juga termasuk diberkahi karena banyak kebaikan yang turun kepada manusia di tempat-tempat tersebut berupa pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka serta pahala yang besar sebagai barakah ber-ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula wuquf (menetap) di tempat tersebut pada waktu yang disyariatkan.
C. Bertabaruk Dengan Waktu
Allah subhanallahu wa ta’ala mengkhususkan beberapa waktu dalam hal keutamaan dan barakah. Barangsiapa memilih waktu-waktu tersebut untuk melakukan kebaikan padanya serta bertabaruk dengan menjalankan amal-amal yang disyariatkan pada waktu tersebut, niscaya dia akan memperoleh barakah yang agung. Seperti bulan Ramadlan, Lailatul Qadar, sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, Senin, Kamis, bulan-bulan Haram, dan 10 hari bulan Dzulhijah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu Surga dibuka dan pintu-pintu neraka Jahim ditutup serta setan dibelenggu pada bulan tersebut. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang terhalang (mendapatkan kebaikannya) maka sungguh ia terhalang (dari kebaikan yang banyak).” (HR. Ahmad dan dijayidkan oleh Al Albani karena syawahidnya dalam Misykah Al Mashabih)
Adapun barakah yang Allah jadikan pada bulan Ramadlan antara lain berupa berupa pengampunan dosa, tambahan rezki bagi seorang Mukmin, pendidikan (jiwa), serta pahala yang besar di sisi Allah.
Adapun Lailatul Qadar, keadaannya sangat agung sebagaimana firman Allah :
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al Qadr : 3)
Karena agungnya barakah pada malam tersebut sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan :
“Berjaga-jagalah (untuk mendapatkan) Lailatul Qadr pada bilangan ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan.” (HR. Bukhari)
Termasuk waktu yang diberkahi pula adalah 10 hari bulan Dzulhijah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Tidak ada amal pada hari-hari (lain) yang lebih afdlal daripada 10 hari bulan Dzulhijah ini.” Mereka para shahabat pun bertanya : “Tidak pula jihad?” Beliau bersabda : “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar menyabung nyawa dan hartanya dan tidak kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari)
Keutamaan hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijah) bagi orang yang berhaji telah dimaklumi. Allah membanggakan orang-orang yang wuquf di ‘Arafah kepada para Malaikat-Nya selama mereka datang semata-mata untuk mencari ampunan. Sedangkan berpuasa bagi yang tidak haji akan mendapatkan barakah yaitu diampuninya dosa-dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ … dan puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah untuk mengampuni setahun yang lalu dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)
Adapun hari Jum’at, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam Surga dan dikeluarkan dari Surga. Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim)
Adapun sepertiga malam terakhir, ketika Allah turun ke langit dunia, turun pula barakah yang agung bagi orang yang berdoa dan minta ampun pada waktu tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman : “Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari)
Mencari barakah pada waktu-waktu tersebut harus dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan sesuai dengan bimbingan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seorang hamba mencari barakah pada waktu-waktu tersebut dengan amal yang tidak disyariatkan niscaya dia tidak akan diberi taufiq untuk mendapatkan barakah tersebut.
Demikian pula barakah terdapat pada beberapa jenis makanan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti minyak zaitun, susu, al habbatus sauda’ (jinten hitam), madu, air zam-zam, dan kurma.
Wallahu A’lam.

TAUHID WAHAI PARA DAI !

Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah itu?
Terlalu banyak seruan atau ‘dakwah’ ilallah (menuju Allah) yang kita jumpai di sekeliling kita. Masyarakat pun dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘dakwah itu semuanya sama’. Benarkah? Lalu manakah seruan yang benar yang akan mendekatkan kepada Allah?
Beragamnya seruan itu sendiri telah menjadi sunnatullah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bercerita di mana Rasulullah membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.”
As Sa’dy menjelaskan apa yang dimaksud dengan jalan yang lurus tersebut di dalam kitab tafsirnya: “Adalah jalan yang sangat jelas yang akan menyampaikan kita kepada Allah dan kepada surga-Nya. Jalan yang lurus itu adalah mengenal yang hak dan mengamalkannya.”
Rasulullah juga telah menjelaskan akan munculnya para da’i yang menyeru di atas jurang neraka. Dalam hadits Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hudzaifah mengatakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan yang khawatir akan menimpaku. Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan? Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu neraka dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka akan mencampakkannya ke jurang neraka tersebut.”
Kedua hadits di atas menjelaskan tentang adanya sunnatullah munculnya berbagai seruan yang semuanya mengangkat panji Islam dan mengatasnamakan Islam. Akan tetapi seruan yang benar adalah satu dan jalan yang benar adalah satu dan tidak berbilang. Allah berfirman:
“Tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)
Hadits tadi juga menjelaskan bahwa jalan yang tidak benar itu lebih banyak daripada jalan yang benar. Demikian juga dengan da’i yang menyeru kepada kesesatan, lebih banyak dibanding dengan para penyeru kebenaran.
Kedudukan Tauhid
Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam agama. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal z. Rasulullah berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” ( HR. Bukhari dan Muslim)
1. Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini. Rasulullah bersabda:
“Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar)
2. Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur’an sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah:
“Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah”. (Al-Baqarah: 21-22)
Dalil yang menunjukkan hal tadi dalam ayat ini adalah perintah Allah “sembahlah Rabb kalian” dan “janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah”.
3. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga penutup para Rasul yaitu Muhammad . Allah berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” (An-Nahl: 36)
4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan.
Allah berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Al-Isra: 23)
“Dan sembahlah oleh kalian Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. ” (An-Nisa: 36)
5. Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam surga dan terlindungi dari neraka Allah, sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan diharamkan dari surga Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan)
Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap Lailaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga.” (Shahih, HR Muslim No.31 dari Abu Hurairah)
6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah. Allah berfirman:
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama. ” (Al-Bayinah: 5)
Tauhid Poros Dakwah Para Rasul
Menggali dakwah seluruh para rasul dan sepak terjang mereka dalam memikul amanat dakwah ini, niscaya akan kita temukan keanehan di atas keanehan yang seandainya kita yang memikulnya, sunggguh kita tidak akan sanggup.
Dakwah membutuhkan keikhlasan agar bisa bernilai di sisi Allah dan untuk mengikat diri kita dengan pemilik dakwah itu, yaitu Allah, serta mendapatkan segala apa yang dipersiapkan di negeri akhirat. Dakwah membutuhkan keberanian untuk tidak gentar, takut, dan lari ketika menghadapi segala tantangan. Dakwah membutuhkan kesabaran terhadap segala ujian dan tantangan di atasnya. Dakwah membutuhkan istiqamah untuk selalu bersemangat di atas dakwah meskipun kebanyakan orang tidak menerimanya. Dakwah membutuhkan iman yang kuat dan yakin terhadap pertolongan pemilik dakwah ini yaitu Allah. Dakwah membutuhkan tawakal, kelembutan, dan segala bentuk akhlak yang mulia.
Allah telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa yang menjadi poros dakwah para rasul adalah seruan untuk mentauhidkan Allah sebagaimana firman Allah:
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut. ” (An-Nahl: 36)
Dari ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengambil beberapa faidah di dalam kitabnya At Tauhid, di antaranya: Hikmah dari diutusnya seluruh para rasul, bahwa risalah itu mencakup seluruh umat, dan agama para nabi itu adalah satu.
Dari semua faidah ini, sangat jelas bahwa risalah para Rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah agar umat ini menyembah hanya kepada-Nya. Atau dengan kata lain, memerdekakan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Rabbnya manusia.
Tauhid, Wahai Para Da’i!
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany mengatakan dalam risalahnya Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam: “Melihat jeleknya situasi yang menimpa saudara kita se-Islam, maka kita mengatakan situasi yang jelek ini tidak lebih jelek dibanding dengan kejahatan situasi jahiliah dulu ketika Allah mengutus Rasulullah…”
Berdasarkan hal itu, maka obatnya adalah obat yang disebarkan oleh Rasulullah di masa jahiliah. Maka dari itu, bagi setiap da’i agar tampil mengobati jeleknya pemahaman umat terhadap kalimat La ilaha illallah dan mengobati keadaan itu dengan obat tersebut. Yang demikian itu sangat jelas jika kita mencoba untuk merenungi apa yang difirmankan oleh Allah:
“Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah. ” (Al-Ahdzab: 21)
Kemudian beliau (Syaikh Albany) mengatakan: “Maka Rasul kita Muhammad adalah suri teladan yang baik dalam mengobati segala problem yang menimpa kaum muslimin di masa kita sekarang ini, bahkan dalam setiap waktu dan keadaan. Yang demikian itu menuntut kita agar seharusnya memulai sebagaimana Rasulullah memulai yaitu pertama kali memperbaiki akidah kaum muslimin yang sudah rusak, yang kedua ibadah mereka, dan yang ketiga akhlak. Saya bukan berarti ingin memisahkan antara yang pertama dari yang paling penting menuju yang penting kemudian yang di bawahnya lagi. Akan tetapi yang saya maksudkan adalah agar setiap orang Islam terlebih khusus da’inya untuk memberikan perhatian yang besar (terhadap akidah, red).”
Kenyataan yang menimpa umat secara menyeluruh dan kaum muslimin secara khusus adalah kerusakan hubungan mereka dengan Allah. Bahkan sampai kepada puncak menyekutukan Allah dalam peribadatan dan mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah, baik itu dalam wujud manusia atau benda-benda yang tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa.
Penyakit ini telah mendarah daging seperti pohon yang telah menancap akarnya. Bahkan telah menjadi penyakit kanker yang setiap saat merenggut nyawa manusia. Oleh karena itu, sungguh sangat dibutuhkan obat yang tepat dan dokter yang telaten untuk mengawali perombakan akar-akar pohon tersebut dan mengobati penyakit-penyakit kanker tersebut. Ketahuilah, dokter umat ini adalah mereka-mereka yang mengikuti langkah Rasulullah dalam berdakwah yang memulai dari tauhid yang merupakan dasar bangunan Islam ini sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan mereka yaitu Tauhidullah.
Wahai para da’i, mulailah darimana Allah dan Rasul-Nya memulai dan persiapkan dirimu untuk menghadapi segala kemungkinan gangguan dan cobaan yang dahsyat yang terkadang harus mengalami kegagalan di tengah jalan. Mulailah wahai para da’i dari tauhidullah!
Sumber Bacaan:
1. Al Qur’an
2. Kitab Tauhid-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
3. Qaulul Mufid-Muhammad Al Wushabi
4. Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam Syaikh Al Albany

Translate This Site

Modified by SUNNAHCARE Visit Original Post SUNNAH CARE