Pelaksanaan Qurban

Pelaksanaan Qurban
Berita Hari Ini
print this page
Berita Terbaru

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang

Bismillah,

Assalamu'alaykum, Kami dari Yayasan As-Sunnah Padang kembali hadir dalam rangka penggalangan Infaq Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang. Untuk TA 2015/2016

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang:
- 27/10/14: Rp. 500.000,- Abu Zahid, Surabaya. 081330251xxx
- 27/10/14: Rp. 200.000,- Hamba Allah
- 26/10/14: Rp. 500.000,- Bpk. Lutfhi, Jakarta. 087780137xxx
- 25/10/14: Rp. 200.000,- Ibu. Rima Muryantina
- 24/10/14: Rp. 0,-
- 23/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah, Medan. 085275399xxx
- 22/10/14: Rp. 50.000,- Hamba Allah.
- 21/10/14: Rp. 123.123,- Hamba Allah, Jakarta.
- 20/10/14: Rp. 0,-
- 19/10/14: Rp. 0,-
- 18/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 17/10/14: Rp. 0,-
- 16/10/14: Rp. 0,-
- 15/10/14: Rp. 0,-
- 14/10/14: Rp. 200.000,- Abu Fadhila, Makassar. 081254201xxx
- 13/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 12/10/14: Rp. 0,-
- 11/10/14: Rp. 0,-
- 10/10/14: Rp. 0,-
Total: Rp. 2.073.123,-

Kekurangan Dana: 55.000.000 - 2.073.123= Rp. 52.926.877,-

Rekening Infaq ke:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
Kode Bank: 451
a/n Yayasan As Sunnah Padang
Konfirmasi Donasi ke : 085364575752
-------------------------

Luar Negri Via Western Union ke:
Nama: Rahmat Ika Syahrial
No. KTP: 1371030507830007
Alamat: Jalan Pisang No. 207 Purus Kebun
Kel. Ujung Gurun, Kec. Padang Barat, Kota Padang
Sumatera Barat, Indonesia
Telp: +6285263627094
-------------------------

Via Paypal:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------

Download Proposal Lengkap di:
www.mediafire.com/view/zqoy5t4drjwgxem/PROPOSAL_SDIT_Assunnah_Padang.doc

Setelah melihat perkembangan sejak tahun 2004 - Februari 2014 maka kami sadar akan pentingnya memulai dakwah pada ruang lingkup pendidikan karena begitu besar perannya dalam mendakwahi masyarakat. Dengan anak-anak mereka diberikan pendidikan Islami maka secara perlahan orangtua dan keluarga anak-anak tersebut akan mengetahui dan mengikuti dakwah yang Haq ini.

Oleh karena itu maka kami telah memulai dengan mendirikan TKIT Tahfidz pada bulan Maret - Juni 2014 kemaren, dengan konsep materi mengedepankan Tahfidz Quran dan berusaha memberikan keringanan-keringanan dalam hal bea sekolah seperti kemudahan dalam hal uang masuk, seragam, buku-buku paket, perlengkapan sekolah, spp, dll.

Disamping hal tersebut Alhamdulillah kami Yayasan As-Sunnah Padang telah mendapatkan sebidang tanah wakaf dengan luas sekitar 1.693 M2 di daerah Gunung Pangilun, Padang. Maka untuk menggabungkan semua tujuan diatas kami berencana membangun sebuah Masjid dengan konsep Surau (seperti rumah panggung) dimana Masjid ini diharapkan mempunyai 2 fungsi yakninya sebagai tempat ibadah dilantai atas dan sekolah dilantai bawah. Sebagaimana informasi selama ini yang telah kami sebarkan.

Qaddarullah untuk meniti jalan ke surga penuh duri dan onak begitu juga dengan program pembangunan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Tapi kami yakin dengan niat yang ikhlas, Allah Azza wa Jalla akan membantu perjuangan ini. Sampai saat ini tanggal 9 Oktober 2014 program pembangunan Masjid dan sekolah Tahfidz ini sudah dalam tahap surat menyurat dan perizinan dari pihak terkait.

Melihat kondisi seperti ini maka kami putuskan untuk tetap menjalankan program pendidikan dimana setelah TKIT Tahfidz ini berdiri rencana selanjutnya mendirikan SDIT Tahfidz yang in sya Allah direncanakan tahun 2015 besok sudah bisa beroperasi. Hal ini untuk melanjutkan program dari TKIT As-Sunnah Padang yang sudah berjalan dengan konsep Tahfidz Quran. Untuk itu dibutuhkan persiapan dalam segala hal terutama dalam waktu, tenaga dan biaya. Dalam hal waktu dan tenaga Alhamdulillah kami dari Yayasan As-Sunnah Padang telah menyiapkan. Maka yang kami perlukan sekarang ini adalah dalam hal persiapan biaya. Untuk itu maka kami membutuhkan uluran tangan kita semua untuk mewujudkan pendirian SDIT Tahfidz ini.

Berikut beberapa hal terkait pendirian SDIT Tahfidz ini:

A. Jadwal Rencana Pendirian SDIT Tahfidz
1. Survey Lapangan dan Penyiapan Konsep: 1 Juli 2014 - 30 September 2014
2. Penggalangan Donasi Pendirian SDIT Tahfidz: 10 Oktober 2014 - 31 Desember 2014
3. Kontrak Gedung dan Persiapan: 1 Januari 2015 - 31 Januari 2015
4. Penerimaan Siswa Baru SDIT Tahfidz: 1 Februari 2015 - 5 Juni 2015
5. Mulai Belajar / Tahun Ajaran Baru: Juli 2015

B. Estimasi Biaya
1. Kontrak Gedung SDIT / Tahun: Rp. 25.000.000,-
2. Perlengkapan Kursi dan Meja 30 Siswa @ Rp. 400.000,-: Rp. 12.000.000,-
3. Perlengkapan Kantor, Guru, Bea tak terduga: Rp. 10.000.000,-
4. Perlengkapan ATK, Buku Paket 30 Siswa, Alat Peraga, dll: Rp. 8.000.000,-
Total: Rp. 55.000.000,-

C. Personil Sekolah Tahfidz
1. Kepala Sekolah: 1 orang
2. Guru Wali Kelas: 2 orang
3. Guru bid. Studi: 2 orang
4. Guru Tahfidz: 2 orang
5. Tata Usaha dan Perlengkapan: 1 orang
Total: 8 orang

D. Siswa
1. Siswa Kelas I Putra: 15 orang
2. Siswa Kelas I Putri: 15 orang

E. Jam Pelajaran
Senin - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
Sabtu: Tadabbur Alam, Out Bond, Camping, dll
Ahad: Libur

F. In Sya Allah Rencana 5 Tahunan Div. Pendidikan Yayasan As-Sunnah Padang
- 2014: Pendirian TKIT Tahfidz (Alhamdulillah telah berjalan)
- 2015: Pendirian SDIT Tahfidz (Dalam Proses)
- 2016: Pendirian SMPIT Tahfidz
- 2017: Pendirian SMAIT Tahfidz
- 2018: Pendirian As-Sunnah Padang Islamic Centre.
-------------------------
STRUKTUR YAYASAN ASSUNNAH PADANG
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor: AHU-03304.50.10.2014 TANGGAL 2 JULI 2014

PEMBINA:
Ketua : Bpk. Firdaus, (facebook: Alam Sumatera Barat)
Anggota :
1. Ust. Abu Thohir Jones Vendra, LC (Alumnus Univ. Islam Madinah), (facebook: Jones Vendra)
2. Ust.  Abu Faatema Ahmad Daniel, LC, MA ( Alumnus Univ. Islam Madinah), (facebook:  Abu Faatema Ibnu Zubair)
3. Muhammad Arif. S.Pt
4. Rivo Martius

PENGAWAS:
Ketua : Muhammad Subhan, Amd, (facebook:  Muhammad Subhan)
Anggota :
1. Fakri Indra, S.Kom, (facebook: Fachry Indra)
2. Novizardi (Bang Yopi), (facebook: Bang Yopi Nurusy-Syifa)

PENGURUS:
Ketua : Rahmat Ika Syahrial, S.Hi, (facebook: Akhi Salman)
Sekretaris : Yogi Safenly, Amd, (facebook: Yogi Safenly)
Bendahara : Arie Candra de Putra, (facebook: Arie Candra de Putra)

DIVISI:
I. Divisi Dakwah:
Ketua : Harqi Fadilla Maizar, (facebook: Harqi Fadilla Maizar)
Anggota :
1. Dwi Winarno, (facebook: Dwi Winarno)
2. Detfi Yoni, (facebook: Detfi Yoni Putra)

II. DivisiPembangunan:
Ketua : M. Ihsan, S.Farm, Apt
Anggota :
1. Arif Mufti
2. Yuslunal Ulfralum, SE, (facebook: Yuslunal Iframum)

III. Divisi Pendidikan :
Ketua : Abu Shofiyyah
Anggota : Bitval Jemdes

IV. Divisi Dana Usaha:
Ketua : HARI F DAY, SE, Ak, (facebook: Hari FDay)
Anggota : Dian
-------------------------

Link Website:
assunnahpadang.com
sunnahcare.com
-------------------------

Facebook:
Yayasan Assunnah Padang
SunnahCare

Facebook Grup:
Majelis Ta'lim Ibnu Taimiyah Padang
Yayasan As-Sunnah Padang

FanPage:
Yayasan Assunnah Padang
-------------------------

Twitter:
@YayasanAssunnah
@sunnahcare1
-------------------------

Email:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------

Mohon Do'a Serta Kesediaan dan Bantuannya untuk menyebarkan Informasi ini. Jazakumullahu khoiron.

Wassalamu'alaykum.
0 Komentar

Janganlah Mencela Makhluk Ciptaan Allah

Ucapan terkadang ringan dimulut, seakan-akan angin yang berhembus tanpa ada yang menghalanginya, sehingga ada sebagian orang yang membuat hamba Allah tersakiti, dan murka, bahkan “menyakiti” Allah ketika mencela makhluk-Nya. Sebab, mencela makhluk sama dengan mencela Allah. Karenanya, Allah -Ta’ala- mengajarkan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam- cara menjaga lisan dari “hobi mencela”, karena ini akan mendatangkan dosa .
Jangan Mencela Masa
Masa adalah salahsatu makhluk ciptaan Allah -Ta’ala-. Seorang ketika mencela makhluk ibaratnya mencela Pembuat, dan Penciptanya. Si pencela ini seakan tak menghormati, dan menghargai si Pencipta; seakan makhluk yang dicelanya, tak ada gunanya. Padahal Allah menciptakannya berdasarkan hikmah yang amat tinggi.
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang kita mencela masa dalam sabdanya,
لَا تَسُبُّوْا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah kamu mencela masa, karena Allah adalah masa!” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2246), dan Ahmad dalam Al-Musnad (9126)]
Mencela masa dan mengembalikan kesialan kepada masa berarti menyakiti Allah -Ta’ala- . Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ آدَمَ يَقُوْلُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَلَا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَإِنِّيْ أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ
“Allah Azza wa Jalla berfirman: ” Anak adam manyakiti-Ku; anak Adam berkata, “Wah, Celaka karena masa”. Janganlah seorang diantara kalian berkata, “Wah, Celaka karena masa”, karena Aku dalah masa, Aku membolak-balikkan malam dan siang”. [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (4826), Muslim dalam Shohih-nya (2246)].
Imam Al-Baghowiy-rahimahullah- berkata, “Sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, ” janganlah seseorang mangatakan : “Wah, celaka karena masa!”, maknanya bahwa diantara kebiasaan orang Arab adalah mencela masa, yaitu pada waktu kejadian-kejadian (musibah), karena menisbatkan musibah-musibah dan perkara-perkara yang tidak disukai kepada masa. Mereka biasa mengatakan (tentang orang yang tertimpa musibah), “Masa-masa sial telah menimpa mereka; mereka telah dibinasakan oleh masa”. Allah -Subhanahu wa -Ta’ala-’ telah menyebutkan tentang mereka di dalam kitab-Nya seraya berfirman,
وَقَالُوْا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدَّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ
“Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja; kita mati dan kita hidup. Tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”. ((QS.Al-Jatsiyah :24 ).
Jika mereka menisbatkan kesusahan yang menimpa mereka kepada masa, berarti mereka mencela pelaku yang membuat kesusahan-kesusahan itu, sehingga celaan mereka tertuju kepada Allah -Ta’ala, karena Dia adalah Pelaku sebenarnya terhadap perkara-perkara yang mereka nisbatkan kepada masa. Oleh karena inilah, mereka dilarang mencela masa”. [Lihat Syarhus Sunnah 12/357, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth1398 H]
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, “Pencela masa akan berkisar dalam dua perkara; ia harus terkena oleh salahsatunya: entah ia mencela Allah, ataukah ia musyrik (memperserikatkan Allah), karena jika ia meyakini bahwa masa adalah pelaku bersama Allah, maka ia adalah musyrik. Jika ia meyakini bahwa Allah saja yang melakukan hal itu, sedang ia mencela yang melakukannya, maka sungguh ia telah mencela Allah”. [Lihat Zaadul Ma’ad (2/323), dengan tahqiq Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1407 H]
Faedah:
Jangan dipahami dari hadits ini bahwa Allah adalah masa, sebab masa adalah makhluk. Abu Sulaiman Al-Khoththobiy-rahimahullah- berkata ketika me-syarah hadits di atas, “Maknanya: Aku adalah pemilik masa, dan pengatur segala urusan yang kalian nisbahkan kepada masa. Barangsiapa yang mencela masa, karena dia adalah pelaku bagi urusan-urusan ini, maka celaannya kembali kepada-Ku, karena Aku adalah Pelakunya. Masa itu hanyalah waktu dan zaman yang aku jadikan sebagai wadah waktu terjadinya urusan-urusan”. [Lihat Al-Qowa’id Al-Mutsla (hal.27), dengan Ta’liq Asyrof bin Abdil Maqshud, cet. Adhwa’ As-Salaf ]
Jangan Mencela Demam
Jika orang diuji dengan penyakit, seringkali dia tidak bersabar, bahkan berkeluh kesah atau mencela penyakit yang dia derita. Padahal semua yang dialami seorang mukmin itu baik baginya. Jika dia menyikapinya seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, ini akan membersihkan seorang mukmin dari dosa-dosanya.
Jabir bin abdullah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ أَوْ أُمِّ الْمُسَيَّبِ فَقَالَ مَالَكِ ؟ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللهُ فِيْهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّيْ الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Ummu Saib atau Ummu Musayyab, lalu beliau bersabda: “kenapa engkau wahai ummu saib”, atau ” Wahai Ummul Musayyab engkau gemetar”. Dia menjawab: “Demam, semoga Allah tidak memberkahinya”. Maka beliau bersabda: “janganlah engkau mencela demam, sesungguhnya demam itu akan menghilangkan dosa-dosa anak Adam sebagaiman tungku api pandai besi membersihkan kotoran besi”. [HR.Muslim (2575)]
Beginilah terapi Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam mengobati hati dan lisan seseorang sehingga seorang mukmin bersih dari segala perkara yang merusak citra dirinya di hadapan Allah dan para hamba-hamba-Nya. Inilah keistimewaan Islam; ia mengajarkan akhlaq yang mulia dalam segala perkara.
Jangan Mencela Binatang
Binatang –walaupun rendah dalam pandangan kita- juga tak boleh dicela, karena ia adalah nikmat ciptaan Allah yang membantu, dan memudahkan urusan dunia, dan akhirat kita.
Abu Barzah Al-Aslamiy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
بَيْنَمَا جَارِيَةٌ عَلَى نَاقَةٍ عَلَيْهَا بَعْضُ مَتَاعِ الْقَوْمِ إِذْ بَصُرَتْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَضَايَقَ بِهِمْ الْجَبَلُ فَقَالَتْ حَلْ اللَّهُمَّ الْعَنْهَا قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ عَلَيْهَا لَعْنَةٌ
“ketika seorang budak wanita berada diatas seekor onta tunggangan, dan di atas onta itu terdapat barang milik orang-orang lain. Ketika onta itu melihat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan (jalan) gunung menjadi sempit dengan mereka. Maka budak wanita itu berkata: “yak cepatlah hai onta, wahai Allah laknatlah onta ini! ” maka Nabi bersabda: “onta yang dilakanat itu tidak boleh menemani kami”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2596)].
Syaikh Husain Al-Awayisyah-hafizhahullah- berkata, “Alangkah agung dan indahnya agama ini, yang melarang celaan terhadap binatang. Sebuah agama yang berusaha membersihkan hati; agama yang berusaha membersihkan lidah. Sesungguhnya manusia yang terbiasa mencela binatang, akan mudah baginya mencela manusia. Sesungguhnya manusia yang terbiasa menjaga lidahnya dari mencela binatang, akan mudah baginya menjaga lidahnya di dalam segala yang diridhoi oleh Allah -Ta’ala-, InsyaAllah”. [Lihat Hasho’id Al-Alsun (hal.157), cet. Darul Hijrah].
Jangan Mencela Ayam Jantan
Mungkin ada diantara kita tak pernah berpikir kalau ayam yang kita lihat sehari-hari, ternyata ia memiliki keutamaan membantu manusia dalam beribadah, karenanya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memuji ayam jantan, dan melarang kita mencelanya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda melarang kita mencela ayam jantan, karena ayam jantan itu berkokok untuk membangunkan manusia agar beribadah kepada penciptanya,
لَا تَسُبُّوْا الدِّيْكَ فّإِنَّهُ يُوْقِظُ لِلصَّلَاةِ
“Janganlah kamu mencela ayam, karena ayam jantan itu membangunkan (orang) untuk shalat”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya(5101). Di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (4136)].
Husain bin Al-Hasan Al-Hulaimiy-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang diambil suatu faedah darinya, tak pantas untuk dicela, dan direndahkan, bahkan haknya untuk dimuliakan, dan disyukuri; dihadapai (dipergauli) dengan baik”. [Lihat Faidhul Qodir Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/1327/no.9786) karya Abdur Ra’uf Al-Munawiy]
Adapun kebiasaan sebagian orang yang suka menghina ayam jantan, bahwa itu hanyalah binatang, maka ini merupakan perbuatan sia-sia, dan tolol. Justru perbuatannya tersebut yang pantas dicela. Lebih konyol lagi, jika ayam jantan ini tidak sekedar dihina, tapi disakiti tubuhnya ketika atraksi judi “Sabung Ayam” !!
Jangan Mencela Angin
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga melarang mencela angin, karena sesungguhnya angin itu berhembus dengan perintah Penciptanya, bukan atas kemauannya sendiri, maka mencela angin berarti mencela Allah -Ta’ala- . Tapi hendaknya seseorang jika melihat hembusan angin yang menakutkannya hendaklah dia berdo’a dengan do’a yang dituntunkan oleh nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana hadits berikut ini:
لَا ت َ سُبُّوْا الرِّيْحَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَ فَقُوْلُوْا اللَهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ
” Janganlah kamu mencela angin! Jika kamu melihat apa yang kamu tidak suka dari angin itu maka berkatalah: wahai Allah, kami mohon kepadamu kebaikan angin ini, dan berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan dari keburukan yang ada pada angin ini, dan dari keburukan yang angin ini dikirim”. [HR. At-Tirmidzy dalam Sunan-nya(2252), Ahmad dalam Al-Musnad (5/123/no.21176)Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2756)].
Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alusy Syaikh-rahimahullah- berkata, “Angin itu berhembus dengan penciptaan Allah -Ta’ala-’ dan perintah-Nya, karena Allah yang menciptakannya dan memerintahkannya. Maka mencelanya berarti mencela Pelakunya, yaitu Allah -Ta’ala-, sebagaimana telah berlalu tentang larangan mencela masa, dan ini menyerupainya. Tak ada yang melakukannya, kecuali orang yang bodoh terhadap Allah dan agama-Nya,dan terhadap perkara yang Dia syariatkan kepada hamba-hamba-Nya. Jadi, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang orang-orang yang beriman dari perkara yang dikatakan oleh orang-orang yang bodoh dan kasar. Beliau membimbing mereka kepada perkara yang disukai untuk dikatakan pada saat angin berhembus, yaitu beliau bersabda, ” Jika kamu melihat apa yang kamu tidak sukai dari angin itu maka katakanlah, “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, dan dari kebaikan yang ada pada angin ini, dan dari kebaikan yang angin ini dikirim. Kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan dari keburukan yang ada pada angin ini, dan dari keburukan yang angin ini dikirim”. Di dalam do’a ini terdapat peribadahan kepada Allah, ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dan menolak keburukan-keburukan; menyebut karunia dan nikmat Allah. Inilah keadaan orang-orang yang bertauhid dan beriman. Berbeda dengan keadaan orang-orang yang fasik dan penuh dengan maksiat, orang-orang yang dihalangi dari mencicipi rasa tauhid yang merupakan hakikat iman”. (Lihat Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid (hal. 559), cet. Dar Alam Al-Kutub, 1417 H)
0 Komentar

Ingat !!! Hanya Rasulullah yang Boleh Kita Fanatikkan

Fanatisme yang membabi buta/fanatik buta
Bahwasannya, fanatiknya manusia-manusia tersebut pada kelompoknya baik itu di atas kebenaran atau kebatilan. Hal ini adalah memang sesuatu yang wajib, yang ada pada mereka (masyarakat jahiliyah). Maka Allah menyebutkan apa yang mereka kerjakan.
Syarh…
Fanatisme yang tercela diharamkan yaitu bentuk keadaan seseorang itu di atas kebatilan bersamaan dengan itu dia mempunyai ilmu tentang kebatilan tersebut, yakni bahwa sannya dia tahu bahwa ini adalah batil. Tapi karena fanatiknya lebih tinggi maka tertutup kebatilah tersebut. Fanatiknya ini karena sombong dan keras kepala atau bentuk pembelaan terhadap pribadi seseorang, walaupun salah (meskipun tahu bahwa yang dibela itu salah), atau pembelaan terhadap suku baik itu di atas kebenaran ataupun di atas kebatilan. Dan inilah karakteristik jahiliyah.
Kemudian Allah menurunkan apa-apa yang diturukan yaitu tentang perkataan:
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (Al- Ma’idah : 8)
Hai orang-orang yang beriman, beriman dengan apa? Yaitu orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan. Yaitu hendaklah kalian menegakkan apa-apa dari tuntutan-tuntutan keimanan tersebut, yakni hendaklah bersemangat menegakkan keadilan tersebut pada seluruh aspek kehidupannya baik yang nampak maupun yang tidak. Dan hendaklah hal ini semata-mata niatnya karena Allah saja. Bukan karena ada tujuan-tujuan keduniaan. Dan hendaklah karena keadilan yaitu tidak melampaui batas juga tidak mengurang-ngurangi, baik dalam perkataan-perkataan, baik kepada orang terdekat kepada kamu maupun yang terjauh. Juga terhadap teman ataupun musuh kamu. Jangan sekali-kali kebencian itu membimbing kalian untuk tidak berlaku adil terhadap seseorang. Yakni benci kepada suatu kaum kemudian tidak berlaku adil sebagaimana yang dilakukan oleh seseorang yang tidak mengerti tentang keadilan itu sendiri dan tidak punya ilmu dan tidak punya keadilan pada dirinya. Bahkan sebagaimana kalian menjadi saksi/ belaku adil kepada wali-wali kalian maka demikian juga terhadap selain dari wali/kerabat kita, bahkan sebagaimana kalian menjadi saksi bagi musuh-musuh kalian. Karena musuh kemudian kalian tidak mau jadi saksi atau tidak adil walau mereka kafir atau ahlul bid’ah. Karena yang demikian itu wajib adil padanya dan menerima apa-apa berupa kebenaran. Kalau yang datang itu benar ya kita terima. Dan jangan kita menolak kebenaran karena mereka yang mengatakan, karena yang demikian ini adalah bentuk kedzoliman pada kebenaran. Setiap kali kalian bersemangat untuk berbuat adil dan bersungguh-sungguh di dalamnya, maka yang demikian lebih dekat kepada takwa, kalau sempurna keadilan kalian maka sempurnalah iman kalian.
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى
Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu) (Al An’aam 152)
Jangan sekali-kali karena kedekatan kalian dengan mereka (keum kerabat) kemudian kamu bela dan condong kepada mereka. Akan tetapi kalau mereka berbuat salah maka hendaklah dia ubah kesalahan tersebut. Janganlah kalian mengikutinya/menyetujuinya (kesalahan tersebut) dan hendaklah kalian menasehatinya.
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى
Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu) (Al An’aam 152)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (An Nisa’135)
Disini Allah memerintahkan hambanya yang mukminin hendaklah mereka betul-betul menjadi orang-orang yang berlaku adil diseluruh keadaan yakni pada hak-hak Allah pada kita dan berlaku adil pada hak-hak hamba-hamba Allah keseluruhan. Bentuk keadilan pada hak Allah adalah jangan kamu meminta dan mencari nikmat Allah dengan cara bermaksiat kepada Allah yaitu dengan cara yang haram. Akan tetapi hendaklah kamu habiskan nikmat-nikmat Allah tersebut untuk taat kepada Allah. Dan adil terhadap anak cucu adam adalah hendaklah engkau tunaikah hak-hak mereka sebagaimana kamu meminta mereka menunaikan hak-hak kalian, seperti nafqah, hutang-piutang dan bergaul dengan mereka dengan cara yang kamu suka kalau mereka bergaul dengan cara ini seperti akhlak, tukar menukar pemberian/hadiah dan lain-lain. Dan keadilan yang besar adalah adil dalam ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan. Dan jangan kamu memutuskan diantara dua orang yang bertikai dengan tidak adil karena kecenderungan atau kesenangan kepada salah seorang diantara mereka. Akan tetapi hendaklah dia memutuskan dengan adil. Dan juga diantara keadilan adalah menunaikan persaksian bagaimanapun bentuknya, baik kepada orang yang dicintai atau kepada dirinya sendiri. Walaupun kepada pribadi kalian, orang tua kalian ataupun kerabat kalian. Jangan membela si kaya karena kekayaannya dan jangan menjatuhkan si miskin karena kemiskinannya atau jangan membela si miskin karena kemiskinannya. Bahkan hendaklah engkau bersaksi di atas kebenaran siapapun orangnya. Jangan mengikuti hawa nafsu untuk meninggalkan keadilan.
Yang diwajibkan atas manusia itu adalah adil walaupun terhadap dirinya sendiri atau terhadap kerabatnya atau temannya ataupun musuhnya. Dan jangan sekali-kali karena permusuhannya terhadap musuh menggiring untuk berlaku dzolim kepadanya dalam persaksian atau dalam memutuskan perkara. Inilah posisi seorang muslim yg dikehendaki Allah.
Adapun orang-orang jahiliyah – karena fanatiknya kepada kaum mereka dalam membela kaum mereka baik mereka itu salah ataupun benar – maka Allah memerintahkan kita unuk menyelisishi sifat yang demikian ini. Dan hendaklah kita mengatakan kebenaran – walaupun pahit – kepada diri-diri kita, kaum kerabat kita, teman-teman kita ataupun musuh-musuh kita. Rasulullah bersabda:
انصر أخاك ظالما أو مظلوما, قالوا: يا رسول الله, ننصره إذا كان مظلوما, فكيف ننصره إذا كان ظالما؟! قال: تمنعه عنالظلم, فذلك نصره (أخرجه البجاري)
“Tolonglah saudaramu itu baik dia itu dzolim atapun di dzolimi, berakata salah seorang sahabat, ya Rasulullah kami menolongnya kalau dia di dzolimi lantas bagaimana pendapat kamu kalau dia dzolim, bagaimana menolongnya? Berkata Rasulullah: Kamu cegah dia atau kamu larang dia dari pada dia melakukan kedzoliman tersebut sesungguhnya yang demikian itu adalah bentuk menolong dia dari melakukan kedzoliman tersebut”. Ini adalah bimbingan terhadap saudara kita yang melakukan kedzoliman maupun yang di dholimi.
Wajib bagi kita untuk menolong saudara kita yang didzolimi dengan mencegahnya atau melarangnya. Tentu, cara menolongnya adalah denga cara syar’i. Seperti kalau nampak pemerintah melakukan kedzoliman, bukan kita teriak-teriak di depan mimbar tentang kejelekan-kejelekan pemerintah. Kalau pemerintah melakukan kedholiman maka bukan tiap orang berhak untuk menasehatinya, berikan kepada para ulama untuk menasehatinya. Karena merubah kemungkaran ini bukan dengan kemungkaran karena akan lebih besar kemungkarannya akan tetapi merubah kemungkaran ini dengan cara yang syar’I, sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Yang kedua adalah menahan/memegang tangan orang yang melakukan kedholiman dan kemudian menarik tangannya dan menjauhkan syaithon yang menggiring dia melakukan kedzoliman. Dan wajib bagi kita amar ma’ruf nahi mungkar. Dan wajib bagi kita menegakkan hak-hak muslimin. Sifat agama Islam adalah memindahkan pemahaman-pemahaman dan sistem-sistem jahiliah yang bodoh, yang dzolim dan merusak dan menghancurkan dipindahkan menjadi sifat/sistem yang membangun. Yang sekira-kira orang jahiliyah dulu yang Rasul diutus pada mereka, mereka saling tolong-menolong apakah itu yang ditolong itu yang sedang mendzolimi atau mendholimi selain mereka dan sifat ini dibangun di atas fanatisme jahiliyah. Dan Islam mengajarkan pada pengikutnya hendaklah mereka meletakkan pekerjaan-pekerjaan tersebut pada posisinya. Dengan menolong orang yang sedang didzolimini dengan mengambilkan haknya dan diberikaan pada dia. Dan menolak orang-orang yang mendzoliminya dengan cara dia ambil dan tahan orang yang mendzoliminya tersebut agar tidak melakukan atau agar jangan dia memakan harta benda manusia secara dholim dan menginjak-injak kepribadian/ harga diri orang-orang dan menumpahkan darahnya. Ini adalah cara yang diajarkan Islam. Kamu menolongnya dengan cara melarangnya dari kedzoliman tersebut. Bukan menolongnya dengan cara membantu untuk melanjutkan kedzoliman tersebut – maka ini adalah bentuk kehancuran dan kerusakan bagi dia. Maka kita larang dan kita tahan dia dari melakukan kedzoliman tersebut.
0 Komentar

Waspadalah Rasional ala Iblis

“Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Umat Islam seluruhnya beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Rabbnya, pengaturnya, Dzat yang maha bijaksana, maha mengetahui, maha kuasa, serta maha pengasih lagi maha penyayang, bersamaan dengan itu umat Islam juga beriman bahwa Allah telah mengutus para rosul untuk memberikan petunjuk pada mereka. Allah telah menurunkan Al Qur’an bersamanya, apa yang telah diberitakan oleh rosul, Allah telah memberitakannya dan apa yang diperintah oleh rosul, Allah telah memerintahkannya. Dialah Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Di dalam Al Qur’an Allah berfirman, “(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Qur’an yang diturunkanNya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmuNya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” (QS An Nisaa: 166).
Di dalam ayat ini menunjukkan bahwa setiap apa yang telah disampaikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haq, datang dari sisi Allah, menyepakati ilmu Allah dan keinginanNya. Maka yang wajib bagi setiap orang untuk menerima apa yang diberitahukan olehnya dari Rabbnya dengan penerimaan yang qoth’i (pasti) dan penyerahan yang kuat serta menerima apa yang diperintahnya dan yang dilarangnya dengan penuh ketaatan dan ketundukan.
Sungguh kini umat telah kehilangan arah di persimpangan jalan yang dipenuhi dengan kabut, kebingungan di tengah-tengah pergolakan gelapnya pemikiran, dalam keadaan semua menghendaki agar sampai pada kebenaran dan keyakinan. Seorang muslim yang ingin benar-benar menjalankan perintah Allah dan RosulNya berjalan di atas Kitab dan Sunnah, selalu menjadi kambing hitam yang terhina, gara-gara perbuatan sebagian kelompok muslim yang telah merusak kemurnian ajaran Islam itu sendiri. Begitu pula seorang muslimah, merasa takut untuk menampakkan ciri muslimahnya dengan berbusana jilbab yang benar, gara-gara selalu dinisbatkan kepada kaum yang juga berjilbab tetapi berpemahaman sesat dan merusak kemurnian Islam.
Akhirnya mayoritas muslimin sudah tidak menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai barometer, mizan kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesesatan, para ahli ilmunya pun terasa kaku tidak lantang menyuarakan yang haq karena mulai masuknya penyakit “banyak pertimbangan” demi menjaga reputasinya dan maslahat untuk dirinya alias sudah kagok melihat kenyataan di tengah-tengah umat seperti itu.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- pergolakan gelapnya pemikiran dan kerancuan pemahaman dalam agama adalah racun mematikan ciptaan iblis la’natullah ‘alaihi, iblis inilah makhluk yang pertama kali menggunakan analogi sesat, maka dari sinilah bermula, kerancuan dan keraguan pemahaman dalam agama menyebar dengan pesat, sehingga banyak kalangan muslimin termakan dan terpengaruh dengan khitoobussyaithon analogi iblis ini, nampaklah bermunculan para penentang nash dengan ro’yu, para penentang perintah dengan hawa nafsu, sedangkan Allah berfirman, “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari tuhan mereka.” (QS An Najm: 23).
Dengan demikian maka setiap yang berbicara dengan ro’yunya, perasaannya, ataupun segala siasatnya di hadapan nash, atau yang menentang nash dengan akal, ia telah menyerupai gaya-gaya retorika iblis!!!, di mana iblis tidak mau tunduk terhadap perintah Rabbnya, malah dengan sombongnya mengatakan, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al A’raaf: 12).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- dengan kenyataan seperti ini, maka manusia terbagi empat golongan dalam hal sikapnya terhadap petunjuk Allah yang dibawa oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pertama: mereka orang-orang yang menerima dengan sepenuhnya lahir dan batin, inilah tingkat derajat keimanan terhadap nash-nash yang paling tinggi, mereka adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan cahaya petunjuk bermanfaat bagi dirinya dan memberi manfaat bagi yang lain.
Kedua: orang-orang yang menolaknya lahir dan batin, mengingkarinya, bahkan tidak respek sedikitpun terhadapnya, yang ini terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama mengetahui akan petunjuk dan meyakini akan kebenarannya akan tetapi dirinya hanyut dalam kedengkian, kesombongan, cinta popularitas. Mereka seperti para pembesar-pembesar kafir Quraisy, seperti firman Allah, “… karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang dzalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS Al An’aam: 33).
Begitulah keadaan orang-orang yang berani menolak nash-nash. Golongan kedua, mereka hanya mau menerima kebenaran dari para pemimpinnya, pembesar-pembesarnya, tokoh-tokohnya saja, kedudukan mereka seperti binatang ternak yang mau digiring ke mana saja oleh para penggembalanya, mereka adalah para muqollid, mereka adalah orang-orang yang berkata pada hari kiamat, “Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)’.”
Ketiga: orang-orang yang menerimanya secara lahir dan menentangnya secara batin, mereka tidak lain para munafiqin yang Allah telah memisalkan mereka dengan dua permisalan, yaitu seperti orang yang menyalakan api dan orang yang ditimpa air. Allah berfirman, “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.
Jikalau Allah menghendaki niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Baqarah: 17-20). Mereka orang-orang yang dimisalkan dengan penyala api, mereka bimbang dalam kegelapan, sedangkan yang dimisalkan dengan orang yang ditimpa air adalah orang-orang yang apabila mendapatkan / mendengar nash yang bertentangan dengan dirinya, dengan hawa nafsunya, mereka menghindar dan lari darinya.
Dan apabila mendapatkan apa yang memperkuat madzhabnya atau hawa nafsu dan keinginannya, mereka menerimanya dengan senang hati dan bangga seperti yang digambarkan Allah dalam firmanNya, “Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rosul dengan patuh.” (QS An Nuur: 49).
Keempat: orang-orang yang menerima secara batin tapi menolak secara lahir. Ini kebalikan dari keadaan orang-orang munafiq, keadaan ini menimpa orang-orang yang lemah, seperti firman Allah, “… Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka…” (QS Al Fath: 25).
Dan seperti orang-orang mu’min di antara pengikut Fir’aun (lihat kisahnya dalam Al Qur’an surat Ghofir / Al Mu’min dari ayat 28-45), juga seperti raja Najasyi di negeri Habasyah, yang telah turun firman Allah tentang mereka dan semisalnya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala dari sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.” (QS Ali Imran: 199).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, ahli petunjuk dan agama yang benar adalah mereka orang-orang yang mempunyai ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh, mereka yang membenarkan semua apa yang telah diberitakan oleh rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkeyakinan akan haqnya / benarnya, tidak sedikitpun mengikuti analogi-analogi iblis yang membuat picik pemikiran manusia, tidak pula mengikuti prasangka-prasangka, tetapi mereka menghadapkan diri-diri mereka pada perintah-perintahnya dan menjauhkan diri-dirinya dari larangan-larangannya. Mereka menerima ketetapan-ketetapannya dengan penuh ketaatan dan ketundukan, mereka tidak menyia-nyiakannya dengan kemaksiatan dan syahwat.
Seperti firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS Maryam: 59-60).
Wal akhir nas’alullaha tsabaat wal istiqomah, walhamdulillahi robbil ‘alamin. Wal ‘ilmu ‘indallah.
0 Komentar

Apa Tujuan Diciptakannya Jin Dan Manusia ?


Banyak akal yang salah dalam menjawab pertanyaan ini dan banyak pemahaman yang membingungkan dalam perkara ini, kecuali akal yang tersinar wahyu Ilahi yang terbimbing dengan wahyu tersebut serta mengikuti para rosulNya.
Akal seseorang lemah dari keluasan pengetahuan tujuaan diciptakannya jin dan manusia, oleh karena itu perlu mengetahuinya dari Kitabullah (Al Qur‘an) yang tidak ada kebathilan padanya yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang tujuan penciptaan ini didalam firmanNya :
“ Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak mengendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak mengendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariat:56-58)
Berkata Al Imam Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini : “Bahawasanya Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah hanya kepadaNya saja tidak ada sekutu bagiNya. Barangsiapa mentaatiNya maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang sempurna. Dan barngsiapa yang durhaka (menentang) kepadaNya maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat dahsyat. Dan Allah memberitakan bahwanya Dia tidak butuh kepada makhukNya bahkan merekalah yang butuh kepadaNya dan Dialah Yang menciptakan dan Yang memberi rizki mereka.
Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan makhluk untuk ibadah kepadaNya. Dan ini konsekwensi akal yang sehat. Karena tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dzat Yang mampu dalam mencipta dan memberi rizki, sebagaimana Allah Ta’ala firman:
“Berhala-berhala yang mereka ibadahi selain Allah itu tidak mampu dalam menciptakan (membuat) sesuatu apapun, sedang berhala- berhala tersebut dicipakan (dibuat oleh orang)”. (An Nahl:20) Dan juga Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepada kalian” (Al Ankabut:17)
Misi Diutusnya Para Rosul
Allah yang menetapkan ibadah ini pada makhluk-Nya.Dia pulalah yang mengutus para Rosul-Nya untuk berdakwah atau menyeru ummatnya kepada peribadatan kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sungguh Kami mengutus seorang rosul pada setiap kelompok manusia untuk menyerukan beribadalah kepada Allah saja dan tinggalkan thoghut”. (An Nahl:36)
Dan juga Dia berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’:25)
Ibadah merupakan hikmah yang karenanyalah diciptakan jin dan manusia. Dan karena ibadah ini pulalah diciptakan langit dan bumi, dunia dan akhirat, jannah (surga) dan nar (neraka). Dan karena ibadah inilah Allah mengutus para rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, mensyariatkan hukum-hukum-Nya dan menjelaskan halal dan haram untuk menguji makhlukNya, siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.
Pengertian ibadah
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: ”Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhoi-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah sampai diikhlashkan untuk Allah. Apabila ibadah itu tercampur suatu kesyirikan maka ibadah tersebut tertolak atau tidak diterima atas pelakunya dan ibadah tersebut batal dari asalnya, karena ibadah tersebut ketika itu tidak dinamakan ibadah syar’i.
Jadi suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah syar’i kecuali disertai dengan tauhid (mengesekan Allah dalam ibadah). Berkata Ibnu Abbas : عِبَادَةُ اللهِ تَوْحِيْدُ اللهِ ibadatullah (beribadah kepada Allah) maknanya adalah tauhidullah (mengesakan Allah dalam ibadah).
Pengertiaan Tauhid Dan Macam-Macamnya
At Tauhid adalah mengesakan Allah dalam perkara-perkara khusus bagiNya berupa ar-rubuyiah, al uluhiyah dan al asmaul husna.
Tauhud terbagi menjadi 3 macam :
a. Tauhid Rububiyyah, mengesakan (Allah) dalam pencipataan, pemilikan dan pengaturan alam semesta.Tauhid jenis ini diyakini oleh kaum musyrikin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Katakanlah siapa yang memberi rizki pada kalian dari langit dan bumi, Siapakah yang memiliki (menciptakan) penglihatan, Siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan ? maka mereka (kaum musyrikin) menjawab “Allah”(karena mereka meyakini semua itu –red) maka katakannlah: kenapa kalian tidak bertaqwa kepadNya ? (Kemudian kaliaan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya tiada sekutu bagiNya dan kalian meninggalkan sesembahan selain Allah)” (Yunus:31).
b.Tauhid Uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu dengan tidak menjadikan bersama Allah sesuatu yang diibadahi dan bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Tauhid jenis ini banyak diingkari dan ditentang oleh kebanyakan makhluk. Oleh karena itu Allah mengutus para rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Allah berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku” (Al Anbiya’:25)
c.Tauhidul Asma’ Was Sifat, yaitu mengesakan Allah dalam nama dan sifat yang Allah namai dan sifati pada dirinya didalam kitabNya atau melalui lisan RosulNya ? . Yang demikian ini dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan dan menafikan (meniadakan) apa yang Allah nafikan, tanpa tahrif dan ta’thil, tanpa takyif dan tamtsil.( ) Tauhid jenis ini diyakini sebagian musyrikin dan diingkari oleh sebagian yang lainnya.
Jika seseorang meyakini sifat-sifat yang Allah berhak mendapat sifat tersebut dan dia mensucikan Allah dari semua perkara yang Allah suci dari darinya serta dia menyakini bahwasanya Allah sajalah pencipta segala sesuatu maka tidaklah sebagai muwahhid sampai dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.
Pengertian Syirik dan Macam- MacamNya
Syirik merupakan lawan tauhid. Syirik ada 2 macam:
a. Syirik Akbar yaitu segala kesyirikan yang telah disebutkan dalam syariat yang berkonsekwensi keluarnya seseorang dari agamanya.
b. Syirik Ashghor yaitu segala amalan baik ucapan maupun perbuatan yang disebutkan dalam syariat pensifatan kesyirikan, akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari agamanya. Seperti riya’, bersumpah dengan selain Allah, ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan Karenamu, maka…”, dll.
Perbedaan Kedua macam Syirik Dan Kesamaanya
Syirik Akbar mengeluarkan seseorang dari agamanya, menggugurkan seluruh amalan, dan pelakunya kekal di nar (neraka) sedangkan syirik ashghor tidak mengeluarkan seseorang dari agamanya, hanya menggugurkan amalan yang dia berbuat syirik dalam amalan tersebut dan pelakunya tidak kekal di dalam nar (neraka).
Adapun kesamaannya, kedua-duanya tidak diampuni oleh Allah (jika dia meninggal dalam keadaan belum sempat bertaubat kepada Allah). Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa selain syirik bagi orang yang Allah kehendaki” (An Nisa’:48)
Dalam ayat tersebut Allah memberitakan bahwasanya Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi yang tidak bertaubat darinya. Sedangkan dosa selain syirik maka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, maka Allah ampuni dan jika Allah berkehendak lain, maka Allah mengadzabnya.
Mengapa Harus Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan
Allah berfirman :
“Wahai manusia beribadahlah kalian kepada rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (Al Baqoroh:21)
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku” (Adz Dzariat:56)
“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ibadah) ini untuk Allah dan berpaling dari seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid” (Al Bayyinah:5)
Dan sangat banyak ayat-ayat tentang perintah beribadah kepada Allah, maksud ibadah yang karenayalah diciptakannya jin dan manusia adalah mengesakan Allah dalam ibadah dan mengkhususkan Allah dalam seluruh ketaatan yang diperintahkan seperti sholat, shaum, zakat, haji, menyembelih, bernadzar, dan jenis-jenis ibadah yang lain. Sebagaimana Allah berfirman :
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam yang tiada sekutu bagiNya. Dan karenanyalah (ikhlas dalam ibadah) aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri kepada Allah” (Al An’am:162-163
Disamping Allah memerintahkan untuk bertauhid, Allah pulalah yang melarang lawan tauhid tersebut yaitu kesyirikan, sebagaiman Allah berfirman :
“Katakanlah : Kemarilah aku bacakan apa yang di haramkan atas kalian dari Rabb kalian yaitu: janganlah kalian menyekutukanNya dengan sesuatu apapun” (Al An’am:151)
“Sesungguhnya masjid-masjid ini milik Allah maka janganlah kalian beribadah kepada sesuatu apapun bersama Allah” (Al Jin:18)
“Barangsiapa yang beribadah bersama Allah kepada sesembahan yang lain yang tidak ada dalil baginya tentang itu, maka sesungguhnya hisab (perhitungan)nya disisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung” (Al Mukminun:117)
“Yang berbuat demikian itulah Alloh Robbmu, hanya milikNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian berdo’a kepadanya selain Allah tidak memiliki sesuatu apapun walaupun setipis kulit biji kurma, jika kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian dan jika mereka mendengar, mereka tidak bisa mengabulkan do’a kalian. Dan dihari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Dzat Yang Maha Mengetahui” (Fathir:13-14)
Allah Azza Wa jalla menjelaskan dalam ayat ini bahwasanya sholat dan menyembelih untuk selain Allah dan berdo’a kepada mayit, berhala, pepohanan, dan bebatuan., semua itu adalah kesyirikan dan kekufuran kepada Allah. Dan seluruh yang diibadahi selain Allah seperti para nabi, malaikat , wali-wali, atau jin dan yang lainnya, mereka semua tidak bisa memberikan mafaat dan menolak madhorot bagi penyembahnya. Mereka tidak bisa mendengar do’a pemyembahnya. Dan jika mereka mendengar, mereka tidak mampu mengambulkan.
Maka wajib bagi setiap mukallaf baik jin dan manusia berwaspada dari kesyirikan ini, memperingati dan menjelaskan bathilnya kesyirikan ini. Dan bahwasanya kesyirikan ini menyelisihi risalah para rosul yang menyeru kepada Tauhidullah dan mengikhlaskan ibadah untukNya.
Rosulullah ? tinggal di Makkah selama 13 tahun menyeru kepada tauhid dan memperingati manusia dari kesyirikan. Kemudian beliau hijrah ke Madinah menebarkan dakwah disana di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshor , berjihad di jalan Allah, menulis dan menjelaskan dakwah dan syariat yang beliau bawa kepada raja-raja dan tokoh-tokoh masyarakat. Beliau dan para shahabat bersabar dalam dakwah ini sampai menanglah agama Allah ini, dan manusia berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Tersinarlah tauhid dan sirnalah kesyirikan di Makkah, Madinah dan seluruh kepulaun yang di kuasai oleh beliau dan yang dikuasai oleh para shahabat setelah beliau.Jayalah Islam dan muslimin disaat itu karena mereka berpegang teguh dengan tauhidullah dan meninggalkan kesyirikan.
“Dialah Dzat yang mengutus rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar Dia memenangkannya diatas seluruh agama, sekalipun orang musyrik itu benci” (Ash Shoff:9) Wallahu A’lam Bish showab
0 Komentar

Meraih Kemuliaan Dengan Menjaga Tauhid

Seorang muslim yang telah mengetahui kewajibannya kepada Alloh (yakni beribadah kepada-Nya), tentu ia akan selalu menjaga kemurnian agamanya, khususnya aqidahnya atau keyakinannya, agar tak bercampur dengan amalan-amalan yang rusak (yakni kesyirikan).
Mengapa demikian ? Mari kita perhatikan penjelasaan Alloh Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) : “Orang-orang yang beriman dan yang tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedholiman, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka selalu mendapatkan petunjuk. “(QS. Al-An’am : 82).
Al-Imam Ibnu Katsir rohimahullah menjelaskan ayat ini dengan menyatakan : “ Mereka itu adalah orang-orang yang mengikhlaskan atau memurnikan ibadah hanya untuk Alloh Ta’ala saja, dan tidak menyekutukannya dengan sekutu apapun. Dan mereka itu mendapatkan keamanan (rasa aman dari adzab Alloh) pada hari kiamat, dan mereka juga senantiasa mendapatkan petunjuk didunia dan diakherat. “(Tafsir Al-Qur’anul Adzim 2/152).
Penjelasan Kalimat :
1. “Orang-orang yang beriman”, arti iman secara bahasa (etimologi) adalah At-Tadhdiq (Membenarkan), adapun menurut istilah syar’inya adalah keyakinan di dalam hati, pengikraran atau pengakuan dengan lisan dan diwujudkan dengan amal perbuatan (anggota badan). Dan iman itu bisa bertambah-tambah dengan sebab melakukan amal-amal ketaatan, dan bisa pula berkurang dengan sebab berbuat kemaksiatan.
2. “Memcampur adukan iman mereka”, yakni menodai tauhid mereka.
3. “Dengan kedholiman”, maksudnya adalah dengan perbuatan syirik, karena syirik adalah kedholiman yang paling besar (lihat QS. Luqman : 13). Ketahuilah, kedholiman ada 3 jenis, yaitu : Perbuatan syirik (mendholimi hak Allah). Mendholimi diri sendiri, dan mendholimi orang lain. Al-Imam Al-Bukhori meriwayatkan dalam shohihnya (No. 3636) tentang sikap para sahabat Rosulullah sholallallahu ‘alaihi wa sallam ketika turun ayat ini dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Ketika turun ayat ini (QS. Al-An’am : 82), kami (para sahabat) berkata : “Wahai Rosulullah, siapakah diantara kami ini yang tidak pernah berbuat dholim terhadap diri sendiri ? (Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan : “Ketika turun ayat ini, hal ini memberatkan hati para sahabat (kerena mereka kuatir tidak termasuk orang-orang yang mendapatkan keutamaan seperti yang di sebutkan dalam ayat itu), sehingga mereka berkata : “Wahai Rosulullah, siapakah diantara kami ini yang tidak pernah berbuat dholim terhadap diri sendiri ?”). Rosulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Kedholiman yang dimaksud dalam ayat ini) bukanlah seperti yang dikatakan ! ‘Tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedholiman’, maksudnya adalah dengan kesyirikan ! Tidaklah kalian mendengar perkataan Luqman (dalam riwayat lain : hamba yang sholih) terhadap putranya : “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Alloh (melakukan perbuatan syirik), sesungguhnya syirik itu benar-banar kedholiman yang sangat besar. “[Kisah ini bisa anda lihat pada Shohih Al-Bukhori dalam Kitabul Ima (No. 3636 dan lain-lain), Masnud Imam Ahmad (1/378) dengan sanad yang shohih, Fathul Majid hal. 47-48].
4. “Mereka mendapatkan keamanan / rasa aman”, yang dimaksud aman di sini adalah keselamatan dari azab (siksa) neraka selama mereka tetap menjaga kemurnian tauhid mereka dan berhenti dari melakukan dosa-dosa besar, atau maksud nya adalah terbebas dari vonis kekal di neraka (yakni tidak kekal di azab dineraka) bila ia ternyata masih melakukan dosa-dosa besar.
5. “Orang-orang yang mendapat petunjuk”, yakni orang-orang yang mengetahui kebenaran ketika hidupnya, lalu ia mengamalkannya.
Penjelasan Umum :
Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita, bahwa bagi siapa saja yang mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah kepada-Nya, dan tidak menodai tauhidnya dengan perbuatan syirik, Allah Ta’ala pasti akan membebaskan dari neraka diakhirat nanti, dan Alloh pasti akan memberi petunjuk kepadanya kepada shirotul mustaqim didunia ini.
Faedah yang bisa diambil dari ayat yang mulia ini :
1. Tidak sah iman seseorang yang ternodai oleh dosa syirik.
2. Syirik termasuk salah satu bentuk kedholiman (mendholimi hak-hak Alloh).
3. Orang yang tidak menodai imannya dengan perbuatan syirik akan mendapatkan keselamatan dari azab (siksa).
Kesimpulan :
Ayat diatas merupakan dalil bahwa orang yang meninggal dunia diatas aqidah tauhid (yakni menjaga kemurnian tauhid mereka sampai akhir hayatnya) serta bertobat dari dosa-dosa besar, pasti selamat dari azab neraka. Adapun orang yang mati diatas aqidah tauhid (yang menjaga kemurnian tauhidnya), tetapi ia juga melakukan dosa-dosa besar, dia ini hanya mendapatkan keutamaan selamat dari vonis kekal didalam neraka.
Wallohu a’lam.
0 Komentar

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang

Bismillah,

Assalamu'alaykum, Kami dari Yayasan As-Sunnah Padang kembali hadir dalam rangka penggalangan Infaq Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang. Untuk TA 2015/2016

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang:
- 27/10/14: Rp. 200.000,- Hamba Allah
- 26/10/14: Rp. 500.000,- Bpk. Lutfhi, Jakarta. 087780137xxx
- 25/10/14: Rp. 200.000,- Ibu. Rima Muryantina
- 24/10/14: Rp. 0,-
- 23/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah, Medan. 085275399xxx
- 22/10/14: Rp. 50.000,- Hamba Allah.
- 21/10/14: Rp. 123.123,- Hamba Allah, Jakarta.
- 20/10/14: Rp. 0,-
- 19/10/14: Rp. 0,-
- 18/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 17/10/14: Rp. 0,-
- 16/10/14: Rp. 0,-
- 15/10/14: Rp. 0,-
- 14/10/14: Rp. 200.000,- Abu Fadhila, Makassar. 081254201xxx
- 13/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 12/10/14: Rp. 0,-
- 11/10/14: Rp. 0,-
- 10/10/14: Rp. 0,-
Total: Rp. 1.573.123,-

Kekurangan Dana: 55.000.000 - 1.573.123= Rp. 53.426.877,-

Rekening Infaq ke:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
Kode Bank: 451
a/n Yayasan As Sunnah Padang
Konfirmasi Donasi ke : 085364575752
-------------------------

Luar Negri Via Western Union ke:
Nama: Rahmat Ika Syahrial
No. KTP: 1371030507830007
Alamat: Jalan Pisang No. 207 Purus Kebun
Kel. Ujung Gurun, Kec. Padang Barat, Kota Padang
Sumatera Barat, Indonesia
Telp: +6285263627094
-------------------------

Via Paypal:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------

Download Proposal Lengkap di:
www.mediafire.com/view/zqoy5t4drjwgxem/PROPOSAL_SDIT_Assunnah_Padang.doc

Setelah melihat perkembangan sejak tahun 2004 - Februari 2014 maka kami sadar akan pentingnya memulai dakwah pada ruang lingkup pendidikan karena begitu besar perannya dalam mendakwahi masyarakat. Dengan anak-anak mereka diberikan pendidikan Islami maka secara perlahan orangtua dan keluarga anak-anak tersebut akan mengetahui dan mengikuti dakwah yang Haq ini.

Oleh karena itu maka kami telah memulai dengan mendirikan TKIT Tahfidz pada bulan Maret - Juni 2014 kemaren, dengan konsep materi mengedepankan Tahfidz Quran dan berusaha memberikan keringanan-keringanan dalam hal bea sekolah seperti kemudahan dalam hal uang masuk, seragam, buku-buku paket, perlengkapan sekolah, spp, dll.

Disamping hal tersebut Alhamdulillah kami Yayasan As-Sunnah Padang telah mendapatkan sebidang tanah wakaf dengan luas sekitar 1.693 M2 di daerah Gunung Pangilun, Padang. Maka untuk menggabungkan semua tujuan diatas kami berencana membangun sebuah Masjid dengan konsep Surau (seperti rumah panggung) dimana Masjid ini diharapkan mempunyai 2 fungsi yakninya sebagai tempat ibadah dilantai atas dan sekolah dilantai bawah. Sebagaimana informasi selama ini yang telah kami sebarkan.

Qaddarullah untuk meniti jalan ke surga penuh duri dan onak begitu juga dengan program pembangunan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Tapi kami yakin dengan niat yang ikhlas, Allah Azza wa Jalla akan membantu perjuangan ini. Sampai saat ini tanggal 9 Oktober 2014 program pembangunan Masjid dan sekolah Tahfidz ini sudah dalam tahap surat menyurat dan perizinan dari pihak terkait.

Melihat kondisi seperti ini maka kami putuskan untuk tetap menjalankan program pendidikan dimana setelah TKIT Tahfidz ini berdiri rencana selanjutnya mendirikan SDIT Tahfidz yang in sya Allah direncanakan tahun 2015 besok sudah bisa beroperasi. Hal ini untuk melanjutkan program dari TKIT As-Sunnah Padang yang sudah berjalan dengan konsep Tahfidz Quran. Untuk itu dibutuhkan persiapan dalam segala hal terutama dalam waktu, tenaga dan biaya. Dalam hal waktu dan tenaga Alhamdulillah kami dari Yayasan As-Sunnah Padang telah menyiapkan. Maka yang kami perlukan sekarang ini adalah dalam hal persiapan biaya. Untuk itu maka kami membutuhkan uluran tangan kita semua untuk mewujudkan pendirian SDIT Tahfidz ini.

Berikut beberapa hal terkait pendirian SDIT Tahfidz ini:

A. Jadwal Rencana Pendirian SDIT Tahfidz
1. Survey Lapangan dan Penyiapan Konsep: 1 Juli 2014 - 30 September 2014
2. Penggalangan Donasi Pendirian SDIT Tahfidz: 10 Oktober 2014 - 31 Desember 2014
3. Kontrak Gedung dan Persiapan: 1 Januari 2015 - 31 Januari 2015
4. Penerimaan Siswa Baru SDIT Tahfidz: 1 Februari 2015 - 5 Juni 2015
5. Mulai Belajar / Tahun Ajaran Baru: Juli 2015

B. Estimasi Biaya
1. Kontrak Gedung SDIT / Tahun: Rp. 25.000.000,-
2. Perlengkapan Kursi dan Meja 30 Siswa @ Rp. 400.000,-: Rp. 12.000.000,-
3. Perlengkapan Kantor, Guru, Bea tak terduga: Rp. 10.000.000,-
4. Perlengkapan ATK, Buku Paket 30 Siswa, Alat Peraga, dll: Rp. 8.000.000,-
Total: Rp. 55.000.000,-

C. Personil Sekolah Tahfidz
1. Kepala Sekolah: 1 orang
2. Guru Wali Kelas: 2 orang
3. Guru bid. Studi: 2 orang
4. Guru Tahfidz: 2 orang
5. Tata Usaha dan Perlengkapan: 1 orang
Total: 8 orang

D. Siswa
1. Siswa Kelas I Putra: 15 orang
2. Siswa Kelas I Putri: 15 orang

E. Jam Pelajaran
Senin - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
Sabtu: Tadabbur Alam, Out Bond, Camping, dll
Ahad: Libur

F. In Sya Allah Rencana 5 Tahunan Div. Pendidikan Yayasan As-Sunnah Padang
- 2014: Pendirian TKIT Tahfidz (Alhamdulillah telah berjalan)
- 2015: Pendirian SDIT Tahfidz (Dalam Proses)
- 2016: Pendirian SMPIT Tahfidz
- 2017: Pendirian SMAIT Tahfidz
- 2018: Pendirian As-Sunnah Padang Islamic Centre.
-------------------------
STRUKTUR YAYASAN ASSUNNAH PADANG
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor: AHU-03304.50.10.2014 TANGGAL 2 JULI 2014

PEMBINA:
Ketua : Bpk. Firdaus, (facebook: Alam Sumatera Barat)
Anggota :
1. Ust. Abu Thohir Jones Vendra, LC (Alumnus Univ. Islam Madinah), (facebook: Jones Vendra)
2. Ust.  Abu Faatema Ahmad Daniel, LC, MA ( Alumnus Univ. Islam Madinah), (facebook:  Abu Faatema Ibnu Zubair)
3. Muhammad Arif. S.Pt
4. Rivo Martius

PENGAWAS:
Ketua : Muhammad Subhan, Amd, (facebook:  Muhammad Subhan)
Anggota :
1. Fakri Indra, S.Kom, (facebook: Fachry Indra)
2. Novizardi (Bang Yopi), (facebook: Bang Yopi Nurusy-Syifa)

PENGURUS:
Ketua : Rahmat Ika Syahrial, S.Hi, (facebook: Akhi Salman)
Sekretaris : Yogi Safenly, Amd, (facebook: Yogi Safenly)
Bendahara : Arie Candra de Putra, (facebook: Arie Candra de Putra)

DIVISI:
I. Divisi Dakwah:
Ketua : Harqi Fadilla Maizar, (facebook: Harqi Fadilla Maizar)
Anggota :
1. Dwi Winarno, (facebook: Dwi Winarno)
2. Detfi Yoni, (facebook: Detfi Yoni Putra)

II. DivisiPembangunan:
Ketua : M. Ihsan, S.Farm, Apt
Anggota :
1. Arif Mufti
2. Yuslunal Ulfralum, SE, (facebook: Yuslunal Iframum)

III. Divisi Pendidikan :
Ketua : Abu Shofiyyah
Anggota : Bitval Jemdes

IV. Divisi Dana Usaha:
Ketua : HARI F DAY, SE, Ak, (facebook: Hari FDay)
Anggota : Dian
-------------------------

Link Website:
assunnahpadang.com
sunnahcare.com
-------------------------

Facebook:
Yayasan Assunnah Padang
SunnahCare

Facebook Grup:
Majelis Ta'lim Ibnu Taimiyah Padang
Yayasan As-Sunnah Padang

FanPage:
Yayasan Assunnah Padang
-------------------------

Twitter:
@YayasanAssunnah
@sunnahcare1
-------------------------

Email:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------

Mohon Do'a Serta Kesediaan dan Bantuannya untuk menyebarkan Informasi ini. Jazakumullahu khoiron.

Wassalamu'alaykum.
0 Komentar

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang

Bismillah,

Assalamu'alaykum, Kami dari Yayasan As-Sunnah Padang kembali hadir dalam rangka penggalangan Infaq Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang. Untuk TA 2015/2016

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang:
- 24/10/14: Rp. 0,-
- 23/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah, Medan. 085275399xxx
- 22/10/14: Rp. 50.000,- Hamba Allah.
- 21/10/14: Rp. 123.123,- Hamba Allah, Jakarta.
- 20/10/14: Rp. 0,-
- 19/10/14: Rp. 0,-
- 18/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 17/10/14: Rp. 0,-
- 16/10/14: Rp. 0,-
- 15/10/14: Rp. 0,-
- 14/10/14: Rp. 200.000,- Abu Fadhila, Makassar. 081254201xxx
- 13/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 12/10/14: Rp. 0,-
- 11/10/14: Rp. 0,-
- 10/10/14: Rp. 0,-
Total: Rp. 673.123,-

Kekurangan Dana: 55.000.000 - 673.123= Rp. 54.326.877,-

Rekening Infaq ke:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
Kode Bank: 451
a/n Yayasan As Sunnah Padang
Konfirmasi Donasi ke : 085364575752
-------------------------

Luar Negri Via Western Union ke:
Nama: Rahmat Ika Syahrial
No. KTP: 1371030507830007
Alamat: Jalan Pisang No. 207 Purus Kebun
Kel. Ujung Gurun, Kec. Padang Barat, Kota Padang
Sumatera Barat, Indonesia
Telp: +6285263627094
-------------------------

Via Paypal:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------

Download Proposal Lengkap di:
www.mediafire.com/view/zqoy5t4drjwgxem/PROPOSAL_SDIT_Assunnah_Padang.doc

Setelah melihat perkembangan sejak tahun 2004 - Februari 2014 maka kami sadar akan pentingnya memulai dakwah pada ruang lingkup pendidikan karena begitu besar perannya dalam mendakwahi masyarakat. Dengan anak-anak mereka diberikan pendidikan Islami maka secara perlahan orangtua dan keluarga anak-anak tersebut akan mengetahui dan mengikuti dakwah yang Haq ini.

Oleh karena itu maka kami telah memulai dengan mendirikan TKIT Tahfidz pada bulan Maret - Juni 2014 kemaren, dengan konsep materi mengedepankan Tahfidz Quran dan berusaha memberikan keringanan-keringanan dalam hal bea sekolah seperti kemudahan dalam hal uang masuk, seragam, buku-buku paket, perlengkapan sekolah, spp, dll.

Disamping hal tersebut Alhamdulillah kami Yayasan As-Sunnah Padang telah mendapatkan sebidang tanah wakaf dengan luas sekitar 1.693 M2 di daerah Gunung Pangilun, Padang. Maka untuk menggabungkan semua tujuan diatas kami berencana membangun sebuah Masjid dengan konsep Surau (seperti rumah panggung) dimana Masjid ini diharapkan mempunyai 2 fungsi yakninya sebagai tempat ibadah dilantai atas dan sekolah dilantai bawah. Sebagaimana informasi selama ini yang telah kami sebarkan.

Qaddarullah untuk meniti jalan ke surga penuh duri dan onak begitu juga dengan program pembangunan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Tapi kami yakin dengan niat yang ikhlas, Allah Azza wa Jalla akan membantu perjuangan ini. Sampai saat ini tanggal 9 Oktober 2014 program pembangunan Masjid dan sekolah Tahfidz ini sudah dalam tahap surat menyurat dan perizinan dari pihak terkait.

Melihat kondisi seperti ini maka kami putuskan untuk tetap menjalankan program pendidikan dimana setelah TKIT Tahfidz ini berdiri rencana selanjutnya mendirikan SDIT Tahfidz yang in sya Allah direncanakan tahun 2015 besok sudah bisa beroperasi. Hal ini untuk melanjutkan program dari TKIT As-Sunnah Padang yang sudah berjalan dengan konsep Tahfidz Quran. Untuk itu dibutuhkan persiapan dalam segala hal terutama dalam waktu, tenaga dan biaya. Dalam hal waktu dan tenaga Alhamdulillah kami dari Yayasan As-Sunnah Padang telah menyiapkan. Maka yang kami perlukan sekarang ini adalah dalam hal persiapan biaya. Untuk itu maka kami membutuhkan uluran tangan kita semua untuk mewujudkan pendirian SDIT Tahfidz ini.

Berikut beberapa hal terkait pendirian SDIT Tahfidz ini:

A. Jadwal Rencana Pendirian SDIT Tahfidz
1. Survey Lapangan dan Penyiapan Konsep: 1 Juli 2014 - 30 September 2014
2. Penggalangan Donasi Pendirian SDIT Tahfidz: 10 Oktober 2014 - 31 Desember 2014
3. Kontrak Gedung dan Persiapan: 1 Januari 2015 - 31 Januari 2015
4. Penerimaan Siswa Baru SDIT Tahfidz: 1 Februari 2015 - 5 Juni 2015
5. Mulai Belajar / Tahun Ajaran Baru: Juli 2015

B. Estimasi Biaya
1. Kontrak Gedung SDIT / Tahun: Rp. 25.000.000,-
2. Perlengkapan Kursi dan Meja 30 Siswa @ Rp. 400.000,-: Rp. 12.000.000,-
3. Perlengkapan Kantor, Guru, Bea tak terduga: Rp. 10.000.000,-
4. Perlengkapan ATK, Buku Paket 30 Siswa, Alat Peraga, dll: Rp. 8.000.000,-
Total: Rp. 55.000.000,-

C. Personil Sekolah Tahfidz
1. Kepala Sekolah: 1 orang
2. Guru Wali Kelas: 2 orang
3. Guru bid. Studi: 2 orang
4. Guru Tahfidz: 2 orang
5. Tata Usaha dan Perlengkapan: 1 orang
Total: 8 orang

D. Siswa
1. Siswa Kelas I Putra: 15 orang
2. Siswa Kelas I Putri: 15 orang

E. Jam Pelajaran
Senin - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
Sabtu: Tadabbur Alam, Out Bond, Camping, dll
Ahad: Libur

F. In Sya Allah Rencana 5 Tahunan Div. Pendidikan Yayasan As-Sunnah Padang
- 2014: Pendirian TKIT Tahfidz (Alhamdulillah telah berjalan)
- 2015: Pendirian SDIT Tahfidz (Dalam Proses)
- 2016: Pendirian SMPIT Tahfidz
- 2017: Pendirian SMAIT Tahfidz
- 2018: Pendirian As-Sunnah Padang Islamic Centre.
-------------------------
STRUKTUR YAYASAN ASSUNNAH PADANG
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor: AHU-03304.50.10.2014 TANGGAL 2 JULI 2014

PEMBINA:
Ketua : Bpk. Firdaus, (facebook: Alam Sumatera Barat)
Anggota :
1. Ust. Abu Thohir Jones Vendra, LC (Alumnus Univ. Islam Madinah), (facebook: Jones Vendra)
2. Ust.  Abu Faatema Ahmad Daniel, LC, MA ( Alumnus Univ. Islam Madinah), (facebook:  Abu Faatema Ibnu Zubair)
3. Muhammad Arif. S.Pt
4. Rivo Martius

PENGAWAS:
Ketua : Muhammad Subhan, Amd, (facebook:  Muhammad Subhan)
Anggota :
1. Fakri Indra, S.Kom, (facebook: Fachry Indra)
2. Novizardi (Bang Yopi), (facebook: Bang Yopi Nurusy-Syifa)

PENGURUS:
Ketua : Rahmat Ika Syahrial, S.Hi, (facebook: Akhi Salman)
Sekretaris : Yogi Safenly, Amd, (facebook: Yogi Safenly)
Bendahara : Arie Candra de Putra, (facebook: Arie Candra de Putra)

DIVISI:
I. Divisi Dakwah:
Ketua : Harqi Fadilla Maizar, (facebook: Harqi Fadilla Maizar)
Anggota :
1. Dwi Winarno, (facebook: Dwi Winarno)
2. Detfi Yoni, (facebook: Detfi Yoni Putra)

II. DivisiPembangunan:
Ketua : M. Ihsan, S.Farm, Apt
Anggota :
1. Arif Mufti
2. Yuslunal Ulfralum, SE, (facebook: Yuslunal Iframum)

III. Divisi Pendidikan :
Ketua : Abu Shofiyyah
Anggota : Bitval Jemdes

IV. Divisi Dana Usaha:
Ketua : HARI F DAY, SE, Ak, (facebook: Hari FDay)
Anggota : Dian
-------------------------

Link Website:
assunnahpadang.com
sunnahcare.com
-------------------------

Facebook:
Yayasan Assunnah Padang
SunnahCare

Facebook Grup:
Majelis Ta'lim Ibnu Taimiyah Padang
Yayasan As-Sunnah Padang

FanPage:
Yayasan Assunnah Padang
-------------------------

Twitter:
@YayasanAssunnah
@sunnahcare1
-------------------------

Email:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------

Mohon Do'a Serta Kesediaan dan Bantuannya untuk menyebarkan Informasi ini. Jazakumullahu khoiron.

Wassalamu'alaykum.
0 Komentar

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang

Bismillah,
Assalamu'alaykum, Kami dari Yayasan As-Sunnah Padang kembali hadir dalam rangka penggalangan Infaq Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang. Untuk TA 2015/2016

Laporan Keuangan Pendirian SDIT Tahfidz Yayasan As-Sunnah Padang:
- 22/10/14: Rp. 50.000,- Hamba Allah.
- 21/10/14: Rp. 123.123,- Hamba Allah, Jakarta.
- 20/10/14: Rp. 0,-
- 19/10/14: Rp. 0,-
- 18/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 17/10/14: Rp. 0,-
- 16/10/14: Rp. 0,-
- 15/10/14: Rp. 0,-
- 14/10/14: Rp. 200.000,- Abu Fadhila, Makassar. 081254201xxx
- 13/10/14: Rp. 100.000,- Hamba Allah
- 12/10/14: Rp. 0,-
- 11/10/14: Rp. 0,-
- 10/10/14: Rp. 0,-
Total: Rp. 573.123,-
Kekurangan Dana: 55.000.000 - 573.123= Rp. 54.426.877,-
Rekening Infaq ke:
Bank Syariah Mandiri: 7074953306
Kode Bank: 451
a/n Yayasan As Sunnah Padang
Konfirmasi Donasi ke : 085364575752
-------------------------
Luar Negri Via Western Union ke:
Nama: Rahmat Ika Syahrial
No. KTP: 1371030507830007
Alamat: Jalan Pisang No. 207 Purus Kebun
Kel. Ujung Gurun, Kec. Padang Barat, Kota Padang
Sumatera Barat, Indonesia
Telp: +6285263627094
-------------------------
Via Paypal:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------
Download Proposal Lengkap di:

www.mediafire.com/view/zqoy5t4drjwgxem/PROPOSAL_SDIT_Assunnah_Padang.doc

Setelah melihat perkembangan sejak tahun 2004 - Februari 2014 maka kami sadar akan pentingnya memulai dakwah pada ruang lingkup pendidikan karena begitu besar perannya dalam mendakwahi masyarakat. Dengan anak-anak mereka diberikan pendidikan Islami maka secara perlahan orangtua dan keluarga anak-anak tersebut akan mengetahui dan mengikuti dakwah yang Haq ini.
Oleh karena itu maka kami telah memulai dengan mendirikan TKIT Tahfidz pada bulan Maret - Juni 2014 kemaren, dengan konsep materi mengedepankan Tahfidz Quran dan berusaha memberikan keringanan-keringanan dalam hal bea sekolah seperti kemudahan dalam hal uang masuk, seragam, buku-buku paket, perlengkapan sekolah, spp, dll.
Disamping hal tersebut Alhamdulillah kami Yayasan As-Sunnah Padang telah mendapatkan sebidang tanah wakaf dengan luas sekitar 1.693 M2 di daerah Gunung Pangilun, Padang. Maka untuk menggabungkan semua tujuan diatas kami berencana membangun sebuah Masjid dengan konsep Surau (seperti rumah panggung) dimana Masjid ini diharapkan mempunyai 2 fungsi yakninya sebagai tempat ibadah dilantai atas dan sekolah dilantai bawah. Sebagaimana informasi selama ini yang telah kami sebarkan.
Qaddarullah untuk meniti jalan ke surga penuh duri dan onak begitu juga dengan program pembangunan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Tapi kami yakin dengan niat yang ikhlas, Allah Azza wa Jalla akan membantu perjuangan ini. Sampai saat ini tanggal 9 Oktober 2014 program pembangunan Masjid dan sekolah Tahfidz ini sudah dalam tahap surat menyurat dan perizinan dari pihak terkait.
Melihat kondisi seperti ini maka kami putuskan untuk tetap menjalankan program pendidikan dimana setelah TKIT Tahfidz ini berdiri rencana selanjutnya mendirikan SDIT Tahfidz yang in sya Allah direncanakan tahun 2015 besok sudah bisa beroperasi. Hal ini untuk melanjutkan program dari TKIT As-Sunnah Padang yang sudah berjalan dengan konsep Tahfidz Quran. Untuk itu dibutuhkan persiapan dalam segala hal terutama dalam waktu, tenaga dan biaya. Dalam hal waktu dan tenaga Alhamdulillah kami dari Yayasan As-Sunnah Padang telah menyiapkan. Maka yang kami perlukan sekarang ini adalah dalam hal persiapan biaya. Untuk itu maka kami membutuhkan uluran tangan kita semua untuk mewujudkan pendirian SDIT Tahfidz ini.
Berikut beberapa hal terkait pendirian SDIT Tahfidz ini:
A. Jadwal Rencana Pendirian SDIT Tahfidz
1. Survey Lapangan dan Penyiapan Konsep: 1 Juli 2014 - 30 September 2014
2. Penggalangan Donasi Pendirian SDIT Tahfidz: 10 Oktober 2014 - 31 Desember 2014
3. Kontrak Gedung dan Persiapan: 1 Januari 2015 - 31 Januari 2015
4. Penerimaan Siswa Baru SDIT Tahfidz: 1 Februari 2015 - 5 Juni 2015
5. Mulai Belajar / Tahun Ajaran Baru: Juli 2015

B. Estimasi Biaya
1. Kontrak Gedung SDIT / Tahun: Rp. 25.000.000,-
2. Perlengkapan Kursi dan Meja 30 Siswa @ Rp. 400.000,-: Rp. 12.000.000,-
3. Perlengkapan Kantor, Guru, Bea tak terduga: Rp. 10.000.000,-
4. Perlengkapan ATK, Buku Paket 30 Siswa, Alat Peraga, dll: Rp. 8.000.000,-
Total: Rp. 55.000.000,-

C. Personil Sekolah Tahfidz
1. Kepala Sekolah: 1 orang
2. Guru Wali Kelas: 2 orang
3. Guru bid. Studi: 2 orang
4. Guru Tahfidz: 2 orang
5. Tata Usaha dan Perlengkapan: 1 orang
Total: 8 orang

D. Siswa
1. Siswa Kelas I Putra: 15 orang
2. Siswa Kelas I Putri: 15 orang

E. Jam Pelajaran
Senin - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
Sabtu: Tadabbur Alam, Out Bond, Camping, dll
Ahad: Libur

F. In Sya Allah Rencana 5 Tahunan Div. Pendidikan Yayasan As-Sunnah Padang
- 2014: Pendirian TKIT Tahfidz (Alhamdulillah telah berjalan)
- 2015: Pendirian SDIT Tahfidz (Dalam Proses)
- 2016: Pendirian SMPIT Tahfidz
- 2017: Pendirian SMAIT Tahfidz
- 2018: Pendirian As-Sunnah Padang Islamic Centre.
Link Website:
assunnahpadang.com
sunnahcare.com
-------------------------
Facebook:
Yayasan Assunnah Padang
SunnahCare

Facebook Grup:
Majelis Ta'lim Ibnu Taimiyah Padang
Yayasan As-Sunnah Padang
FanPage:
Yayasan Assunnah Padang
-------------------------
Twitter:
@YayasanAssunnah
@sunnahcare1
-------------------------
Email:
assunnahpadang@gmail.com
-------------------------
Mohon Do'a Serta Kesediaan dan Bantuannya untuk menyebarkan Informasi ini. Jazakumullahu khoiron.
Wassalamu'alaykum.
0 Komentar

Video Terbaik Kamp Pelatihan Mujahidin Suriah Terbaru

Bismillah, Allahu Akbar
Mujahidin Jabha Islamiyyah kembali merilis video pelatihan mujahidin ke dua:


0 Komentar
 
Support : Creating Website | SUNNAHCARE | SUNNAHCARE
Copyright © 2014. Al 'Ilmu Qobla Qauli wal 'Amali - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SUNNAHCARE
Proudly powered by SUNNAHCARE